<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354</id><updated>2012-02-16T20:38:41.746-08:00</updated><title type='text'>Surau Aksara Madani</title><subtitle type='html'>"Sebuah Pondokan yang Diciptakan untuk Mengkaji Anak-anak Kata, Mengupas Cerita dan Memaknainya." (Sukma)</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>34</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-8558420938655772513</id><published>2009-09-07T00:28:00.001-07:00</published><updated>2009-09-07T00:32:49.029-07:00</updated><title type='text'>Sepasang Roh</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sukma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan, seusai seorang lelaki tergopoh-gopoh datang ke rumahku sepagi tadi, selepas subuh bahkan belum pun subuh, ada kabar baru yang biasa aku dengar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wak Diyah meninggal, Pak. Tadi malam jam tengah dua belas.”  “Oh, ya. Nanti saya siapkan semuanya. Nisannya juga ?” ‘Tak usah, biar anak remaja mesjid saja yang urus.”  Lelaki itu segera berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada yang tahu sejak kapan aku mulai suka menanam jenazah. Yang jelas, ketika Abah Syamsul tengah di panggil Tuhan, tiada pula yang setuju diangkat mengganti jabatannya, penggali kubur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga tidak sepakat ketika orang-orang menunjukku akan hal itu. Kebetulan ini mufakat para tetua-tetua kampung. Tak enak hati sekiranya membantah, meski halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tu kemanakan almarhum, tak hendak ada yang layak mengganti almarhum selain kau.” “Aku belum semahir abah, Datuk!” “Setidaknya kau paham dasarnya. Mengenai mahir, itu cuma soal kebiasaan.” Sejak itu aku mulai memanggul jabatan pengganti Abah Syamsul. Tidak ada upacara pengangkatan, tidak pula ada semacam wiritan sekedar mengingat bahwa aku sudah dibaiat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, kemudian aku dikenal orang-orang sebagai penanam jenazah. Sukar diterima akal, sedikit pun saudara-saudara mencoba mengakali hatiku untuk tidak lagi bekerja seperti itu. Tetap saja aku lekas menepis. Meski sebelum tidur, di saat lengang mulai datang rayuan itu mulai pula menggodaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekiranya itu benar, maka apa kata tetua-tetua kalau aku mangkir. Lagian sejenak kurenung-renung, tidak ada pula pengganti abah kalau aku tidak menanam jenazah lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan usik kata orang-orang. Mereka memang bisa berkata begitu. Mereka tu cuma bisa becakap. Nanti kalau mereka mati, tetap kau juga diincar-incar, Mul.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu ucap Datuk Parka. Tidak sekali aku datang ke rumah para Datuk sekedar mengejar nasehat. Sekedar mencari bekal, agar aku makin tegak memacul tanah, mengukir liang dan jenazah itu akan betah tinggal di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi simpang siur soal kabar tak sedap kian berseliweran. Aku dianggap orang yang sama sekali tidak punya kendali untuk mantap mengubur jenazah. Belum pun usai soal gelisahku mengapa tidak mencari kerjaan lain selain itu. Kini bertambah pula ujian baru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak sah si Mul menanam jenazah sodara-sodara kita. Tak kalian pikir, mana hapal dia ayat Qur'an ? Entah pun, tidaknya pula pandai dia mengaji,” kata yang satu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, juga. Kutengok tak pernah dia kumpul-kumpul di surau.” Yang satu lagi tambah becakap. “Usah sibuk kali kalian. Yang penting Datuk Parka sudah tunjuk dia melakukan tugas tu.” Malah yang ini membela pula. Nyaris aku gamang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak semula ini menjadi petaka dalam diriku. Ini pula sebab, kenapa aku berat memikul tugas pengganti Abah Syamsul. Memang menyakitkan bagiku kala gunjingan itu datang menjelma. Selain aku, Mak Nar, istriku sendiri bahkan tidak lagi berani ikut wirit ibu-ibu. Tidak bernyali, hatinya mendengar umpatan ibu-ibu di perwiritan soal kerjaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awak bingung dengan cakap orang-orang, Bang ! Semua cerita soal Abang terus. Sakit kuping mendengarnya,” kata istriku malam ini.&lt;br /&gt;“Kenapa kau dengar cakap orang tu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak awak dengar, terdengar di kuping awak. Macamlah pokoknya !”&lt;br /&gt;Dia makin menggerutu. Aku hanya diam. Sesekali aku menatap foto Abah yang tergantung di ruang tengah. &lt;br /&gt;“Jadi, cemmana bagusnya menurutmu?”&lt;br /&gt;“Awak pun bingung, kalau tidak itu apa pulak kerja Abang. Tidak ada kan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lagian bukan itu saja, Mak. Aku ingat betul pesan Datuk. Nanti tidak ada yang sanggup menggantikan Abang.”&lt;br /&gt;“Itu soal lain, Bang. Apa pernah Abang ucap dengan Datuk soal ini?”&lt;br /&gt;”Sudah .”&lt;br /&gt;“ Lalu ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Datuk hanya bilang agar abang tetap saja seperti sekarang. Tidak bertukar kerja.” Istriku menghela napas berat. Sambil melipat pakaian yang sudah diangkatnya dari jemuran sore tadi. Dia tidak lagi pernah menyambung cerita soal kerjaku sekarang. Pun sekarang dia mulai memasang sikap kosong ketika orang-orang bicara soal kerjaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berselang itu, aku dan Mak Nar tidak lagi ambil pusing. Semua berjalan dengan sendirinya. Termasuk orang-orang yang tidak henti menggunjingkan kami, hingga taulah aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marji, kepala desa yang juga baru dikenal sebagai imam solat di surau itu sebab asal gunjingan tentangku menggema. Marji diam-diam tidak sepakat Datuk menerimaku sebagai pengganti Abah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasalnya, aku dan Abah berjarak sangat jauh. Soal usia, soal pengalaman apa lagi soal alim tidaknya. Memang, jujur saja kuakui, aku tidak setipe dengan Abah. Nyaris tertinggal jauh. Abah sendiri diangkat menjadi penggali jenazah, bukan sekedar urusan dia petani atau tidak. Justru Abah dikenal santun dan beragama. Hanya satu, aku dan Abah memang masih kuasa terhadap adat. Lanjutnya, cerita punya cerita, Marji ada urusan lain selain gunjingan yang ditanamnya pada orang-orang kampung. Entahlah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja ada sebab tentang Mak Nar. Urusan cinta memang tidak bisa dilirik sebelah mata. Mak Nar sempat dicinta oleh Marji semasa muda dulu, tapi itu dulu. Aku sempat bingung juga, ketika Mak Nar menerima pinanganku gara-gara aku dekat dengan Abah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin benar kata tetua-tetua. Gadis-gadis baik akan memilih pria yang dekat dengan para saudara para Datuk, juga keluarga Abah. Sebutan Abah dan Datuk hanya persoalan nama yang diistimewakan. Bukan tentang derajat, namun lebih dari kesiapan adat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang tua di kampung menganggap keluarga para Datuk dan Abah, lebih dekat kepada Tuhan. Tidak tau aku, benar apa tidak. Yang pasti, aku sendiri termasuk yang dekat dengan Abah, tapi tidak terlalu dekat dengan Tuhan. Hanya biasa-biasa saja!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minimal keluarga Datuk tu tak pernah bicara soal yang jahat-jahat. Pastilah, kelak kau akan ajarkan yang baik pula pada anak-anakmu,”  Hanya itu selintas pesan yang pernah kudengar dari istri Abah. Meski tak semua keluarga Datuk dan keluarga Abah baik pula. Sepintas mungkin benar. Setidaknya keluarga baik, pasti akan ganjil melakukan tabiat buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi persoalan lama, Marji menebar isu itu. Tak siap dengan penolakan Mak Nar, hingga kini. Dia pula tak bisa diam. Mungkin sebab itu, dia pasang raut dosa di wajahku agar kelak orang sekampung menudingku yang tidak-tidak. Diharap pula Mak Nar minta cerai dan mau beralih cinta padanya.&lt;br /&gt;Oh, Abah ! Nian hebat ujian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih mematung di depan foto Abah. Bertanya-tanya soal apakah Abah pernah merasa dihujat seperti ini. Meski hanya seorang penggali kubur, begitu besar petaka menimpa. Padahal upah tak seberapa, menahankan deritanya sungguh luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, aku menggigil bukan main. Tubuhku ibarat es batu. Membeku. Tidak ada yang bisa digerakkan kecuali napas dan mataku. Mak Nar panik seketika. Diambilnya air hangat bercampur handuk, kemudian di letak pula pada keningku. Ou, itu juga tidak berhasil mereda kebekuan tubuhku. Padahal tadi pagi, kumandang di surau terdengar pula ada jenazah baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin bangkit. Mak Nar melarang. Bukan karena tidak bisa melainkan aku tak kuasa. Kabar meninggalnya seseorang itu, pasti banyak mengusung para pelayat datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara pintu diketuk. Seorang lelaki tergopoh-gopoh datang ke rumahku. Dia mengajak Mak Nar bercerita. Tentu menyapaku untuk lekas bersiap-siap, soalnya kalau begini orang-orang akan sibuk mendatangiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak Nar duduk di sebelahku. Wajahnya lesu seperti tidak berdarah. Matanya lambat bak siput membeban cangkang. Aku bertanya soal siapa yang meninggal, Mak Nar menjawab. Nadanya lirih seperti tempo hari, dia menolak pinangan Marji. Hambar.&lt;br /&gt;Begitu kosong.&lt;br /&gt;Oh,Tuhan ! Dadaku sesak mendengar jawaban Mak Nar. Aku teringat Abah, teringat Datuk juga teringat Marji.&lt;br /&gt;Ah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 13 Nopember 2008&lt;br /&gt;(Dimuat di Analisa edisi Minggu, 06 September 2009)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-8558420938655772513?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/8558420938655772513/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/09/sepasang-roh.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/8558420938655772513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/8558420938655772513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/09/sepasang-roh.html' title='Sepasang Roh'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-8855608530037751486</id><published>2009-09-04T00:50:00.000-07:00</published><updated>2009-09-04T00:51:09.242-07:00</updated><title type='text'>Istighfar</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sukma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;zikir adalah tangis sepasang bayi kembar &lt;br /&gt;di tengah malam yang lembut &lt;br /&gt;tanpa ibu&lt;br /&gt;tanpa air susu&lt;br /&gt;melukai keheningan tak berdarah&lt;br /&gt;namun menusuk hingga ke dasar doa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kepunyaan semesta&lt;br /&gt;sepanjang jalur asma-Mu&lt;br /&gt;rinai hujan, kelopak batu permata, julur ombak &lt;br /&gt;reranting patah, daun yang menggigil &lt;br /&gt;dengus napas petani yang pontang-panting&lt;br /&gt;adalah gemuruh zikir satu-persatu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;zikir adalah pendar cahaya lampu teplok &lt;br /&gt;yang dipakai seorang bocah &lt;br /&gt;sambil mengais kata-kata &lt;br /&gt;di angka matematika &lt;br /&gt;atau denyut nilai sejarah yang sempoyongan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka, bait-bait surga&lt;br /&gt;seumpama kumpulan kaleng bekas &lt;br /&gt;berisi takbir berwarna rukuk  &lt;br /&gt;pada lantai mesjid atau sajadah-sajadah lusuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sehingga tangis sepasang bayi kembar &lt;br /&gt;malam itu &lt;br /&gt;bukan lagi tanpa ibu&lt;br /&gt;melainkan Tuhanku&lt;br /&gt;lebur dalam zikirku &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Medan, 27 Agustus 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-8855608530037751486?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/8855608530037751486/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/09/istighfar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/8855608530037751486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/8855608530037751486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/09/istighfar.html' title='Istighfar'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-8551639950916452746</id><published>2009-09-04T00:47:00.000-07:00</published><updated>2009-09-04T00:48:08.254-07:00</updated><title type='text'>sekumpulan camar terbang rendah</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;sukma&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;antara asin air laut dan angin yang berarak &lt;br /&gt;kutemukan sekumpulan camar terbang rendah membelah riak ombak &lt;br /&gt;berbasah pasir yang rapuh diterjang waktu&lt;br /&gt;namun masih ada senja yang bisa kubelah &lt;br /&gt;kuukir namamu di sana&lt;br /&gt;meski tidak tau apakah senja itu sudah terlalu lama untukmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi yang pasti,&lt;br /&gt;pada sekumpulan camar yang terbang rendah &lt;br /&gt;teringat aku pada gelombang anak rambutmu &lt;br /&gt;yang dibelai-belai &lt;br /&gt;padahal waktu itu, kita hanya sesekali melepas pandang &lt;br /&gt;tak lama setelahnya kau larut ditelan riuh ombak &lt;br /&gt;dan kini, hal itu sedari tadi kutunggu &lt;br /&gt;menjala senyummu &lt;br /&gt;lalu kubalas dengan sebungkus senja &lt;br /&gt;yang telah kuiris-iris untuk lekas kau bawa pulang &lt;br /&gt;setelahnya, malam nanti tidurmu tidak akan pernah nyenyak &lt;br /&gt;sebab irisan senja itu akan setia melimbungkan namaku &lt;br /&gt;tepat setelah sekumpulan camar itu &lt;br /&gt;terbang rendah pada laut hatimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;pantai perjuangan, juni 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-8551639950916452746?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/8551639950916452746/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/09/sekumpulan-camar-terbang-rendah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/8551639950916452746'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/8551639950916452746'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/09/sekumpulan-camar-terbang-rendah.html' title='sekumpulan camar terbang rendah'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-6531138908714760511</id><published>2009-09-04T00:43:00.000-07:00</published><updated>2009-09-04T00:46:41.030-07:00</updated><title type='text'>Puing-puing Azan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh : Sukma &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;telah pecah puing-puing azan &lt;br /&gt;berserakan di lantai masjid yang agung &lt;br /&gt;namun kolong-kolong shaf &lt;br /&gt;masih juga sepi &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Medan, Juni 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-6531138908714760511?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/6531138908714760511/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/09/puing-puing-azan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/6531138908714760511'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/6531138908714760511'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/09/puing-puing-azan.html' title='Puing-puing Azan'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-7910740246612282462</id><published>2009-07-09T06:52:00.000-07:00</published><updated>2009-07-09T07:11:13.986-07:00</updated><title type='text'>Nyali Berpuisi diuji Lagi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sukma &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermain-main dengan kata umpama menikmati kolak dingin yang menggigil. Beku. Apalagi disantap kala musim panas tiba juga saat haus meradang. Bukan, bukan itu. Tapi yang pas ibarat makan kurma ketika buka puasa. Ya...juga kurang tepat! Yang cocok mungkin santapan siang saat lapar-laparnya ditraktir teman kerja. Yah, itu lebih mungkin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun menurut saya, mengais kata-kata yang biasa kemudian mengubahnya menjadi rangkain cerita atau embel-embel tulisan yang apik (kalau salah seorang teman saya bilang, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kata yang dibuang sayang, diberi ke orang lain juga takut&lt;/span&gt;) maka ini yang saya sebut sebagai sebuah kenikmatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun namanya justru itu tidak penting dipusingkan menurut saya. Karena bisa jadi sesuatu yang saya anggap nikmat pastilah tak sama nikmat dengan kenikmatan yang dirasakan oranglain, begitupun sebaliknya. Kolak dingin, kurma, dan ditraktir makan siang di kala lapar adalah sebagi bonus yang dapat kita dirasakan. Itulah perumpamaan yang bisa saya ungkap seputar keasyikan merangkai kata-kata yang berserakan tepat di laci pikiran kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, inilah kata-kata itu. Yang minggu lalu dalam kelas menulis fiksi FLP Sumut disajikan dalam menu, yang sebenarnya, tidak jauh beda lantas didesain sedikit dengan kemasan yang tidak mengurangi cita rasanya. Kata-kata itu ialah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;riak, buih, baju, kristal, peri, luka, gemerlap, rumah, cumbu dan darah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Adegan Uji Nyali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tentulah siapa saja sepakat bahwa sepuluh kata tersebut bukan kata-kata istimewa. Justru kita teramat sering mendengarnya dalam hidup keseharian ini. Kata-kata itu dibagi ke tiap orang satu persatu. Kemudian dirangkai menjadi sebuah sajak yang lepas, lewat kata-kata yang sepuluh itu diputar untuk melewati setiap anggota dan menjadilah kata-kata tersebut digubah sesuai keinginan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tantangan ! &lt;br /&gt;Saya suka dengan ucapan itu. Melewati tantangan kadang membuat saya begitu ambisi. Maka pusing, bingung, panik kalau-kalau kata tersebut entah jadi apa nantinya. Namun saya tetap yakin, teman-teman yang lain juga tetap yakin tentang mau jadi apa tulisan itu, berwujud apa dia, entah pun tidak berkelamin, maka sama sekali tidak pernah terpikirkan oleh saya dan teman-teman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk sebuah proses kreatif, tidak penting hasil yang berwujud. Jauh lebih kepada keberanian mengobok-ngobok, mendesain, menata, bahkan menghias kata-kata mentah yang dilempar menjadi semacam hiasan dinding untuk di tempel ke hati khalayak pembaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Karya-karya Mutakhir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dan terkaan tentang itu semua menurut saya sama sekali keliru. Termasuk pada diri saya sendiri. Kebebasan berekspresi yang dilepaskan dalam anak-anak kata yang menjadi bagian terkhusyuk saat games ini dimainkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada racikan kata yang mutakhir dalam kesempatan tersebut. Racikan itu memberikan aroma yang mengulik hidung saya untuk mendengus dan memberikan rasa lapar di lambung benak saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, coba lihat saja karya Nurul Zee dengan judulnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Padamu Jua&lt;/span&gt;. Kata-kata mutakhir yang sempat cek-cok saya rasakan diawali dengan lead yang memukau. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Terlihat gemerlapmu di sudut malam/Lupakah kau pada rumah penuh kasih itu ? Ada riak-riak bahagia antara kita di sana/Aku tau tak mudah sembuhkan luka ...&lt;/span&gt;Meski lirih tapi itu cukup mengulik rasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bejana Buih Tangis dalam Genggaman&lt;/span&gt; ialah potongan dari sajaknya Sitha Muriani juga memberi efek tanya yang tak henti. Bejana buih yang mana yang bisa menangis ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun denyut-denyut kearifan tuhan muncul sepintas dalam sajak Eka Dyah yang berkecipak ilahiah di dalamnya. Karena &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Gemerlap Tasbih Jiwa&lt;/span&gt;-nya seolah memberi isyarat bahwa apa saja yang terasa dan terjadi adalah sekumpulan anak-anak resah untuk dimuarakan pada satu titik bernama m&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ushaf putih.&lt;/span&gt; Yang mungkin kelak esok hari kita makin sering melupakannya. Kurang lebih begitu Eka Dyah menuturkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hawa kedamaiaan, kerinduan pada ilalang sepi, kepasrahaan serta kasih sayang untuk pulang dan mengabdi begitu jelas diombang-ambing para penyair dalam sajak-sajak kreasi mereka. Seperti MN. Fadhli dalam sajaknya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Di Gerbang Penantian&lt;/span&gt;. Penyair Selvi Rani, yang lebih berbisik kepada simbol-simbol benda hidup umpama nadi-nadii kehidupan yang bergerak lewat aktifitas manusia secara utuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun keresahan, rasa tidak berdaya, serta keharusan untuk mendermakan diri kepada titik dimana kita telah menghabiskan banyak masa, banyak waktu untuk sejatinya kembali kita hadirkan ke masa depan. Yaitu Annisa HD kerap bermain-main dengan pengharapan seperti itu. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku masih ragu bercumbu dengan perasaan ini/Masih tak banyak baju yang kukenakan/Kusam/Mungkin harus mengkristalkan diri/Mengendapkan sampai satu purnama lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terbilang unik, juga tampak asing, ketika Chairani—seorang guru asal SMA Dharmawangsa—menjelmakan kata-kata itu menjadi sajak yang ranum bagi saya. Sajak yang tak cukup mewakili hasrat seorang guru yang tengah belajar mengukir kata. Inilah sajak yang terbit dari kemurnian rasa sebab kadang kala, sadar atau tidak, keingginan yang bergejolak itu sering kali menghilirkan denting-denting kelembutan pada apa saja yang kita sebut sebagai kepolosan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tak ada lagi gelombang di laut mati/Walau angin menghembus pedih/Riak pun tak tampak lagi/Hanya darah yang berserak/Membenam di kegelapan.../&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kucicip luka kemarin.../,&lt;/span&gt; tentu menjadi lead yang menghentak dari sajak Silfa Humairah. Apalagi ketika Silfa tetap mengambil jalur penyair yang setia bergerilya pada lead dan ending-ending yang terkadang menjebak. Ditambah lagi ketika pertengahan sajak, Silfa berani mengatur irama tulisan lebih bergerak, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sudahlah../Bukannya hidup memang mencerna buih/Sesekali bercumbu masa lalu/Menapaki masa depan.../&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mantap ! Mencerna buih sebagai sebuah pemaknaan dalam menggapai hakikat kehidupan bagi kita. Bagi saya, ini patut kita pikirkan masak-masak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sayap-sayapnya&lt;/span&gt; bikinan Intan HS sudah mengajak kita untuk tidak tanggung-tanggung terbang mengangkasa tanpa jejak, tanpa batas. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Entah berapa kali ia menukik/Atau kadang merosot terlalu jauh/Langkahku juga terasa di atas buih/Pada tanah yang terhentak sebelum mimpi habis/belum lagi selesai .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara puisi saya yang terakhir berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Darahmu, Darahku&lt;/span&gt; malah memberikan keterkejutan ketika dibaca di depan rekan-rekan yang lain. Hmm, mungkin itulah puisi terpanjang hari itu. Dan begitupun, saya tetap menggangap bahwa kekuatan penulis kadangkala akan tampak dan muncul saat nyali kepenulisan itu kian ditantang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, untuk selanjutnya mari kita saling menantang. Supaya terasah nyali menulis kita. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Selamat membaca !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 6 Juli 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-7910740246612282462?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/7910740246612282462/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/07/nyali-berpuisi-diuji-lagi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/7910740246612282462'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/7910740246612282462'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/07/nyali-berpuisi-diuji-lagi.html' title='Nyali Berpuisi diuji Lagi'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-7216897565357295171</id><published>2009-07-09T06:42:00.001-07:00</published><updated>2009-07-09T06:50:48.567-07:00</updated><title type='text'>Parade Puisi Kelas Fiksi 5 Juli</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Padamu Malam &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nurul Zee &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat gemerlapmu di sudut malam &lt;br /&gt;Lupakah kau pada rumah penuh kasih itu ?&lt;br /&gt;Ada riak-riak bahagia antara kita di sana&lt;br /&gt;Aku tau tak mudah sembuhkan luka &lt;br /&gt;yang masih berdarah&lt;br /&gt;Bahkan kurasa buih-buih di lautan tobat menghilangkannya&lt;br /&gt;Seperti bercumbu dengan malaikat maut&lt;br /&gt;yang memakai baju compang-camping &lt;br /&gt;butir-butir air mata yang mengkristal tak berarti lagi&lt;br /&gt;Hanya menunggu peri bahagia &lt;br /&gt;Memutar tongkat ajaibnya padamu&lt;br /&gt;Maka sembuhlah luka itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah CAHAYA-Sumut, 5 April 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Duka Peri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sitha Muriani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, peri yang ditagihi sejuta pinta&lt;br /&gt;menghadirkan luka pada kepak sayapnya &lt;br /&gt;gemerlap yang sembuh dari tongkat mini &lt;br /&gt;derit pintu rumah ingin kuak misteri&lt;br /&gt;dimana riak embun menghantui pagi&lt;br /&gt;silet nadinya berpencar darah&lt;br /&gt;bejana buih tangis dalam genggaman&lt;br /&gt;ingin kucumbu, kecuo irismu&lt;br /&gt;dimana nada baju penat coklat bau dusta&lt;br /&gt;pada siapa denting kristal ini kukirim dan kubagi ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah CAHAYA-Sumut, 5 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Gemerlap Tasbih Jiwa &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Eka Dyah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bilik rumahku diamuk gelombang&lt;br /&gt;Meriak dalam sujud panjang&lt;br /&gt;Menghempas tarian-tarian darah di petangnya malam&lt;br /&gt;dan buih-buih resah pun terlantun sudah &lt;br /&gt;Bercumbu dengan keping-keping cinta dari sayap terindah &lt;br /&gt;Berbaju sunyi tak kenal letih &lt;br /&gt;Pelan mengkristal di mushaf putih &lt;br /&gt;Penuh peri yang sibuk mengias terali asma-Nya&lt;br /&gt;Hamparan luka pun terasa sempurna&lt;br /&gt;Dalam gemerlap tasbih jiwa &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah CAHAYA-Sumut, 5 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Di Gerbang Penantian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;MN. Fadhli &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulempar pandang pada buih di jauh sana&lt;br /&gt;yang tak lekang bercumbu pada samudera&lt;br /&gt;Kurasakan bajuku pun seperti putihnya nyaliku saat ini &lt;br /&gt;Sungguh, kini kristal angkuhku kian pecah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bibir pantai ini kurasakan dekapan peri maut yang kian lekat &lt;br /&gt;Yang tersisa hanya luka&lt;br /&gt;Ya, luka yang kerap kutoreh&lt;br /&gt;Diuntaian gemerlapnya fatamorgana dunia &lt;br /&gt;Oh,&lt;br /&gt;Ingin rasanya kupulang ke rumah kedamaian &lt;br /&gt;Yang sunyi dari riak kenistaan, riak tak bertuan&lt;br /&gt;Sedetik lagi darahku kan beku&lt;br /&gt;Lantai pecah bersama buih itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah CAHAYA-Sumut, 5 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tentang Kau &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Selvi Rani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusaksikan waktu &lt;br /&gt;Mengkristal di bahumu&lt;br /&gt;Juga peri&lt;br /&gt;Yang menari di titik-titik&lt;br /&gt;Matamu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka untukmu,&lt;br /&gt;Luka cuma cerita  &lt;br /&gt;Tak perlu lah  ia &lt;br /&gt;Menyinggah telinga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kutau, &lt;br /&gt;Jari-jarimu kian lincah saja&lt;br /&gt;Menata gemerlap&lt;br /&gt;Lalu kau sandingkan di dinding-dinding rumah kita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika angin &lt;br /&gt;Mulai meriak&lt;br /&gt;Kau bungkam ia dengan segala rupa&lt;br /&gt;Sekalipun payah&lt;br /&gt;Sekalipun berdarah&lt;br /&gt;Hingga ia hanya mampu mengarak buih&lt;br /&gt;Sudah itu menyerpih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku cuma bisa mencumbu bayangmu&lt;br /&gt;Yang masih tersimpan dalam baju itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah CAHAYA-Sumut, 5 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rangkaian Perjalanan Hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Annisa HD&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ragu bercumbu dengan perasaan ini&lt;br /&gt;Masih tak banyak baju yang kukenakan&lt;br /&gt;Kusam&lt;br /&gt;Mungkin harus mengkristalkan diri&lt;br /&gt;Mengendapkan sampai satu purnama lagi&lt;br /&gt;Tak harus beribu peri meyakinkan &lt;br /&gt;Tak harus satu gores luka lagi yang harus &lt;br /&gt;kudapati maknanya&lt;br /&gt;Pun untuk menggemerlapkan bingkai di ruang-ruang kosong&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya akan singgah di rumah terakhir&lt;br /&gt;Menunggu dan menunggu riak menepi&lt;br /&gt;Mencari bagian-bagian yang akan ditempati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga gumpalan hati yang mendarat dulu&lt;br /&gt;Kembali menjadi asalnya buih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah CAHAYA-Sumut, 5 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mimpi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Chairani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada lagi gelombang di laut mati&lt;br /&gt;walau angin menghembus pedih&lt;br /&gt;riak pun tak tampak lagi&lt;br /&gt;hanya darah yang berserak&lt;br /&gt;membenam di kegelapan&lt;br /&gt;buih mulai membentuk warna merah &lt;br /&gt;bercumbu dengan bibir pantai &lt;br /&gt;menyapa kegalauan hati &lt;br /&gt;baju putih yang kukenakan terhempas buih&lt;br /&gt;kristal di air mataku berubah merah&lt;br /&gt;penuh riak kepedihan&lt;br /&gt;datanglah peri memberi janji&lt;br /&gt;menghapus buih merah penuh darah&lt;br /&gt;dalam gemerlap gelombang lautan&lt;br /&gt;kembaliku ke rumah kedukaan &lt;br /&gt;kuharap ilusi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah CAHAYA-Sumut, 5 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jangan Galau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Silfa Humairah &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kucicip luka kemarin&lt;br /&gt;Yang punya gemerlap di ruang gelap &lt;br /&gt;Rumah tua tanpa taman&lt;br /&gt;Tanpa bunga bersenandung riak&lt;br /&gt;Jadi kisah berdarah&lt;br /&gt;Sudahlah...&lt;br /&gt;Bukannya hidup memang mencerna buih&lt;br /&gt;Sesekali bercumbu masa lalu&lt;br /&gt;Menapaki masa depan&lt;br /&gt;Baju seragam bagi setiap manusia&lt;br /&gt;Menyambut kristal kehidupan di puncak &lt;br /&gt;Kau bukan peri yang harus selalu riang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah CAHAYA-Sumut, 5 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Sayap-sayapnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Intan HS&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa kali ia menukik&lt;br /&gt;Atau kadang merosot terlalu jauh&lt;br /&gt;Langkahku juga terasa di atas buih&lt;br /&gt;Pada tanah yang terhentak sebelum mimpi habis&lt;br /&gt;belum lagi selesai &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah berapa kali ia hampir padam&lt;br /&gt;Hilang terang dalam gemerlap bintang&lt;br /&gt;Terasing di kala pagi masih bersembunyi &lt;br /&gt;Sampai embun mengikis nadi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riak yang ia gambar&lt;br /&gt;Seiring awan berarak-arak &lt;br /&gt;Telah mengendap &lt;br /&gt;Tinggal retak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah CAHAYA-Sumut, 5 Juli 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Darahku, Darahmu &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sukma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah darahmu aku cuci &lt;br /&gt;pada benda hitam bernama tasbih&lt;br /&gt;diantara sela-sela waktu&lt;br /&gt;meski terus membulir dari sisik hatiku&lt;br /&gt;mana lah bisa kusimpan semua itu&lt;br /&gt;jujur, aku tak bisa melakukannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mungkin karena terlalu sering &lt;br /&gt;aku dicumbu angin&lt;br /&gt;yang tiap sore kita singgahi&lt;br /&gt;kulihat rambutmu bergerai pasrah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ya, sungguh aku tidak sanggup&lt;br /&gt;mencuci darahmu dengan tasbihku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;walau sudah tidak sekali dua kali&lt;br /&gt;dalam satu baju ada kutemui &lt;br /&gt;namamu, namanya&lt;br /&gt;terkunci rapi bersemai mawar warna-warni&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ahai, &lt;br /&gt;bening matanya umpama kristal yang pecah&lt;br /&gt;ketika darah itu semakin aku cuci&lt;br /&gt;semakin aku tak mengerti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sementara lain kali &lt;br /&gt;aku memandang alisnya yang beranak &lt;br /&gt;itulah peri yang menari&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka, sepantas apa dia bersanding di hatiku ?&lt;br /&gt;jawabnya, sepantas itu luka mengembalikan air mata &lt;br /&gt;yang merah-merekah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;setelah darahmu aku cuci &lt;br /&gt;setelahnya lukaku terbit lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanya lampu-lampu gemerlap &lt;br /&gt;di bibir rumahmu &lt;br /&gt;yang kerap menemani hampa &lt;br /&gt;ruang kosong hatiku&lt;br /&gt;cuma itu !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;walau kutau&lt;br /&gt;semakin aku tunggu wajahmu&lt;br /&gt;semakin aku nanti wajahnya&lt;br /&gt;tetap saja riak darahmu&lt;br /&gt;riak darahku&lt;br /&gt;sepertinya sudah pun membeku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah CAHAYA-Sumut, 5 Juli 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-7216897565357295171?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/7216897565357295171/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/07/parade-puisi-kelas-fiksi-5-juli.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/7216897565357295171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/7216897565357295171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/07/parade-puisi-kelas-fiksi-5-juli.html' title='Parade Puisi Kelas Fiksi 5 Juli'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-8827689649147460228</id><published>2009-07-08T08:13:00.000-07:00</published><updated>2009-07-08T08:19:34.646-07:00</updated><title type='text'>Kembali Pulang 2</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SlS4ivD1EkI/AAAAAAAAADw/mJSDYSh-2oo/s1600-h/Landscape+070.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 256px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SlS4ivD1EkI/AAAAAAAAADw/mJSDYSh-2oo/s320/Landscape+070.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5356108763737952834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh : Sukma &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepagi tadi, seisi rumah terlihat benar-benar diguyur panik. Adik perempuan saya yang biasanya berleha-leha di tempat tidurnya seketika bangkit dan  melonjak saat membaca isi ponselnya yang berisi tentang kabar tak mengenakkan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mak, aku baru dapat sms dari Wak Ipo. Bukde Lina sudah meninggal jam enam tadi !” Suara adikku memburu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun !! Sambil mengelus dada emak terdengar beberapa kali mengucapkan kata-kata itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun adikku yang lelaki, abangku_kala itu ia masih tidur_ juga si bapak yang tengah menyapu halaman terdengar sedikit gaduh. Mungkin terkejut. Pasalnya malam tadi, mak dan bapak menjenguk kabar derita bukde kami itu di rumah sakit berjarak tidak jauh dari rumah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jujur saja, saya yang pagi ini tengah asyik nongkrong_dalam renungan yang panjang_ di toilet, sepintas terganggu pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Meninggal ? Sudah saatnya kah?” Kata saya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, memang  dari sekian orang-orang yang ada di dalam rumah hanya saya-lah yang terbilang cuek. Tidak gusar sedikit pun. Emak terlihat terus saja mengelap air matanya yang tak kunjung usai. Sesenggukan. Bapak mengambil handphone, bersihendak mengabari sanak famili nun jauh di kampung. Sama pula dengan adik dan abangku, sudah langsung mandi, berbusana dan berpeci kemudian menggilir pesan kematian itu ke tetangga-tetangga terdekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sibuk. Nyaris melupakan sarapan pagi saya, yang umumnya, sudah harus terhidang di meja makan. Adik saya yang perempuan juga bergegas. Menjemur pakaian, menyapu ruang depan hingga menyetrika jilbab yang hendak dipakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi saya tetap mengacungkan tampang cuek. Saya malah asyik menyemir sepatu. Mengemasi buku-buku dalam tas kemudian menyalakan televisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah  mengapa saya tidak merasa penting dengan berita kematian itu. Saya tidak merasa itu hal yang ajaib. Karena menurut saya mati dan hidup adalah hal biasa. Orang-orang menangisi jenazah yang sudah tiada adalah hal yang sudah umum. Lalu, apa yang hendak dihebohkan dengan kejadian itu ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga merasa bahwa sanak famili yang jauh pasti sudah ada yang mengabari, bilal mayit, penggali kubur serta Wak Dullah, pemuka agama di desaku yang biasa mengumumkan berita kematian di Toa Mesjid, pun pasti sebentar lagi akan berkumandang menghalo-halokan perihal berita itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sekali lagi, apa sebenarnya yang mesti saya repotkan ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara tetangga-tetangga, kaum ibu dan bapak, beberapa tampak pula anak muda mulai berduyun menuju rumah almarhumah bukde saya. Mereka berbusana begitu rapi. Ada juga yang bertampang necis. Jilbab penuh kemeriahan. Juga ada yang saya lihat seperti hendak pergi berhari raya saja. Rapi nian. Sungguh, kejadian pagi ini benar-benar mengherankan bagi saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang, mak juga mulai berteriak-teriak, menyuruh adik saya yang perempuan untuk lekas menjerang air, menggoreng telur hingga bermata sapi untuk sarapan pagi ini. Si abang juga disuruh-suruh supaya lekas mengeluarkan sepeda motornya. Cuma saya yang tidak disuruh emak. Mungkin karena emak sungkan. &lt;br /&gt;Karena sepagi itu pasti saya sudah berdandan rapi, kemeja licin, celana bersih dan sepatu mengkilap ialah tanda bahwa saya telah siap untuk menerjang rezeki. Biasanya, kalau pagi mulai tiba tabiat saya memang begitu. Lekas mandi, berseragam rapi, menyetel tivi seraya menunggu sarapan pagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kalau sarapan pagi tak kunjung tiba selanjutnya saya akan pergi sendiri ke pajak pagi untuk membelinya disana. Egois !! Kata adik saya begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ada benarnya. Namun, saya memang tidak pernah merasa begitu. Hari-hari saya selalu membuat saya nyaris tidak punya banyak waktu bahkan sering kehilangan waktu. Bukan pada persoalan manajemen waktunya tapi lebih kepada aktifitas yang jumlahnya tidak sebanding. Kadang rencana seabreg yang saya miliki belakangan sering menjelma duri yang teramat tajam. Kadang pula ibarat gua yang menakutkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, memikir hari-hari itu jauh lebih menakutkan bagi saya ketimbang mendengar berita kematian pagi ini. Mungkin memang saya tipikal orang yang tak sembarang berkawan, terlalu suka menghabiskan waktu di luar, tidak terlalu peduli ke sanak famili hingga membuat saya tidak merasa begitu dekat dengan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, jauh sebelum-sebelumnya ketika banyak teman-teman SD saya yang sudah naik pelaminan kemudian mengundang saya pada resepsinya itu, saya justru sama sekali tidak berhasrat datang ke pesta itu, apalagi arisan-arisan keluarga, acara wiritan tetangga sampai peringatan hari-hari besar islam di mesjid ujung, pun jarang jua saya ikuti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sama sekali tidak mengerti. Kenapa saya bisa sebegini egois, sebegini cuek. Padahal dulu-dulunya tidaklah saya separah ini. Apa mungkin karena aktifitas kota tengah meleburkan saya pada kegiatan-kegiatan seperti ini ? Mungkinkah saya sudah terlalu jauh masuk ke dalam kehidupan modern yang membuat saya lupa dengan aktifitas tradisionil, tempat saya dulu dilahirkan ?&lt;br /&gt;Apa juga karena saya terus digilakan dengan semua kecintaan pada hal yang sebenarnya justru (menjauhkan) saya dari nilai-nilai kehidupan ? Atau yang ekstrimnya, apakah saya sudah tidak lagi ingat perihal etika ketuhanan sebagai manusia yang punya hubungan horizontal ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh.., saya benar-benar tidak mengerti !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampang-tampang sedih yang muncul pagi ini di rumah sebenarnya adalah simbol bahwa di rumah ini masih menganut jauh tentang apa yang disebut falsafah mati dan hidup. Hal yang kini terlalu sering saya khianati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil ketika emak mengusung ide agar hari ini saya di rumah saja, tidak usah masuk kerja dan musti hadir diacara pemakaman almarhumah bukde saya itu, maka sesungguhnya itu permintaan yang teramat sulit bagi saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebagai seorang penulis justru kondisi ini menantang saya. Membuat saya harus mampu menciptakan alur cerita yang baru, adegan-adegan yang fantastis dan ending yang mutakhir dalam tiap cerpen yang kelak saya ciptakan. Hanya saja, yang paling payah saai ini, saya sendirilah tokoh utamanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang sesekali saya harus belajar mengorbankan semua rencana-rencana yang tadi malam tengah saya susun. Saya juga harus belajar bagaimana masuk dn mencitpakan sebuah cerita dengan dilatari adegan-adegan pemakaman yang nyata,  yang itulah sebentar lagi akan saya kunjungi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar dugaan saya !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat saya dalam suasana kematian yang hening itu, isak tangis kaum pentakziah pelan-pelan menjadi alunan keroncong tanpa nada begitu sepi, wajah-wajah lengang yang membatu, doa dan ayat-ayat yang diterbangkan, serta kain kafan, tempat pemandian dan keranda yang tengah dipersiapkan setidaknya menghipnotis saya untuk tidak bisa banyak bicara. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya benar-benar lupa dengan pekerjaan di kantor, saya sudah tidak ingat tentang janji dengan para peserta “workshop menulis” yang saya gelar beberapa hari lalu, saya sama sekali khusyuk dalam riuh aroma daun pandan dan kapur barus yang berkali-kali ditaburkan si bilal ke dalam tempayan tempat pemandian si mayit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi herannya, justru semakin saya khusyuk, semakin terasa bahwa dada saya berdenyut sesak. Tidak tau mengapa. Saya mencoba menukik ke dalam hati, benak dan emosi saya. Menemukan suatu yang membuat saya tidak habis pikir. Kenapa saya tidak kunjung sedih ? Kenapa saya tetap merasa ini biasa-biasa saja? Dan menangis, tetap saya rasakan sebagai sebuah ketololan saat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isak tangis terus menghilir dari pipi anak-anak alamarhumah bukde saya itu. Bahkan anaknya yang perempuan hingga siang itu saya hadir, tidak kunjung bangun dari pingsannya. Sementara saya tetap cuek-cuek saja. Tidak ada perasaan apapun !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terus mencari dari kejadian hari ini yang bisa saya kutip pelajaran, ide, pemaknaan, pengetahuan dan rasa kemanusiaan untuk kemudian terjadi internalisasi dalam diri dan segenap tulisan-tulisan saya. Tapi, lagi-lagi saya tidak lihai menemukan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan yang cukup kikuk, saya masih saja sendirian. Berharap aliran cerita berubah wujud menjadi kisah yang bisa saya tulis sepulang nanti. Namun tetap saja saya terus dikepung bingung, bingung hendak melakukan apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun takut salah bicara. Apalagi memang tidak ada bahan pembicaraan yang bisa saya ungkapkan pada orang-orang di sekitar saya. Saya juga tidak mau terlihat sok sibuk, sok pura-pura membantu. Seperti mengangkat kursi-lah, membentang tenda, memasang kabel microphone atau mengatur parkir-lah. Karena saya tau, itu semua sudah dikerjakan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Palingan, yang bisa saya lakukan waktu itu yakni mendekati Dian, anak  almarhumah bukde saya yang paling besar. Wajahnya sangat kecut. Beberapa kali matanya terus melinangkan air. Sedu-sedannya jelas terlihat. Sebenarnya saya sangat ingin merangkul pundaknya seraya mengatakan, Sabar, ya ! Allah tau yang terbaik buat hambanya. Namun, kata-kata itu juga tidak berani saya ucapkan. Saya hanya diam saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berselang kemudian, Dian beranjak. Kursi di sebelah saya kini kosong. Dari kejauhan bapak saya yang sedari pagi sudah berada di rumah duka ini kini duduk di bangku itu tepat di sebelah saya. Padah kalau bapak tidak mengarah ke bangku ini, saya sudah berniat ingin pulang saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kapan dikebumikan, Pak ?” Tanya saya   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Berharapnya sih sebelum zhuhur. Tapi sepertinya bakal dikebumikan setelah zhuhur juga,” jawab bapak saya sederhana. “Masih di sini kan sampai selesai ?” Tanya bapak saya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa, Pak ? Apa masih banyak yang harus dikerjakan ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan ! Tadi pakdemu cerita sama Bapak kalau di rumah ini anak-anaknya, termasuk si Dian tidak ada yang bisa menyolatkan bukdemu itu. Bapak rencananya nyuruh kamu. Bisa kan ? Jadi jangan pulang dulu, ya !” Kata bapak dengan suara pelan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduh !!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika saya terkejut bukan main. Tapi biarlah, kini sepertinya ide tulisan saya sudah ketemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 27 Mei 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-8827689649147460228?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/8827689649147460228/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/07/kembali-pulang-2.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/8827689649147460228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/8827689649147460228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/07/kembali-pulang-2.html' title='Kembali Pulang 2'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SlS4ivD1EkI/AAAAAAAAADw/mJSDYSh-2oo/s72-c/Landscape+070.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-1202999243668725235</id><published>2009-07-08T08:07:00.001-07:00</published><updated>2009-07-08T08:10:53.233-07:00</updated><title type='text'>Bahrun dan Kinan</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sukma &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas V-A pagi ini sudah terlihat riuh. Anak-anak saling beradu sorak. Ada yang teriak, ada yang menjerit, ada pula yang ha-hi-hu. Mereka meneriaki Bahrun dan Kinan yang saling ejek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kau yang sok paten !” Kata Bahrun lantang&lt;br /&gt; “Kan kamu duluan. Kenapa mengejek papaku, hah ?!” Kinan juga tak mau kalah&lt;br /&gt; “Habisnya, kenapa sepedaku kamu jatuhkan tadi di parkiran ?!”&lt;br /&gt; “Bukan aku yang melakukannya. Kamu aja yang asal tuduh. Uh, dasar Bahrun gendut, jelek, Wekk..!!” Kinan makin mengejek&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sorak anak-anak yang lain makin bertambah pula. Anak perempuan berseteru memojokkan Bahrun. Begitupun sebaliknya, anak lelaki tak mau kalah dengan ejekan dari Kinan dan anak perempuan lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Hei, jangan sombong kamu. Mentang-mentang sepedamu lebih bagus dari punyaku, iya ? Awas, nanti kubalas kamu !!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tidak lama berselang. Anak-anak yang lain tampak sibuk kembali ke bangku mereka masing-masing. Soalnya, bu guru Murni sudah ada di depan pintu seraya berkacak pinggang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kinan...Bahrun...ada apa ini ? Pagi-pagi kok sudah bertengkar,” suara bu guru Murni meninggi. Seisi kelas kini tampak lengang. “Kalian juga, sudah tau teman bertengkar bukannya melerai. Eh, malah ikut-ikutan.” Sambil bicara begitu, mata bu guru Murni tampak mendelik pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sehabis itu, Kinan dan Bahrun di suruh ke depan untuk menjelaskan apa masalah yang mereka hadapi sehingga bertengkar sebegini riuh. Tampak anak-anak yang lain tak seorangpun mau membantu mereka. Pasalnya, tiada yang berani melihat mata bu guru Murni kala dia sedang marah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kinan dan Bahrun memang selalu begitu. Nyaris tiap hari kelas akan tampak ramai dengan perseteruan mereka. Ada-ada saja masalahnya. Mulai dari rebutan penghapus, jajan di kantin, sepeda yang dirusak, hingga apel bendera setiap seninnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kinan memang terbilang orang kaya diantara teman-teman sekelas mereka. Namun, tidak bisa dipungkiri juga bahwa Kinan memang sedikit sombong. Apa yang dianggapnya tidak benar maka Kinan akan berani mengalahkan siapa saja. Tetapi tidak dengan Bahrun. Anak lelaki yang satu ini kerap tidak pernah takut dengan Kinan. Bisa jadi karena badan Bahrun itu, paling gemuk diantara yang lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Itu pula sebab kenapa Bahrun disenangi anak lelaki yang lain. Bahrun dianggap penyelamat bagi mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kinan itu orangnya sombong sekali, Bu! Beberapa kali sepeda Bahrun dirusaknya,” kata Bahrun pada ibunya malam ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ibu Bahrun yang sedang menjahit sesekali melempar pandang ke arah anaknya yang tampak manyun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Bukannya kamu yang selalu mengajak Kinan bertengkar ?” Tanya Ibu Bahrun sinis&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Ah, ibu, kok jadi membela Kinan sih.” &lt;br /&gt; “Tidak, ibu hanya menerka saja,” balas ibunya santai &lt;br /&gt; “Kinan selalu merasa tersaingi dengan model sepedaku, Bu.” &lt;br /&gt; “Oh, ya ?”&lt;br /&gt; “Dia tidak suka melihat sepedaku lebih bagus darinya,” kata Bahrun selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Memang, di sekolah mereka sekarang sepeda Bahrun lah yang paling dikenal modis. Bisa jadi hal itu terjadi karena ayah Bahrun pandai mereperasi sepeda tua menjadi sepeda yang tampil elegan. Itulah yang kini dipakai Bahrun ke sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Sepeda tua yang dimodifikasi sehinga modelnya tidak kalah bersaing dengan sepeda mini keluaran terbaru milik Kinan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tiap kali sepeda itu diletak pada tempat penyimpanan sepeda di belakang sekolah. Selalu saja Kinan mulai mengambil ulah. Sering didapati sepeda Bahrun yang kempes lah bannya, terjatuhlah, miring lah keranjangnya, stang sepedanya yang bengkok. Pokoknya macam-macam. Dan itu pasti kerjaan Kinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Tapi dua hari belakangan ini, Kinan mulai banyak diamnya. Dia tidak bertingkah macam-macam lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Kamu sakit, Kinan ?” Bu guru Murni menanyai Kinan dengan perasaan iba&lt;br /&gt; Kinan menggeleng pelan. &lt;br /&gt; “Lalu, kamu kenapa ? Dua hari ini ibu lihat kamu tidak seperti biasa. Lebih sering murung.”&lt;br /&gt; “Sepeda Kinan rusak, Bu !” Balas Kinan kesal&lt;br /&gt; “Kenapa tidak diperbaiki ?”&lt;br /&gt; “Kinan tidak bisa. Papaku terlalu sibuk. Mama juga. Mereka sering pulang larut malam. Aku sudah bilang pada mereka. Tapi, mereka selalu tidak sempat.”&lt;br /&gt; Bu guru Murni mengelus kepala Kinan pelan seraya membisikkan sesuatu  ke telinganya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Minta tolong Bahrun saja.”&lt;br /&gt; Kinan mengerutkan dahi. Sepertinya tidak mungkin. Karena nyaris tiap hari Kinan selalu bertengkar dengan Bahrun.&lt;br /&gt; “Kalau kau mau, ayo, ke rumahku saja. Ayahku jago memperbaiki sepeda. Pasti sepedamu akan bagus lagi.” Tiba-tiba suara Bahrun menerobos dari arah belakang. &lt;br /&gt; Ternyata Bahrun sudah sedari tadi mendengar pembicaraan Kinan dan Bu guru tentang sepeda Kinan yang rusak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; “Tuh, Bahrun sudah menawarkan. Ayo, lekas sana !” Kata bu guru menambahi&lt;br /&gt; “Hmm, kamu tidak marah padaku Bahrun ?” Kinan tampak lesu dengan tanya itu.&lt;br /&gt; “Sedikit ! Tapi tak apa, aku senang kok bisa membantumu. Nanti selepas sekolah kita ke rumahku,ya”&lt;br /&gt; “Terima kasih ya, Run !”&lt;br /&gt; “Tapi, janji. Kamu tidak boleh merusak sepedaku lagi. Oke ?!” Bahrun mengangkat telunjuknya sebuah ke arah Kinan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Melihat itu, bu guru Murni tersenyum haru. Ia meyakini bahwa pertengkaran Kinan dan Bahrun tetaplah pertengkaran. Tidak boleh berujung permusuhan. Dan itu, membuat hati bu guru Murni tampak lega sesaat meliat Kinan dan Bahrun akur kembali. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Medan, 11 Maret 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-1202999243668725235?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/1202999243668725235/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/07/bahrun-dan-kinan_08.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/1202999243668725235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/1202999243668725235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/07/bahrun-dan-kinan_08.html' title='Bahrun dan Kinan'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-6724146165465399471</id><published>2009-05-27T21:53:00.000-07:00</published><updated>2009-05-27T21:54:06.936-07:00</updated><title type='text'>Merindu Wajahmu</title><content type='html'>Oleh : Sukma &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pergi terlalu jauh &lt;br /&gt;Nanti susah hatiku mengejarmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pergi terlalu jauh &lt;br /&gt;Karena alamat pulang biasanya sering lupa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pergi terlalu jauh &lt;br /&gt;Kereta kita, akan letih menunggu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pergi terlampau jauh &lt;br /&gt;Sebab angin akan merindukan wajahmu datang&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-6724146165465399471?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/6724146165465399471/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/05/merindu-wajahmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/6724146165465399471'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/6724146165465399471'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/05/merindu-wajahmu.html' title='Merindu Wajahmu'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-7275615669265832128</id><published>2009-05-18T06:17:00.000-07:00</published><updated>2009-05-18T06:28:45.512-07:00</updated><title type='text'>Sepulang dari Rumahmu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/ShFhEoIrB3I/AAAAAAAAADo/M3Zi97BUw54/s1600-h/Wallpaper015.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/ShFhEoIrB3I/AAAAAAAAADo/M3Zi97BUw54/s320/Wallpaper015.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5337153765531912050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh : Sukma &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepulang dari rumahmu&lt;br /&gt;aku merasa ada yang terus membuntuti &lt;br /&gt;dari arah belakang &lt;br /&gt;seperti wajahmu &lt;br /&gt;seperti senyummu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi ketika aku toleh ke arah belakang &lt;br /&gt;wajah itu tiada&lt;br /&gt;yang tersisa hanya senyummu&lt;br /&gt;terbang rendah dibawa waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepulang dari rumahmu &lt;br /&gt;masih ada yang membuntutiku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi kuyakin &lt;br /&gt;itu bukan wajahmu&lt;br /&gt;bukan pula senyummu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bisa jadi &lt;br /&gt;itu rasa cintaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Medan, 13/5/2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-7275615669265832128?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/7275615669265832128/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/05/sepulang-dari-rumahmu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/7275615669265832128'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/7275615669265832128'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/05/sepulang-dari-rumahmu.html' title='Sepulang dari Rumahmu'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/ShFhEoIrB3I/AAAAAAAAADo/M3Zi97BUw54/s72-c/Wallpaper015.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-9210474223054978488</id><published>2009-04-22T02:06:00.001-07:00</published><updated>2009-04-22T02:28:44.784-07:00</updated><title type='text'>Kharismatik Bunyi-bunyian Pada Puisi</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh : Sukma &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah sekumpulan puisi yang ditenun oleh lima orang penyair FLP-Sumut Angkatan III. Sebuah ide tulisan yang ditanak menjadi larik-larik yang menggelitik. Ditemakan dari muasal dua kata yang tak berkerabat, yakni “Ranting dan Embun”. Alhasil, jadilah bersajak-sajak dari mereka (yang ketika malam itu) saya terkagum-kagum membacanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, sajak-sajak yang diramu ini cuma diidekan dalam kurun waktu tidak lebih dari persinggahan senja dan malam. Itulah saya, yang kerap menawarkan, mengulik dan mengiris ide-ide gila buat mereka yang ingin bertandang ke alamat karya. Kegilaan saya kerap tidak disangka, terkadang saya sadar, kadangpun setengah sadar dan yang herannya, malah saya begitu asyik menyaksikan orang-orang dikepung rasa gila akibat kegilaan saya itu. Itu sungguh mengasyikkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa tidak, orang-orang yang saya tawarkan itu menyambut baik tantangan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;cash&lt;/span&gt; pulsa dari saya. Bukan soal berapa jumlahnya. Tetapi, tantangan itu sering pula dianggap sebagai sebuah petualangan yang membuat siapa saja berminat untuk menjemputnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan mereka adalah Sitha Murani, Selvi Rani, Yunita Nursyahmi, Mayasari dan Wulandari. Ya, itu deretan nama yang bisa bernada bunyi dalam puisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita awali dari sajaknya Yunita Nursyahmi dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pemulung Tua&lt;/span&gt;. Sepintas kata demi kata yang dibumbui oleh penyair membuat kita lebih terang memaknainya. Pesan pemaknaan itu tidak mengalami semacam gelontoran ide yang mengais-ngais imaji para pembaca secara umum. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dari tong sampah/Ke tong sampah/Kau berjalan terpapah/Terik mentari telah pun bersahabat/dengan ringkihmu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suguhan pertama oleh Yunita tengah berhasil menggaet hati pembaca untuk menidurkan angan-angan yang lapuk. Ini yang sepintas dilarikan penyair dalam larik berikutnya; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tampak cucuran bening/Serupa embun/Mengalir gurar-gurat penuh kebahagiaan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serupa dengan tampilan puisi kedua yang disajikan penyair dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Doa yang Menggantung.&lt;/span&gt; Keberanian penyair untuk lebih dalam, lebih liar dalam sajak-sajaknya benar-benar teruji dalam kata per kata yang dipilihnya. Ia-nya tidak kuasa melepas semua yang (kira-kira) bernada penghambaan, kereligian atau bahkan keputus-asaan dalam berdoa. Syairnya bergumam laksana harapan yang harap-harap cemas; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Yah, telah banyak/Rangkaian harap/Kuterbangkan padaMu/Namun tampaknya masih menggantung/Di ranting-ranting langitMu. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak usai sampai di situ, Nursyahmi pun kunjung mantap keragu-raguannya pada puisi berikutnya. Pada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kilaumu Pagi In&lt;/span&gt;i &lt;/span&gt;nyata betul ketidakpastian pesan pemaknaan yang hendak ia suguhkan pada pembaca. Sekilas memang tampak nikmat, namun pada ending berikutnya sepertinya kenikmatan itu tidak sanggup Yunita sempurnakan sebagai sebuah rasa entah apa namanya—bisa kehampaan, kesedihan atau kenikmatan— yang tak sempurna.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga Wulan, yang dia hilirkan sejudul puisi pada saya malam itu juga. Kesan yang timbul ketika sajak itu terbit ke ponsel saya, maka keinginan Wulan untuk terbang lewat&lt;span style="font-style:italic;"&gt;...sayap-sayap rindu/Mencari sekeping hati/yang hilang/Mengitari hutan perasaan tanpa sinar/Heliuk-liuk indah/Hinggap di ranting hatimu...Cukup mewakili angan saya yang kerap rela dibawanya terbang. &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuansa kerinduan, keinginan ingin bertemu pada sosok yang sangat dinanti serta rasa ketidakberdayaan, teramat mengental pada puisi berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Terbang&lt;/span&gt; ini. Mungkin, ruang kosong dalam dada,  yang kala itu, dimiliki Wulan telah berhasil menyeretnya ke dalam sebuah keadaan yang menuntun sayap-sayap patahnya sebagai sebuah simbol ketidakmampuannya melahirkan segenap rindu yang dirasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, sebenarnya puisi ini cukup mengundang saya. Karena saya tau, kelebihannya tidak percuma pada permainan kata-kata belaka. Tapi Wulan mampu memberikan ruh dalam puisinya. Hingga ia terkesan hidup dan merambat ke hati saya. Ya !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ayal, tatkala sebuah sajak bikinan Maya mendarat pula berikutnya, benak saya terasa dikail-kail. Maya malah menaruh sebagain isi kepala saya, sepintas keluar dari apa yang saya rasakan, melainkan lebih kepada apa yang saya pikirkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja gayanya bertutur dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mengembun Maya&lt;/span&gt; ! Tak tanggung-tanggung, benak kita akan terus diajaknya mengembara dalam jurang-jurang, tebing-tebing yang ia kemas pada macam-macam simbol dan macam-macam lelakon. Itulah&lt;span style="font-style:italic;"&gt;... ranting/sebuah rasa/Ujung sebuah mula/Akhir segala tunggu/Matiku dalam waktu/Hidup terus berubah. Cintamu tak pernah tergugah/Mengembun maya,...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian yang mengerankan, kita (para pembaca) digiringnya ibarat main tinju, maka ending yang dihempas Maya laksana pukulan paling sakit yang dirasakan pada rahang seorang petinju. Itulah Maya ! &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku, Sia-sia,&lt;/span&gt; hanya itu endingnya. Dan kedepannya, ending itu wajib kita diskusikan bersama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain Mayasari, lain pula Selvi Rani. Penggunaan nuansa alam di sajaknya bertemakan Mawar disinyalir begitu memesona. Tapi, kemudian entah sebab apa, saya sangat berharap pada Selvi (seharusnya) supaya lebih bombastis lagi mematah-matah ide itu menjadi kegurihan yang cespleng. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kepada Mawar/Jangan lagi kau nantikan embun/Pun ia tak pernah setia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesederhanaan puisi ini lebih dititik-tekankan pada penguasaan tema yang cukup sepintas. Realisme yang muncul justru tidak begitu terang diwujudkan oleh penyair. Namun, saya sangat yakin kalau puisi ini akan sangat terasa lezat bila dihidangkan tepat di sebelah meja kerja para akuntan, sekretaris atau orang-orang yang berkutat dalam ruangan. Tatkala mereka lelah, puisi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Reranting Mawar”&lt;/span&gt; racikan Selvi kiranya menjadi setawar-sedingin bagi mereka yang dihasut kejenuhan bekerja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi yang terakhir datang dari Sitha Murani. Ada dua tangkai puisi yang dikirimkan pada saya. Setangkai awal, saya suka sekali dengan puisi itu. Namun setangkai berikutnya membuat saya sama sekali letih. Setangkai yang pertama berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ranting dan Embun&lt;/span&gt;. Hingga tulisan ini diturunkan, saya sama sekali tidak menyangka kalau Sitha begitu lihai menghadirkan bunyi-bunyian dalam puisinya kali ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunyi-bunyian yang Sitha bawakan, jujur saja, membuat saya serasa berdendang dengan kata-kata yang dikemasnya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ting.../Ting.../Ting.../Pohon ranting /Hasrat lenting /Terasa kering.&lt;/span&gt; Aneka bunyi yang dia tawarkan seolah menambah khazanah baru di “kesusateraan FLP Sumut”. Walaupun menurut saya, gaya puisi dengan model begitu sering saya dapati dalam puisi-puisi yang biasa dimuat pada Majalah Sastra Horison.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketertarikan saya pada puisi Wulan di atas memang tidak bisa dipungkiri bahwa karyanya benar-benar merenggut hati saya secara perlahan-lahan. Kemudian disusul oleh Maya yang malah menyuguhkan sajian lain dari sisi kognitif saya untuk lebih gamblang menikmati kegurihan sajaknya. Akan tetapi, padu-padan keduanya saya dapati justru pada karya Sitha Murani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rapi nian si penyair menjahit denting-denting suara yang dirangkainya menjadi alunan sajak yang merdu. Tema yang sederhana, kata-kata yang sederhana, ternyata tidak jadi jaminan untuk menghasilkan karya yang sederhana pula. Dan Sitha membuktikan itu. Karyanya luar biasa !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tematik orang awam akan sangat terkesima dengan model puisi seperti ini. Hingga Jamal D. Rahman juga pernah menjelaskan dalam sebuah seminar puisi di Universitas Indonesia beberapa waktu lalu bahwa mengarungi keindahan dan kenikmatan puisi akan lebih terasa lebih sekiranya kita menapikan dulu makna, alur dan tujuan dari si penyair dalam sajaknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketertarikan orang membaca sebuah puisi akan dilihat dari sejauh mana ia benar-benar merasakan puisi itu nyata dan hidup. Efek samping dari bacaannya akan langsung terbaca. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah pula yang ditambahkan Jamal D. Rahman bahwa penyair harus pula sanggup memasyarakatkan puisi lewat keindahan kata-katanya. Puisi yang berat akan terasa memuakkan ketika karya tersebut tidak bisa dengan jelas dirasakan kelezatannya saat itu juga, apalagi bagi para pembaca yang awam dengan puisi. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Hanya saja, dalam tangkai puisi kedua yang ditawarkan Sitha membuat saya seketika jenuh. Jenuh untuk tidak meneruskannya, jenuh karena terlalu panjang, dan jenuh karena banyak saya temukan aneka klise di dalamnya. Dan itulah karya sastra !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya dari sisi pembaca, kadangkala si penyair sering pula merasakan hal yang sama. Ada masanya mereka cenderung maksimal dengan karya-karyanya, ada pula cukup ala kadarnya saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejenuhan itu terpancar jelas dalam sajaknya yang berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cerita Pagi&lt;/span&gt;..&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku juga mau cerita/tentang aku/Kuhanya sisa dari derasnya huja/guyur bumi/Tersisa dalam titik air/terus jatuh&lt;/span&gt;. Terkatung-katung larik yang Sitha hadirkan. Nyaris tidak punya nyawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, saya sadari itulah proses kreatif kita dalam berkarya. Karya tetaplah karya. Siapa saja berhak mengkritisinya. Sebab ketika ia lahir dalam kondisi yang sempurna, bisa jadi saya malah curiga. Itu karya atau bukan !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, kalau boleh saya urutkan puisi mana yang paling setia merenggut emosi saya, maka &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ranting dan Embun&lt;/span&gt; karya Sitha yang berhasil melakukan itu. Selanjutnya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mengembun May&lt;/span&gt;a bikinan Maya berhasil masuk dalam urutan kedua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun itulah evaluasi. Kerap masih jauh dari sempurna. Yakin saya bahwa karya yang dilakukan dengan terburu-buru dan dalam tempo yang cepat pun ternyata kita bisa hidangkan ke pangkuan pembaca dengan cukup asam garamnya. Apalagi kalau karya itu karya yang penuh daging. Persoalan kualitas, saya kira hanya tinggal militansi saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, selamat berkarya. Selamat berdendang dengan lirik-lirik dalam sajak ke lima penyair ini. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Semoga !&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 22 April 2009&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Saya penikmat pertama puisi-puisi ini &lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-9210474223054978488?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/9210474223054978488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/04/kharismatik-bunyi-bunyian-pada-puisi_22.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/9210474223054978488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/9210474223054978488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/04/kharismatik-bunyi-bunyian-pada-puisi_22.html' title='Kharismatik Bunyi-bunyian Pada Puisi'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-3076862738575680938</id><published>2009-04-22T01:59:00.000-07:00</published><updated>2009-04-22T02:05:13.762-07:00</updated><title type='text'>Ranting-Embun dalam 5 Penyair</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh : Sukma &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Karya Yunita Nursyahmi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pemulung Tua &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dari tong sampah &lt;br /&gt;Ke tong sampah &lt;br /&gt;Kau berjalan terpapah &lt;br /&gt;Terik mentari telah pun bersahabat &lt;br /&gt;dengan ringkihmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganmu yang seperti ranting tua&lt;br /&gt;Tampak gemetar&lt;br /&gt;Memikul keranjang &lt;br /&gt;Berisi sampah daur ulang &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun &lt;br /&gt;Pada pancaran susah wajahmu&lt;br /&gt;Tampak cucuran bening &lt;br /&gt;Serupa embun &lt;br /&gt;Mengalir gurar-gurat penuh kebahagiaan&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Doa yang Menggantung &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan, &lt;br /&gt;Aku berdoa lagi &lt;br /&gt;Moga kau tak bosan menjamunya&lt;br /&gt;Yah, telah banyak &lt;br /&gt;rangkaian harap&lt;br /&gt;Kuterbangkan padaMu&lt;br /&gt;Namun tampaknya masih menggantung&lt;br /&gt;Di ranting-ranting langitMu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makin bersungguh-sungguh &lt;br /&gt;hati ini meminta&lt;br /&gt;Hingga hanya menggantung di sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kilaumu Pagi Ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat pagi, Cantik !&lt;br /&gt;Ah, mengapa bola mata itu&lt;br /&gt;Kilaunya berbeda&lt;br /&gt;Tak seperti embun&lt;br /&gt;Meronakan pagi hari &lt;br /&gt;Pendarnya hanya bias&lt;br /&gt;Diantara bulir sisa sembabnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Karya Wulandari  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Terbang &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terbang dengan sayap-sayap rindu&lt;br /&gt;Mencari sekeping hati &lt;br /&gt;yang hilang &lt;br /&gt;Mengitari hutan perasaan tanpa sinar&lt;br /&gt;Heliuk-liuk indah &lt;br /&gt;Hinggap di ranting hatimu&lt;br /&gt;Tak lagi aku temui jalan keluar&lt;br /&gt;Tersesat aku dalam cintamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayap-sayapku lelah &lt;br /&gt;Tak kuasa lagi terentang &lt;br /&gt;Tak jua kucicipi &lt;br /&gt;Embun segar cintamu&lt;br /&gt;Aku tak tau, &lt;br /&gt;Dimanakah rinduku berlabuh ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Karya Mayasari &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mengembun Maya &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah ranting &lt;br /&gt;sebuah rasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujung sebuah mula &lt;br /&gt;Akhir segala tunggu&lt;br /&gt;Matiku dalam waktu &lt;br /&gt;Hidup terus berubah &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cintamu tak pernah tergugah&lt;br /&gt;Mengembun maya, &lt;br /&gt;hayal membawa&lt;br /&gt;Tiada menjawab menyapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, &lt;br /&gt;Sia-sia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Karya Sitha Murani &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ranting dan Embun &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ting...&lt;br /&gt;Ting...&lt;br /&gt;Ting...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pohon ranting &lt;br /&gt;Hasrat lenting &lt;br /&gt;Terasa kering &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bun...&lt;br /&gt;Bun...&lt;br /&gt;Bun...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Titik embun &lt;br /&gt;Luka timbun &lt;br /&gt;Tampak rimbun &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ranting &lt;br /&gt;Embun &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta jatuh ke ranting &lt;br /&gt;Bermain dengan embun &lt;br /&gt;Ceritaku oh, ranting &lt;br /&gt;Dukaku oh, embun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ranting &lt;br /&gt;Embun &lt;br /&gt;Berdenting &lt;br /&gt;dalam rumpun &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerita Pagi &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai, Embun..&lt;br /&gt;Aku mau cerita &lt;br /&gt;Tentang aku &lt;br /&gt;Sering kali dedau bergantung &lt;br /&gt;Rela kau topang dia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heh, buahnya hanya penggoda iman&lt;br /&gt;Kucium saja ia &lt;br /&gt;Ranum tak bisa kuhirup&lt;br /&gt;Lezat tak kuasa kutelan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai, Ranting...&lt;br /&gt;Aku juga mau cerita &lt;br /&gt;tentang aku&lt;br /&gt;Kuhanya sisa dari derasnya hujan &lt;br /&gt;guyur bumi&lt;br /&gt;Tersisa dalam titik air&lt;br /&gt;terus jatuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Heh...kalau mentari terik&lt;br /&gt;Aku kering &lt;br /&gt;Hilang&lt;br /&gt;Maukah menunggu aku muncul lagi ?&lt;br /&gt;Tanyakan pada Tuhan&lt;br /&gt;Kapan Dia mau guyur bumi lagi ?&lt;br /&gt;Aku rela jadi sisa &lt;br /&gt;penyejuk fajar yang tipis&lt;br /&gt;Indah untuk senyap &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai, Embun...&lt;br /&gt;Besok kau masih datang padaku ?&lt;br /&gt;Menjadi pelukis seni daunku&lt;br /&gt;TitikMu begitu kurindukan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai, Ranting...&lt;br /&gt;Kalau bisa kau masih&lt;br /&gt;mau menopangku ?&lt;br /&gt;Sebentar saja&lt;br /&gt;O, fajar&lt;br /&gt;Ikhlas aku bergantung padaMu, Ranting...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau topang kanvasku&lt;br /&gt;Biar kuhias dirimu, Embun...&lt;br /&gt;Kau cat buatku&lt;br /&gt;Minuman pelepas dahaga&lt;br /&gt;Ini cerita kita &lt;br /&gt;kala pagi tiba&lt;br /&gt;begini selamanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku cinta cerita ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Karya Selvi Rani &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Reranting Mawar &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepada Mawar&lt;br /&gt;Jangan lagi kau nantikan embun&lt;br /&gt;Pun ia tak pernah setia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lupakah pada reranting&lt;br /&gt;penyangga tubuh yang tak pernah mengeluh ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski, &lt;br /&gt;Satu persatu kelopakmu meluruh...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-3076862738575680938?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/3076862738575680938/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/04/ranting-embun-dalam-5-penyair.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/3076862738575680938'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/3076862738575680938'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/04/ranting-embun-dalam-5-penyair.html' title='Ranting-Embun dalam 5 Penyair'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-1271019189331682105</id><published>2009-04-16T06:25:00.000-07:00</published><updated>2009-04-16T06:28:46.080-07:00</updated><title type='text'>Suara Jangkrik</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh : Sukma &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krikkk...Krikkk.... Krikkk....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendi berulang kali membolak-balik badannya. Matanya terbuka, matanya tertutup. Napasnya berat. Tampak ia sangat kesal. Suara jangkrik yang ada di dapur terasa menggangunya. Deritnya suara itu membuat ia tidak bisa tidur malam ini. Salah, bukan hanya malam ini tapi nyaris tiap malam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendi pernah bilang pada ibunya kalau tiap malam tidurnya tidak pernah pulas. Pasti semuanya karna jangkrik-jangkrik itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sialan !” Kata Hendi kesal  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia melempar gulingnya ke bawah. Hendi bangkit dari kasur. Beranjak ke kamar ibunya. Kebetulan sekali, kamar ia dengan kandang-kandang jangkrik milik ayahnya itu sangat berdekatan. Jadi wajar kalau suaranya terasa bising di telinga Hendi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia keluar kamar. Pas sekali. Yang pertama dilihatnya pastilah kandang-kandang jangkrik itu. Bukan satu atau dua kandang yang tergolek di lanti, melainkan semuanya ada 15 kandang. Duh, tidak terbayangkan kalau semua jangkrik mengeluarkan suara seperti itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya lagi, jangkrik tidak bersuara serempak. Mereka punya irama khusus. Kalau seekor jangkrik bersuara maka seekor yang lain pasti akan saling membalas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Diaaammmm....!!!” Teriak Hendi marah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diambilnya sandal yang ada di depan kamarnya kemudian dilempar ke arah kandang jangkrik-jangkrik itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keletak....!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lemparan Hendi tepat mengenai kandang yang satu. Jangkrik itu diam. Namun beberapa detik berikutnya suara mereka menyala lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aih, Hendi tampak tidak bisa menahan emosi. Hendak diambilnya gagang sapu. Tapi keburu ayah-ibunya keluar dari bilik kamar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hendi, kamu kenapa, Nak ?” Suara ibunya mengagetkan Hendi seketika. “Apa yang kamu lakukan di situ, Hen ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidung dan mulut Hendi bergerak-gerak. Manyun. Ayahnya dari arah belakang juga tampak membututi sang ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tidak bisa tidur, Bu. Jangkrik-jangkrik ini berisik.” Balas Hendi tak senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah dan ibunya saling berpandangan. Kemudian mengelus kepala Hendi pelan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu, suara gedebuk itu ? Kamu melemparnya, iya ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah menatap Hendi tajam. Dan Hendi menggangguk lemah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krikkk...Krikkk.... Krikkk....&lt;br /&gt;Krikkk...Krikkk.... Krikkk....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dengar itu, Bu. Suaranya itu membuatku pusing,” Hendi berkata lagi.”Sudah seminggu ini aku tidak nyenyak tidur, Yah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, ketika kamar Hendi masih di lantai dua, ia tidak pernah merasa terganggu seperti ini. Ia bisa dengan nyaman tidur sesuka hati. Bahkan saking nyamannya, ia sering kelewatan waktu shubuhnya. Tapi sekarang berbeda. Jangkrik-jangkrik itu diserahkan kepada Hendi. Ayahnya ingin memberi tanggung jawab baru buat Hendi agar ia bisa mandiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang benar, suatu hari ayahnya pernah berjanji kalau kelak ia lulus UN dengan baik ada hadiah sepeda baru yang akan dibelikan ayahnya. Akan tetapi, ayahnya tidak mau segampang itu. Hendi disuruh merawat jangkrik-jangkrik itu dengan serius. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, Hendi kan sudah janji, kalau jangkrik-jangkrik itu cukup umur bisa kita jual bersama. Nah, uangnya kan bisa tambah-tamba buat beli sepeda baru, bukan ?” Suara ayah tiba-tiba menyala. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, yah. Tapi kalau begini terus Hendi bisa sakit. Habis...tidurnya terganggung terus.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya, Hendi benar-benar amat mengantuk untuk mengikuti pelajaran di kelas. Tepat waktu itu pelajaran agama. Ustadz Amir, guru agama di kelas hanya bisa geleng-geleng kepala saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hendi, kamu ngantuk ? Begadang ya ?” Tanya Ustadz Amir seketika &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“E-e, anu, Pak. Iya !!” Hendi tergagap &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Pak. Hendi ngurusi jangkrik-jangkriknya jadinya lupa tidur tuh. Ha...ha...” &lt;br /&gt;Seru Bondan, anak yang dikenal bandel di kelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huss...kamu tidak boleh begitu, Bondan! Tidak baik meledek seperti itu. Hendi, sekarang cuci mukamu, setelahnya kamu masuk ke kelas lagi, ya.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendi menurut saja. Teringat kejadian tadi malam ia memang sangat kesal. Ini bukan hal yang pertama, bahkan sudah yang ketiga kalinya. Dan Bondan pun yang paling sering membuat kelas riuh lantaran ledekan itu selalu tertuju untuk Hendi yang tertidur di kelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustadz Amir menjelaskan panjang lebar tentang pelajaran hari ini, termasuk perihal Hendi yang tidur di kelas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Belajar yang rajin tidak hanya cukup, Anak-anak. Kalian juga harus sering berdoa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjalankan tahajud sangat efektif untuk berdoa kepada Allah. Apalagi kalian kan sebentar lagi mau UN. Nah, belajar saat tengah malam juga sangat efektif. Cobalah sesekali, apalagi setelah tahajud. Tidak usah terlalu lama. Sukup sejam saja. Nanti kalian bisa rasakan hasilnya.” Kata-kata Ustadz Amir itu direnung-renungkan oleh Hendi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tahajud dan belajar malam ?” Kata Hendi dalam hati &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sekedar itu, tiba-tiba saja terbayang olehnya sepeda baru yang akan dimilikinya kalau nilai ujiannya nanti bagus. Ia bakal bisa jalan-jalan dengan Wita, Putri, Dandi dan Nurul kalau sekiranya sepeda baru itu bisa ia dapatkan. Memang, cuma Hendi saja dari keempat temannya itu yang hingga kini belum memiliki sepeda. &lt;br /&gt;Selepas pulang sekolah Hendi langsung menuju rumah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia khawatir kalau-kalau kamarnya sudah dipindahkan ayahnya ke lantai dua lagi. Dan itu pasti membuatnya nanti malam tidak bisa tahajud dan belajar malam seperti yang dibilang Ustadz Amir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah, Hendi langsung mengarah ke dapur. Matanya celingak-celinguk. Hanya ia temui ibunya yang tengah asyik memasak. Tapi kandang jangkrik ? Kemana kandang jangkrik ? Kenapa tidak ada derit suara jangkrik ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu...bu...mana kandang jangkrik kita ?” &lt;br /&gt;Ibu Hendi terpana. Ia melihat tampang anaknya yang serba tergopoh-gopoh pulang dari sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa, Hen ? Kok kelihatannya sangat panik.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, Bu. Mana jangkrik Hendi ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi, katanya kamu merasa terganggung dengan jangkrik itu. Ya, terpaksa tadi pagi ayah dan ibu berunding untuk menjualnya saja ke Pak Dundung. Memangnya kenapa ?” Tanya ibu tak mengerti &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar itu Hendi teringsut lemas. Sepertinya harapan memiliki sepeda baru mulai pupus lagi. Dengan lemah ia ceritakan maksud dari keinginannya itu pada sang ibu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak usah panik. Ayah tidak menjualnya semua kok. Nih masih ada satu kandang lagi. Kamu bisa bawa tidur untuk membangunkanmu solat tahajud. Dan sebagian uangnya sudah ayah tabung untuk bekal sepeda barumu nanti.” Tiba-tiba suara ayah muncul dari arah belakang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hendi dan ibunya seketika tersenyum kagum. Mulai nanti malam Hendi sepertinya tidak akan terganggu lagi dengan suara jangkrik itu. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Krikkk...Krikkk.... Krikkk....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Medan, 14 April 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-1271019189331682105?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/1271019189331682105/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/04/suara-jangkrik.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/1271019189331682105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/1271019189331682105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/04/suara-jangkrik.html' title='Suara Jangkrik'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-4716004870927039364</id><published>2009-04-14T07:12:00.000-07:00</published><updated>2009-04-14T07:20:30.543-07:00</updated><title type='text'>Luka</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh : Sukma &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan saja ketika saya mendengar denting gitar maka meringis-ringis hati saya. Kemudian akan mengalir darah dari telinga, mata, hidung dan mulut saya seketika. Tidak tau mengapa begitu. Terangnya, itu terjadi sejak ayah tidak menyukai saya bermain musik, memetik gitar. Darah itu setia mengalir dari seluruh tubuh saya. Banyak sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah sangat berang kalau mendapati saya duduk-duduk di tepi gubuk hanya untuk memainkan sepucuk lagu. Setelahnya ayah akan datang, kemudian merampas gitar yang waktu itu saya peluk. Saya terkejut. Namun ayah lebih terkejut melihat laku saya begitu lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah berapa kali kubilang, nanti kau pemalas kalau mainmu bergitar saja !!” Mata ayah merah. Dadanya kulihat naik turun. Tapi gitar saya sudah berpindah ke tangan ayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rindo tidak lalai dengan tugas, Yah !” Kata saya lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau memang tidak lupa tugasmu, tapi kau tidak dengar perintah ayah, kan ?!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya makin tidak mengerti. Ayah hanya akan melarang saya bermain gitar kalau waktu makan, belajar dan membantunya telah tiba. Usai itu, saya tidak mengapa memeluk gitar. Bersiul-siul dan menari-menari dengan not-not gitar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah sepi dada saya sekiranya ayah tidak mengembalikan gitar itu ke pelukan saya. Saya sering melakukan apa saja agar saya bisa memetik gitar itu lagi. Ayah tidak mengerti betapa gitar itu cukup berharga untuk saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rindo ingin gitar itu, Ayah.” Pinta saya sambil menanam sedih di wajah.&lt;br /&gt;Ayah hanya diam. Mata ayah tidak melihat mata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rindo hanya ingin melihatnya saja, Yah. Sebentar saja !” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah tidak suka kau bermain gitar, Rindo, mengerti !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa, Yah ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau masih kanak-kanak. Masih SD saja sudah bertingkah. Tau rupanya lagu-lagu yang kau mainkan itu. Ayah tidak suka kau menyanyikan lagu orang dewasa seperti itu. Paham!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rindo tidak pernah melakukan itu, Yah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lalu ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah tidak pernah mendengar Rindo bernyanyi, kan ? Rindo rindu dengan emak,Yah. Rindo bernyanyi untuk emak. Bukan seperti lagu yang ayah maksud.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah ayah berpaling ke arah saya. Tajam. Ada danau yang menggenang di mata ayah. Seketika berpaling lagi wajah ayah. Entah kemana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ! Kau boleh bermain apa saja, asalkan jangan gitar.” Tambah ayah pula  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan tidak kesal saya mendengar ucap ayah begitu. Saya hanya bisa berlari ke tepi gubuk. Berdiam diri di sana. Menatap sawah-sawah yang terbentang. Namun tangan saya tidak henti memukul. Apa saja yang bisa saya pukul. Hingga sering meninggalkan nyeri  di pergelangan tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, bukan saya marah pada ayah. Saya tidak pernah benci pada ayah. Meski sesekali rasa kesal dengan sifat ayah selalu muncul. Namun jauh dari itu, saya marah dengan diri saya. Saya marah dengan kecintaan saya pada gitar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, emak sering menyanyikan saya dengan lagu aneka judul. Saya suka mendengar emak bernyanyi. Emak memang tidak bisa bermain gitar. Emak setia mengajak saya bertemu mimpi kala saya hendak tidur dengan dendang yang menarik hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa kini emak lupa pulang. Banyak orang-orang menganggap emak diguna-guna. Emak sering dijumpai orang menari-nari di panggung-panggung. Emak menyanyi pula di sana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saya tidak pernah melihat emak berlaku begitu. Selalu saja saya tertarik ingin berjumpa emak saat ia menari di panggung. Alangkah berembun hati saya kalau saat begitu dapat bertemu dengan emak. Selanjutnya emak bernyanyi di atas panggung dan lagu yang dinyanyikan emak itu dihadiahkan untuk saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ingin rasa, ingin setia &lt;br /&gt;Membalur cahaya di semenanjung cinta&lt;br /&gt;Kau hadir, kita hadir&lt;br /&gt;Memeluk hujan sepanjang petang&lt;br /&gt;Atau, &lt;br /&gt;Berkejaran dengan bayang-bayang mentari...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, sungguh ! Saya ingin melihat emak menyanyikan syair itu lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, ayah tidak pernah jujur berkata itu kepada saya. Ayah selalu berkata bahwa emak sudah dijemput tuhan. Emak sudah tiada, Ran ! Itu selalu ucap ayah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering saya bingung menerka kata-kata itu. Ucap siapa yang musti saya akui. Kata-kata siapa yang seharusnya saya percayai. Saya menggeleng dalam. Saya tidak tau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata siapapun itu, yang penting saya ingin bertemu emak. Maka gitar lah, yang membikin saya bisa bertemu dengan emak. Saya serasa dipeluk emak kala saya bernyanyi. Kala saya memetik senar gitar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal saya akui, saya pun tidak lihai memaknai apa itu sumbang, apa itu cempreng. Hanya yang saya bisa, itu yang saya petik. Namun tatkala ayah merampas gitar saya, saya makin jauh dari emak. Sejak itu saya sering mengeluarkan darah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darah itu yang kemudian membanjiri seluruh kamar saya hingga ke kamar mandi, ke kasur-kasur dan ke gubuk dimana dulu saya dan emak sering melepas rindu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rando ingin gitar itu, Tuhan, biar emak lekas datang,” itu doa saya kalau saya begitu merindu emak. “Kalau emak dengar, ajak emak pulang, ya Tuhan ! Rando ingin mendengar emak bernyanyi lagi. Sebait pun jadi !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak pernah menangis kalau saya tengah berdoa. Paling-paling doa itu yang saya rasa sering menitis air mata. Doa laksana manusia. Menurut pikir saya, cuma doa yang bisa menangis karena doa begitu paham, apakah itu akan terkabul atau malah hanya sia-sia saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi emak, tidak pernah mengabari saya untuk kita tiada pernah berhenti berdoa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kau berhenti berdoa, Nak, maka emak lah yang akan menangis. Tentu kau lebih sedih melihat emak menangis, bukan ?” Emak membilang itu saat saya pulang dari surau terlalu cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu saja. Saya tidak pernah melihat emak menangis. Saya tidak pernah melihat emak terluka dibuat hidup yang serba kering. Emak selalu berjanji akan melihat saya kalau-kalau suatu hari nanti saya lihai memeluk gitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tubuh Rando masih terlalu kecil. Nanti kalau sudah gede, barulah !” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Emak kan menunggu Rando besar, kan ?” Kata saya waktu itu &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pasti, Nak. Ibu mana yang tidak ingin melihat anaknya lekas besar. Apalagi mahir bermain gitar.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rando janji, Mak, kalau Rando sudah bisa memeluk gitar, Rando ingin mengajak emak bernyanyi lagi untuk Rando.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu pasti, Nak !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, setelah tak lama emak berucap begitu tiba-tiba saja ia menghilang. Tiada tau dimana berada. Ayah mulai berhamburan emosinya kala itu. Entah berkalung apa dadanya. Sering bertabur anak duri di mata ayah kalau saya melihatnya. Menyakitkan. &lt;br /&gt;Padahal jauh-jauh hari saya amat tau, kalau ayah pun sangat lihai memetik gitar. Ayah pecandu gitar berat. Itu pula gitar yang dari dulu ayah dan emak bawakan untuk menguras berbait-bait lagu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini pula kepiawaian ayah tiada kunjung saya temui lagi. Ayah mulai tidak kuasa membendung amarah kalau-kalau saya memeluk gitar. Mungkin saja ayah rindu pula dengan emak ? Mungkin pula denting gitar ibarat jarum-jarum runcing yang menikam ulu hatinya sesaat mendengar gitar itu saya petik ? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saja !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alangkah tidak bisa saya katakan pada emak kalau tangan saya kini sudah bisa menggapai batang gitar. Emak akan sangat senang melihat itu. Dan ayah, akan sering dikepung derita menyaksikan saya bermain gitar lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi apa yang saya buat, sekiranya saya membantah ayah maka ayah akan dihajar kesumat yang bergulung-gulung di matanya. Saya takut melihat ayah begitu. &lt;br /&gt;Hingga sampai disuatu malam saya dikagetkan dengan sesuatu. Malam itu gitar saya ada yang memetik. Hati saya meringis. Saya bangkit dari kasur. Beranjak ke sebuah tempat. Dimana ada suara denting gitar dipetik. Saya segera mengarah ke muasal suara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanya-tanya dalam hati terus bertabuh. Adakah ayah yang melakukan itu ? Atau emak memang telah pulang karena rindu dengan saya lantas memainkan sepucuk lagu untuk saya ? Saya seperti mimpi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas sangka saya ternyata benar. Ayah menyalakan gitar itu merdu sekali. Sepenggal lagu tentang emak tengah ayah bawakan. Suara ayah mendayu-dayu. Saya hanya mengintip dari bingkai pintu. Ayah duduk di sebuah bangku panjang di bawah pohon. Ayah makin berpekik melantunkan lagu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kasihan, ayah pasti rindu dengan emak !” Desis saya dalam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara ayah makin bertumbangan. Emosinya meluap-luap. Ayah berdiri. Menghentikan lagu itu seketika. Kemudian melakukan sesuatu di luar kiraan saya. Ayah menghantamkan badan gitar ke sudut bangku berulang kali. Benar, berulang kali.&lt;br /&gt;Saya terbelalak. Ayah makin menjadi-jadi. Tangis ayah berderai-derai pula. Tapi gitar saya ! Ah, mengapa ayah lakukan itu ? Ayah kenapa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula saya sangat ingin berlari ke arah ayah. Merampas gitar itu segera. Tapi saya tidak sanggup. Saya hanya diam saja di bingkai pintu. Hebatnya, menyaksikan itu saya tidak menangis. Saya hanya merasakan tiba-tiba darah saya menetes lagi. Mulai dari telinga, mata, hidung dan mulut saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, tidak. Ayah jangan rusak gitar itu, jangan ayah !” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu kata-kata terakhir saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Medan, 12 Maret 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-4716004870927039364?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/4716004870927039364/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/04/luka.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/4716004870927039364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/4716004870927039364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/04/luka.html' title='Luka'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-8783933460991166619</id><published>2009-03-23T07:30:00.000-07:00</published><updated>2009-03-23T07:35:54.180-07:00</updated><title type='text'>Saimah</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh : Sukma &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangka orang-orang dia gadis yang cantik. Wajahnya bulat, kulitnya putih, tingginya semampai. Saimah namanya. Kalau keluar dari bilik rumah, tiada lupa Saimah memanggul selendang. Para lelaki akan setia melempar senyum ke arah Saimah kalau ia hendak berbelanja, menjemur kain atau menyiram anggrek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berbaju kurung, Saimah pula ramah melempar senyum. Tapi salah, aku pikir ia bukan gadis yang cantik, bahkan Saimah sangat cantik bagiku. Hmm, apalagi saat menyiram anggrek. Duh, aku paling suka saat itu. Saimah pasti berselendang hijau. Ujung selendangnya disimpul kecil. Berjuntai sedikit ke arah belakang. Dan Saimah, akan melepas senyum kala aku menyaksikan itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala pagi, kala itu aku sering mendapati Saimah melakukan hal yang biasa bagi anak gadis seusianya. Saat aku hendak berangkat kerja, saat itu juga belum sempurna hariku kalau belum melihat Saimah tersenyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saimah memang sudah tidak lagi berangkat sekolah. Usai berijazah Aliyah, Saimah tidak punya nyali melanjut kuliah. Bapak-emaknya sudah tiada. Namun Saimah tidak tinggal sendiri, ada Puji dan Dura, abang-kakak Saimah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, sejak bapak-emak Saimah sudah mendekam kubur, para lelaki kampung smulai sering bersuit-suit di depan Saimah. Mungkin itu yang membikin Dura, abangnya yang pertama, sering berang kalau Saimah menyambut tingkah pola para lelaki yang berbuat begitu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saimah sering pula kesal pada Dura. Karena Saimah, paling tidak suka dilarang-larang. Pasalnya, bukan perihal larangan itu, tapi cara Dura melarang kerap membikin  Saimah sering menabung kesal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi kata tetangga-tetangga, Saimah tak boleh kuliah sekalau belum menikah dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak boleh Saimah dekat-dekat dengan pria, apalagi macam kau, Sin ?” Seorang tetangga bernama Mak Kar, pernah berucap itu padaku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa pula ?” Tanyaku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebab kau tak kuliah. Kerjamu cuma pedagang biasa. Mana mungkin si Dura mau mengawinkan kau dengan Saimah ?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, sampai separah itu, Mak ?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, memang begitulah. Tak percaya, coba saja !” Kata Mak Kar selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selenting berita itu aku dapat, Saimah memang sudah sepi dari mesjid kampung. Sering aku dapati Saimah hanya berdiam diri saja di dalam rumah. Paling-paling kalau pagi hari, Saimah akan setia aku jumpai saat menyiram anggrek, menjemur pakaian dan pergi ke pasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Berselang hari-hari berikutnya, Saimah tidak lagi tampak ujung selendangnya. Saimah mulai jarang aku temui. Padahal terakhir aku jumpai wajah Saimah, saat itu pula si Puga memboncengnya sehabis berbelanja dari pasar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benci nian hatiku melihat Saimah begitu. Belum lagi hendak pegang-pagang tangan Saimah oleh Puga. Maka sekejap pula wajahku berubah neraka. Mata Saimah lekat aku pandang. Tapi Saimah tak pula membalas. Tunduk pula selendang di kepala menutupi wajah takut Saimah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, sejak itu Saimah tak berani keluar rumah lagi. Tapi aku mafhum, Saimah dan aku bukan apa-apa. Tapi kalau aku dibingkai amarah, Saimah akan segera bertatap tunduk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saimah kerap budi bahasanya kukenal dari kecil. Masih remaja usia Saimah, sering ia mengaji bersamaku di rumah Datuk Muin. Tapi Datuk tau kalau mengajiku lebih baik dari Saimah. Maka pelan-pelan Datuk menyuruhku mengajar Saimah sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu sikap Datuk kalau menganggap santri yang cukup matang. Ia segera menawarkan aku sebagai walinya pada santri yang lain. Termasuk pula pada Saimah, santri pertama yang aku ajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya aku tek tega melakukan itu dulu. Namun wajah Datuk akan berubah merah kalau aku membangkang. Mungkin bukan tak mau aku menurut perintah Datuk. Tapi wajah Saimah kala itu, wajah bintang malam, wajah yang lagi ranum. Sering tak karuan mengajinya kalau menatap wajah Saimah lekat-lekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya pada wajahku yang merah, mataku yang tajam dan ucapku yang tinggi, Saimah akan segera disunting takut. Oleh karena itu, Saimah paham bagaimana aku marah. Sering Saimah melipat muka kalau aku sudah bertingkah begitu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untung saja, perilaku Saimah dibonceng Puga tidak lagi aku temui. Bahkan sekarang Saimah pun jarang keluar rumah. Dan itu yang membikinku ditabung banyak luka. &lt;br /&gt;Saimah mulai tidak berhasrat menanam senyum lagi di hatiku. Saat pagi hari, ketika menyiram anggrek, dan menjemur pakaian maka hariku akan langsung bermakna kering. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka setelah hal itu berlanjut, aku mulai rajin datang ke rumah Saimah. Berjumpa dirinya, berharap tau kabar cerita Saimah. Untungnya Dura tidak pernah merasa curiga dengan apa-apa yang aku buat tentang adiknya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sapa hangat selalu saja membikin hati tentram saat aku datang. Terhidang pula macam cemilan ketika aku tiba di pinggang rumah. Dan Saimah akan langsung keluar dari bilik kamar. Membawa wajah muram, sedih dan pucat dari hatinya. Aku pikir Saimah masih saja mengingat hal yang kemarin itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bicaralah kalian. Aku tinggal ke dalam dulu,” tutur Dura saat Saimah sudah duduk di hadapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat Saimah masih bersikap beku. Matanya takut. Tangannya di remas-remas. Selendangnya berkali-kali disingkap. Jatuh berjuntai. Namun belasan menit awal, aku dan Saimah tidak becakap apa-apa. Itu pula yang membuat aku kikuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau Saimah tak mau bertemu dengan abang. Tak apalah, abang pulang saja,” usulku bingung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu !” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saimah masih marah pada abang, kan?” Kataku selanjutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak, Bang. Saimah malu pada abang. Kalau Datuk tau, pasti ia juga marah melihat Saimah berbonceng dangan Puga,” kata Saimah masih menunduk. Diremas pula kini ujung selendangnya. “Saimah minta maaf, Bang !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, jangan diingat lagi. Sudah lama abang tidak melihat Saimah. Abang kemari khawatir kalau-kalau kau sakit.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saimah tersenyum. Matanya bercahaya. Bintang-bintang serasa turun di hatiku melihat tampang rupa Saimah berbinar itu. Dan esoknya, kulihat  Saimah mulai menjemur pakaian lagi, menyiram anggrek dan pergi berbelanja sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tau, tiap malam sabtu, Saimah mulai rajin datang ke pengajian putri di dalam mesjid. Masih saja seperti dulu, masjid langsung berkilau surga kala Saimah datang bertandang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang mengaji, serombongan putra-putri jalan berbarengan. Saling antar-mengantar pulang. Saling bertukar cerita. Aku dan beberapa rekan lelaki beramai-ramai mengantar para anak-anak putri ke depan rumah, serupa pula dengan Saimah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu, aku dan Saimah makin pintar bertukar senyum. Makin lain hatiku melihat senyum Saimah belakangan ini. Maka itu juga yang mengantarku rajin membawakan martabak, roti tawar manis atau sekedar apem balik biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, aku makin tak lihai menata hati. Melihat Saimah lama-lama, bisa tak nyenyak terus tidur malamku. Sesering itulah aku kumpul enerji, datang ke hadapan Dura. Berharap aku sanggup mengacungkan ide kalau aku....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“...Ingin mengajak Saimah naik pelaminan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dura menatapku tajam. Sontak duduknya makin mendekat ke arahku. Ditepuk-tepuk pula pundakku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tidak kuliah, Sin. Aku mau melihat Saimah kuliah. Bukan untuk kawin !!” Kata Dura tegas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku akan setia mengantarnya pergi kuliah, Bang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tiap hari ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Benar !” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, tidak mungkin. “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa ? Tidak percaya abang denganku ?” Suaraku meninggi, alisku juga meninggi&lt;br /&gt;“Bukan, tidak begitu maksudku. Yang kurisaukan, apa mau Saimah diantar kuliah denganmu ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu si Dur bicara begitu, mendongak pula wajah Saimah. Matanya lekat-lekat ke arahku. Berlompat pandang ke wajah si Dur pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau bagaimana, Mah ?” Tanya si Dur langsung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kuliah memang penting, Bang. Tapi menerima pinangan lelaki baik-baik, itu jauh lebih penting menurutku.” Kulihat berbinar jua mata Saimah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, selintas Saimah berucap begitu. Entah apa, aku ingin pagi segera datang. Melihat Saimah menjemur kain, menyiram anggrek sambil melempar senyum ke arahku. Maka aku pun akan berani mengedipkan sebelah mataku ke arahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entahlah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 3 Maret 2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tulisan ini pernah dimuat di harian MEDANBISNIS edisi Minggu, 15 Maret 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-8783933460991166619?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/8783933460991166619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/03/saimah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/8783933460991166619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/8783933460991166619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/03/saimah.html' title='Saimah'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-3935014397917374119</id><published>2009-03-18T06:36:00.000-07:00</published><updated>2009-03-18T06:39:45.983-07:00</updated><title type='text'>Belajar Menidurkan Rindu</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh : Sukma &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu saya pernah benar-benar tidak berdaya. Saya sadari ternyata ketidakberdayaan itu disebabkan karena saya tengah dirudung rindu. Rindu pada seseorang, rindu pada keluarga yang jauh di rantau atau rindu pada barang-barang kesayangan yang dulu pernah hilang. Namun yang lebih ekstrim lagi, entah mengapa saya pun sangat rindu ingin menikah di atas salju, rindu makan malam bersama ratu Inggris, berkelahi dengan Jet Li atau berunding dengan Barack Obama. Iya, itu semua kerinduan saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah berulang kali rindu itu saya simpan rapat-rapat. Herannya, semakin rapat rindu itu saya simpan semakin memaksa pula rindu itu ingin keluar. Hingga pada suatu waktu kerinduan saya itu benar-benar telah membikin saya setengah waras. Betapa saya sangat rindu dengan seorang gadis. Ingin sekali hasrat hati bertemu dengan elok rupanya, memetik senyum dari wajahnya, lalu setelahnya, saya kerlingkan mata saya di depan gadis itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamak ! Kerinduan yang sangat gila menurut saya. Alhasil, setelah direnung-renung, saya sering tak nyenyak tidur memikir rindu-rindu itu. Tetap saja mustahil rindu itu saya wujudkan. Saya tidak punya kuasa kala hal-hal itu datang. Walaupun sudah acap kali orang-orang di sekitar saya mengatakan bahwa itu hal yang mustahil. Tetapi, tiba-tiba saja saya begitu yakin kalau rindu itu masih bisa saya nyatakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perihal apakah akan terwujud, mungkin bisa jadi tidak mungkin. Hanya saja, rindu saya, kepinginnya saya, sering ketika rindu itu datang, saya ingin orang yang saya rindui, benda yang saya rindui mengerti kalau saya merindukan mereka. Dan itu sudah cukup untuk memuaskan rindu saya !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung ketika saya memiliki banyak sahabat, mereka bisa dijadikan teman curhat tentang kerinduan saya itu. Setidaknya ketegangan saya terhadap sesuatu yang saya rindui mulai tersalurkan. Hanya saja ketika beberapa hal tentang rindu itu mulai tidak memberi ruang untuk saya bernapas, saya sering dipukul asma. Tentu menyakitkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata saya berkunang-kunang, rambut saya mengeras, pipi saya...ah, seperti menggelembung. Belum lagi hati saya yang sudah pasti morat-marit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kalanya sahabat, ruang kosong, dinding, jurang yang dalam, air laut, kupu-kupu atau apa saja terkadang tidak sanggup mewakili hasrat rindu itu. Akhirnya saya sering lemah. Tidak berdaya. Lantaran dikalahkan rindu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebut saja ketika saya rindu dengan seorang gadis yang saya puja itu. Untunglah, saat itu saya berani mengacungkan nyali hendak mengatakan rindu itu padanya. Dengan segera saya mengambil ponsel, memilih beberapa kata yang menurut saya romantis, mengetikkannya maka jadilah pesan itu hendak saya kirim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hai, Gadisku ! Tahukah kau bahwa betapa hari ini saya sangat merindukanmu ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, itu isi pesan singkat saya pada seorang gadis yang saya puja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi ? Wow, ternyata hati saya riang sangat. Seperti ada reruntuhan embun yang menetes begitu sejuk dalam sanubari saya. Dalam renungan saya, pastilah gadis itu bersemi-semi wajahnya. Merah dadu pipinya. Serta meriah pula gedebar hatinya. Ahai, malang-melintang perasaan saya waktu itu !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sayang, terkaan saya tentang itu tidak tepat. Gadis itu sepertinya kecewa. Sama sekali tidak senang. Sapaannya pesimis. Dia malah membalas dengan pesan yang membikin rindu saya terjungkal nestapa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan dibilang-bilang !” Kata gadis itu selanjutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa ? Kamu tidak suka ?” Tanya saya &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kira-kira begitu, tidak semua rasa harus diungkapkan.” Balasnya pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, Tuhan ! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rontok rindu saya mendengar ucap itu dari gadis yang saya rindui. Entahlah! Malu, bingung, was-was, panik, semuanya campur aduk dalam benak saya. Sampai sekarang pun sms itu selalu saja saya timang-timang. Belum saya hapus. Nyaris tiap malam ketika rindu saya mulai muncul lagi, mulai tampil lagi, saya sering membaca pesan itu dari ponsel saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mesti rindu itu tentang apa, tentang siapa. Saya sering menidurkan semua rindu saya melalui pesan dari gadis itu. Sejak itulah, sering saya temui dada saya dikepung derita. Saya harus belajar menjinakkan ribuan rindu yang saya punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan esoknya, saya diajari teman saya bahwa mengendalikan rindu ternyata tidak sulit. Tidak butuh energi banyak. Cukup dengan kata-kata saja. Karena katanya, yang paling penting dari semua itu bahwa logika kita harus tetap terjaga. Bukan emosi semata.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;“Mulai sekarang katakan pada dirimu bahwa kau memang sungguh-sungguh mencintai gadis itu. Namun saat ini, hari ini, kondisi tidak memungkinkan untuk dirimu dan dirinya bisa saling melepas rindu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar, kala itu nasihat teman saya teruji ampuh. Rindu saya langsung sirna. Hilang. Berganti entah apa namanya. Akan tetapi, selang beberapa menit kemudian, rindu itu pelan-pelan datang lagi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Medan, 18 Maret 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-3935014397917374119?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/3935014397917374119/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/03/belajar-menidurkan-rindu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/3935014397917374119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/3935014397917374119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/03/belajar-menidurkan-rindu.html' title='Belajar Menidurkan Rindu'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-1053921235726496932</id><published>2009-03-15T23:04:00.000-07:00</published><updated>2009-03-15T23:09:45.361-07:00</updated><title type='text'>Misteri Kelengangan Epri Tsaqib</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh : Sukma &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a&lt;span style="font-style:italic;"&gt;da ruang kosong di hatiku&lt;br /&gt;yang selalu menunggu KAU isi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi selama ini &lt;br /&gt;sesungguhnya aku lupa&lt;br /&gt;pintu ruang itu selalu terkunci&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kuncinya tertinggal&lt;br /&gt;di rumahMu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada rasa yang berbeda dari puisi karya Epri Tsaqib yang berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ruang Kosong&lt;/span&gt; tersebut. Rasa itu tidak sendiri. Epri Tsaqib seolah ingin mengenalkan sebuah misteri yang dirasanya, dipikirkan serta ditemukannya. Walau sebenarnya misteri itu tidak selamanya bernilai misteri. Malah pun sesudahnya ketika sesuatu dilabelkan misteri, pasti lah ada misteri lain di dalam kata “misteri” itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ruang Kosong &lt;/span&gt;di atas misalnya, kekosongan yang hendak dikenalkan Epri memberi semacam argumentasi bahwa apa sebenarnya yang ruang kosong itu. Kekosongan yang menimbulkan ruang itu menjadi kosong serta kondisi dimana kekosongan itu lamat-lamat mengarah pada sebuah objek bernama hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sepertinya kekosongan ruangan bernama hati itu tidak pula dialami Epri dalam sajaknya kali ini. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Berdiri di antara 3 jembatan/sepotong kain putih tanpa kancing/sebuah buku diari/sesobek alamat/ dan petunjuk jalan&lt;/span&gt;. Adalah isi sajak baru berjudulkan Kematian 4 turut pula makin memperjelas kekosongan tempat itu dalam ruang bernama hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentulah hubungan yang jelas antara hati dan kematian tidak bisa disepelekan. Rasa yang dimiliki hati, penilaian yang dimiliki hati tentang mati dan kematian bukanlah hal yang bisa dirumuskan dalam sebuah perdebatan tanpa makna. Justru mati dan kematian adalah sahabat hati yang paling dekat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mumpung ruang kosong bernama hati itu belum benar-benar dihancurkan, maka sepertinya Epri hendak mengkisahkan betapa gelisahnya hati tatkala ia kosong, tatkala ia sepi dan tatkala itu pula misteri mulai muncul. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, itu pula &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ruang Lengang&lt;/span&gt; yang hendak Epri paparkan dalam antologi sajaknya terbitan Pustaka Jamil pada Juni 2008 lalu. Kelengangan yang berbuih pada sajak-sajak telah mengental dalam diri Epri (mungkin) terutama hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia-nya seolah menikmati perrsenggamaannya dengan lengang layaknya ruang kosong, mati dan misteri.   Hanya saja, dalam sajak berikutnya Epri makin tak gamang menunjukkan kesetiannya pada lengang untuk terus ditimang-timang dalam hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tiup lilinmu, nak&lt;br /&gt;Ambil nafas&lt;br /&gt;Sisipkan sebaris doa&lt;br /&gt;Untuk teman-temanmu di luar sana&lt;br /&gt;Yang tak bisa tidur&lt;br /&gt;Karena lapar&lt;br /&gt;Malam ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiup lilinmu, nak&lt;br /&gt;Ayah titip adikmu&lt;br /&gt;Jaga ibu&lt;br /&gt;Jangan buat airmata dukanya &lt;br /&gt;Tumpah karenamu &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sajak bertajuk &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tiup Lilinnya Nak &lt;/span&gt;pun memberikan penjelasan yang tiada berbeda jauh sebagai simbol pengharapan Epri. Simbol itu berwujud pada ulang tahun. Pada pesta kecil yang tiap tahun terbiasa digelar. Bukan pestanya, bukan hadiahnya, bukan lilinnya, bukan pula hari ulang tahunnya melainkan sebaris doa yang diselipkan Epri pada anak-anak sajaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengharapan dan doa merupakan simbol dari pesta kecil bernama ulang tahun. Padahal jauh dari itu, penyair tidak jengah meletak lengang diantara harap dan doa itu. Lagi-lagi semua tetap bermuara pada titik kelengangan yang akhirnya melebur menjadi sebuah misteri yang terus dikumpul Epri di dalam hatinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menimbang-nimbang tentang kelengangan sepertinya Epri tidak mau sendiri. Kelengangan itu selalu saja dia temukan dimana hatinya berada. Jauh dari itu semua, harapan akan kelangan jatuh pula pada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Perjalanan Celanadalam&lt;/span&gt;¬-nya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Setelah berkelana kesana-kemari/celanadalam itu merasa lelah, ia begitu rindu ingin pulang. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sajaknya yang satu ini, penyair lebih memilih ruang lengang lewat pemotretrannya terhadap apa yang biasa disebut kegundahan sosial. Kaca mata sosial lebih banyak berucap macam-macam tentang perjalanan panjang celana dalam. Di angkot, di pasar, di mall, di ruangan terbuka, di ruang sempit, di taman, di kantor-kantor dan kesemuanya itu membikin ruang kosong Epri makin terasa kosong. Pantas saja, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;pintu ruang itu selalu terkunci/kuncinya tertinggal/di rumahMu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci itu yang tak pernah atau sederhananya kita tak mau menemuinya. Bilanglah  Epri, saya, kalian dan si pemilik celana dalam selalu alpa merasa ruang kosong itu tetap tidak pernah untuk diisi. Dalam sajaknya ini Epri menautkan satu dengan lainnya sebagai sebuah keadaan dimana kita telah jengah, kita tengah bosan mencari, menemukan kunci yang ada di rumahNya untuk kemudian mengisi sesuatu di dalam ruang kosong itu. Atau malah sebaliknya, ruang kosong itu, menurut Epri, kita tidak pernah merasakannya sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, bisa jadi Epri tidak hanya memberi jejalan emosi yang menuntutnya untuk terus gelisah dengan kekosongan hatinya. Melainkan dalam konteks &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Azan Jum`at&lt;/span&gt;, tentulah sajak ini lebih dari sekedar kritik belaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;PintupintuMu terbuka&lt;br /&gt;Sajadasajadah tergelar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;:menunggu kening-kening angkuh. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan betapa gelisah, kekosongan hati, kematian, dan misteri tetap dituangkan Epri terhadap satu penghambaan yang teramat dahsyat sebagai sebuah tawaran yang tidak main-main. Kening-kening angkuh masih saja setia dirindukan oleh sajadah-sajadah lusuh yang tiap kali kit memasukinya akan terbentang sebuah misteri baru dalam kekosongan hati yang terus berharap diisi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kumpulan puisi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ruang Lengang&lt;/span&gt; kali ini, justru tidak pernah sepi dari elaborai Epri terhadap bentuk sajak-sajaknya yang padat dan meriah terhadap ragam pemaknaan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aku berlari pada puisi/lalu kami saling mengurai nyeri/dan begitu sibuk mengumpulkan air mata&lt;/span&gt;. Permainan Epri dengan sajak-sajaknya membuat sebagian orang terus merasakan kelengangan yang dikemasnya secara memesona. Nyata sudah perihal air mata, mengurai nyeri, berlari pada puisi adalah semenanjung konflik hati yang lagi-lagi tiada luput dari misteri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah hati !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketenangan batin dalam sosok hati makin mantap diminati siapa saja. Selain Epri, ternyata apa yang ditulisnya saat ini juga mengupas tampilan umum bagaimana hati-hati kita hari ini terus merindukan kedamaian yang diseret Epri dalam kelengangan tanpa tepi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun wajah ibu selalu menjadi sorotan penting dalam R&lt;span style="font-style:italic;"&gt;uang Lengang&lt;/span&gt; kali ini. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Engkau adalah jutaaan dongeng/yang mengantarkan malamku dari bintang ke bintang&lt;/span&gt;. Siapa saja, apa saja, dan dimana saja selalu saja dijelaskan Epri sebagai perwakilan rasa yang diramunya menjadi sebuah sajak-sajak penuh kekhasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak menumpuk pada satu titik. Apa yang dipandang, dirasa, dilakukan, dan dipikirkan selalu penting untuk dinamai Epri dengan kelengangan. Dan itu, tentunya menimbulkan efek misteri bagi siapa saja yang merindukan iklim kelengangan seperti dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelahnya, selamat menikmati misteri yang dikemas Epri dalam sajak-sajak lainnya bernama &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ruang Lengang&lt;/span&gt; itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-1053921235726496932?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/1053921235726496932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/03/misteri-kelengangan-epri-tsaqib.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/1053921235726496932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/1053921235726496932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/03/misteri-kelengangan-epri-tsaqib.html' title='Misteri Kelengangan Epri Tsaqib'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-358069521796069227</id><published>2009-03-15T22:59:00.000-07:00</published><updated>2009-03-15T23:03:57.245-07:00</updated><title type='text'>Menyimak Cleopatra Buatan Kang Abik</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Oleh : Sukma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pudarnya Pesona Cleopatra, inilah karya keempat Habiburrahman El-Shirazy sebelum Ayat-Ayat Cinta meledak di pasaran. Karyanya ini diterbitkan oleh Penerbit Republika pada Nopember 2005 lalu. Kang Abik, begitu beliau biasa disapa, sangat luwes menyajikan fakta dalam dunia rekaannya kali ini. Setelah beberapa buku kumpulan kisah islami penyejuk jiwanya berhasil menembus angka best seller dalam proses penjualannya. Sebut saja bukunya yang berjudul Bercinta Untuk Surga (terbitan Grenada Busur Budaya, Jogjakarta 2003), Di atas Sajadah Cinta (Basmala Press, Semarang 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (MQ Publishing, Mei-Bandung 2005). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kang Abik memang terkenal dengan ikon “Cinta” dalam tiap judul yang ia bubuhkan. Bisa jadi, ini yang membuat tiap karyanya begitu menggoda. Bukan hanya membius kalangan anak muda, ibu rumah tangga, pekerja kantoran, hingga para ulama juga turut menikmati suguhan demi suguhan karyanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya pula, Pudarnya Pesona Cleopatra juga mampu menyamai Ayat-Ayat Cinta yang meledak di pasaran hingga mengalami cetak ulang beberapa kali. Buku yang dikemas dalam bentuk novel mini ini terhitung hingga Maret 2007 saja sudah mencapai cetakan ke-IX. Waw.. hebat bukan !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Novel mini racikan kang Abik ini memberikan semacam pencerahan bagi para siapa saja yang begitu memuja keindahan, kecantikan, dan kemolekan fisik belaka. Layaknya Ayat-Ayat Cinta, buku keempatnya ini tidak kalah mengasyikkan dengan buku-buku setelahnya. Kita bisa meniliknya dari alur cerita yang sengaja disajikan begitu meliuk-liuk hati. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh yang diangkat dalam ceritanya kali ini mengkisahkan bagaimana seorang anak lelaki yang hendak dijodohkan oleh ibunya dengan seseorang, yang menurutnya, termasuk perempuan biasa. &lt;br /&gt;Setting tempat yang digambarkan Kang Abik sebenarnya terbilang sederhana yakni meliputi kondisi sosial masyarakat Indonesia biasa. Hanya saja, tokoh aku yang dikemas oleh penulis cukup memukau. Pergolakan batin yang cukup hebat begitu detil dipoles oleh Kang Abik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tokoh harus menolak harapan ibunya untuk menikahi Raihana yang hanya perempuan biasa. Dari keturunan orang biasa, muslimah biasa dan tiada yang istimewa dalam pandangan tokoh aku yang sengaja diciptakan si penulis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun dari hal-hal yang biasa ini, si penulis berhasil menciptakan konflik yang tiada henti untuk kita nikmati. Meski konflik tersebut menyita keresahan batin si pembaca. Maka saya sangat yakin, tulisan Kang Abik ini akan lebih mendekatkan kita pada apa yang namanya kegundahan, kebimbangan dan kepasrahan.  &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cleopatra atau Raihana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh aku yang diciptakan kang Abik begitu menggoda. Ketika ia harus membayangkan bagaimana seorang perempuan sekaliber Cleopatra, bakal menjadi istrinya kelak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tapi seleraku lain. Entah mengapa. Apakah mungkin karena aku telah begitu hanyut dengan citra gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra yang tinggi semampai ? Yang berwajah putih jelita dengan hidung melengkung indah, mata bulat bening khas Arab, dan bibir merah halus menawan. Dalam balutan jilbab sutera putih wajah gadis mesir itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tersenyum, lesung pipinya akan menyihir siapa saja yang melihatnya. Aura pesona kecantikan gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra itu sedemikian kuat mengakar dalam otak, perasaan dan hatiku.  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat itu yang diukir penulis dalam mendeskripsikan bagaimana takjubnya ia pada gadis-gadis Mesir secantik Cleopatra. Bukan seperti Raihana yang keturunan Jawa. Hanya orang biasa. Tiada menggoda hati kala memandangnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apa yang bisa dilakukan tokoh aku kala pilihan ibunya lebih memutuskan untuk ia harus menikahi Raihana, teman ibunya itu. Tokoh aku merasa dalam kebimbangan yang amat dahsyat. Di sini kang Abik tidak kewalahan dalam mengobrak-abrik hati pembaca dengan konflik yang terus-menerus dibangunnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau menurut, si adik tokoh utama, Raihana memang terlihat cantik dan baby face. Tetap saja si aku lebih menyukai gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra itu sendiri. Hmm, bukan pilihan yang gampang. Bahkan ketika khitbah hingga menjalani rumah tangga, Raihana tetap menjadi tokoh yang layak untuk terus diamati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana Raihana seorang muslimah yang taat beragama melayanai si tokoh aku sebagai suaminya dengan baik dan santun. Walau sebenarnya hati Raihana sudah menerka kalau suaminya itu sekalipun tidak pernah mencintainya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, itulah Raihana dengan karakternya. Pantas saja ibu si tokoh utama tetap ngotot menikahkan Raihana dengan anaknya itu. Karena bisa jadi tokoh si ibu yang dibangun penulis sudah didesain sedemikian rupa bahwa Raihana lah yang pantas menikahi seorang pria seperti tokoh aku tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari cuplikan dialog berikut betapa kita bisa merasakan bahwa Raihana adalah perempuan yang begitu taat dan sayang pada suaminya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati pakai apa Mas. Pakai balsem, minyak kayu putih atau pakai jamu ?” Tanya Raihana sambil menuntunku ke kamar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas jangan diam saja dong. Aku kan tidak tau apa yang harus aku lakukan untuk membantu Mas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasanya dikerokin.” Kataku lirih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu kaos Mas dilepas, ya. Biar Hana kerokin.” Sahut Raihana sambil tanggannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya. Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan yang halus. Setelah selesai dikerok, Raihana membawa satu mangkuk bubur kacang hijau panas untukku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biasanya dalam keadaan meriang makan nasi itu tidak selera. Kebetulan Hana buat bubur kacang hijau. Makanlah Mas untuk mengisi perut biar segera pulih.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, tokoh aku yang diciptakan kang Abik adalah tokoh aku yang sengaja disetting dengan karakter santun, berbudi, taat ibadah dan yang tak kalah hebatnya, kang Abik menjadikan tokoh aku sebagai orang yang sudah lama hidup di Mesir. Tentu dengan cita rasa negeri Piramid itu pula. Kekentalan watak Mesir dan Cleopatra pada tokoh aku cukup signifikan dijelaskan oleh penulis dalam novel mininya ini. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pilihan Hati yang Sulit&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya pada titik perseteruan tokoh aku yang diceritakan begitu memesona hati. Raihanah, sebagai tokoh kedua dalam novel mini ini memberi semacam asupan gizi yang tak kalah penting dari seorang manusia bernama perempuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala hati begitu bergelimang bahagia lantaran telah mendapatkan suami yang selama ini begitu diharapkannya. Namun, perjuangan Raihana tidak boleh berhenti setelahnya. Perlakukan dingin dari suami membuat ia kian pasrah bahwa Tuhan tetap memiliki skenario terbaik untuk dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raihana malah bertambah susah hatinya, meski dalam konteks susah yang dialami Raihana tidak pernah menelungkupkan rasa bosan, benci apalagi amarah untuk sang suami. Hingga akhirnya berbulan-bulan ia harus menahan diri dari pelukan, ciuman, ucapan mesra bahkan ah, hubungan intim sekalipun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tetap dalam keputusan semula, tokoh aku tak pernah letih mengkhayalkan bagaimana gadis-gadis Mesir titisan Cleopatra sanggup menikahi dirinya. Angannya tentang Raihana cuma sebatas pelengkap saja. Tidak lebih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga pada suatu ketika, kehamilan Raihana tanpa cinta, kandungannya membesar tanpa butuh kasih sayang si suami, tokoh aku tetap saja tidak membubuhkan setitik cinta untuk Raihana pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dramatis memang, namun Kang Abik tidak gagal melepaskan dirinya  dari karya yang bersifat klise. Masa usia kandungan Raihana makin uzur, disitu pula Kang Abik tidak begitu buru-buru memukul para pembaca untuk lekas memecah air mata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Abik menghadirkan konflik yang begitu mengharu-biru. Raihana meninggal bersama bayi di dalam kandungannya. Saat itu tokoh aku tengah mengikuti pelatihan di daerah puncak yang cukup jauh dari Raihana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa air mataku mengalir, dadaku sesak oleh dada yang haru luar biasa. Tangisku meledak. Dalam isak, tangisku tentang semua kebaikan Raihana selama ini terbayang. Wajahnya yang teduh dan baby face, pengorbanan dan pengabdiannya yang tiada putusnya, suaranya yang lembut, tangisnya saat bersimpuh dan memeluk kedua kakiku, semua terbayang dan mengalirkan perasaan haru dan  cinta. Ya, cinta itu datang dalam keharuanku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seketika itu, pesona kecantikan Cleopatra memudar, berganti cahaya cinta Raihana yang terang di hatiku. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh aku melembutkan cintanya untuk sang istri yang telah tiada. Meski cinta itu datang terlambat, Kang Abik seolah ingin menawarkan suguhan baru terhadap mereka yang selalu memuja cinta lewat kecantikan fisik belaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta yang dikemas Kang Abik kali ini, benar-benar menjanjikan sebuah kenikmatan dahsyat. Sebuah pengorbanan demi cinta, sebuah makna perjuangan mempertahankan cinta untuk cinta. Dan setelahnya, cinta kepada apa-apa yang dicintai akan lebih menghantarkan kita untuk kerap terdampar ke dermaga surga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kenapa kita masih juga mengotori rasa cinta itu ?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-358069521796069227?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/358069521796069227/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/03/menyimak-cleopatra-buatan-kang-abik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/358069521796069227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/358069521796069227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/03/menyimak-cleopatra-buatan-kang-abik.html' title='Menyimak Cleopatra Buatan Kang Abik'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-7906800544996643881</id><published>2009-03-15T22:56:00.000-07:00</published><updated>2009-03-15T22:58:49.637-07:00</updated><title type='text'>Sastrawan Memosisikan Diri Sebagai Dai, Kenapa Tidak ?</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C09%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Georgia; 	panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter 	{margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 3.0in right 6.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Oleh : Sukma&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Apakah beda antara sastrawan dengan dai, ulama atau dengan ustadz ?&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Kiranya itu pertanyaan yang sangat menarik untuk dijawab. Ya, tentu kalau diamati secara sepintas barangkali keduanya memiliki status yang berbeda. Namun dalam tulisan Helvi Tiana Rosa yang berjudul &lt;i&gt;Lagi, Soal Sastra Islam &lt;/i&gt;bahwa&lt;i&gt; &lt;/i&gt;keduanya kerap tidak memiliki perbedaan signifikan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Lahirnya seorang sastrawan pastilah diawali dengan sebuah proses dimana individu tersebut menekuni, memahami, mempelajari dan mengaplikasikan sastra sebagai jalan hidupnya. Hanya saja persoalannya, apakah sastrawan tersebut merasa perlu untuk mengkaji ulang nilai-nilai sastra yang ditulisnya dalam tiap karyanya tersebut ?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Tentu pengkajian ulang terhadap nilai-nilai sastra tersebut bukanlah dimaknai sebagai proses pembelajaran dalam hal tekni penyajian cerita semata. Melainkan bagaimana ruh sastra yang dibubuhkan dalam tiap karya haruslah benar-benar nyata, hidup dan ada dalam diri individu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Walaupun secara konsep hal ini tidak menjadi sebuah keharusan. Akan tetapi, bisa jadi ini pula yang menjadi titik perbedaan secara jelas antara sastrawan dan dai. Dai dituntut menyampaikan, melakukan dan berpikir secara kontekstual pemahaman keagamaannya. Ritual kedaiannya haruslah senantiasa hidup menjadi sebuah aktifitas kerohanian yang utuh.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Hal ini yang semestinya menjadi sebuah keharusan menjadikan dai haruslah tampil sempurna. Walau setiap kita meyakini proses kesempurnaan tetap ada pada siapa saja dan kesempurnaan secara menyeluruh tiada pernah kita dapati.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Nyaris tiada berbeda dengan kegiatan bersastranya para sastrawan. Harun Daud pernah menyampaikan bahwa tujuan kesusasteraan adalah untuk mendidik dan membantu manusia ke arah pencapaian ilmu yang menyelamatkan, bukan untuk membentuk manusia yang spekulatif.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Sementara tujuan dai tercipta sebagai penyampai dakwah. Secara jelasnya dakwah tentu diartikan sebagai bentuk kegiatan penyeruan kepada orang banyak tentang nilai-nilai kebenaran ilahiah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Sastra Dai, Sastra Islam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Dalam konteks ini (mungkin) dai dan sastrawan akan ditemukan pada satu titik. Walau polemik tentang sastra Islam hingga kini tetap saja tidak pernah berujung. Belum lagi secara definisi sastra Islam sejauh ini tidak memiliki standar pemaknaan yang cukup jelas. Helvi juga menjelaskan bahwa polemik sastra Islam bukan hanya pada definisi belaka melainkan lebih kepada ketidak-setujuan mengenai apa yang disebut sebagai ‘pengotak-otakan sastra’.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Letak sastrawan dan dai dalam pembahasan kali ini akan semakin kita perjelas. Namun Abdul Hadi W.M. Dalam sebuah seminar tentang sastra profetik yang menghadirkan Suminto A. Sayuti, Helvi dan Kuntowijoyo sebagai pembicara ada Mei 2000 lalu di Yogya, mengatakan bahwa sastra Islam itu ada, bahkan eksis. “Sastra Hindu aja ada, mengapa sastra Islam tak ada ?” katanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Maka peletakan mana sastrawan dan dai sudah harus semakin dikarekterkan. Dai yang secara prinsip mengambil ranah penyampaian kebenaran lewat praktik-praktik, ritual-ritual serta aneka tabligh yang dikelola secara baik dan sistematis lewat majelis yang telah jelas tempatnya. Begitu pula dengan sastrawan, bentuk kegiatan bersastra yang dikelola kerap selalu dipisahkan dengan kegiatan bertabligh yang diampu oleh para ulama dan dai itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Hanya saja dalam pembahasan kali ini saya tidak bermaskud membeda-bedakan mana profesi ulama (dai) dan mana kegiatan bersastranya para sastrawan. Berangkat dari tulisan Helvi T. Rosa sebagai pendiri Forum Lingkar Pena, sebuah wadah kaderisasai penulis muda Indonesia, yang berusaha terus-menerus untuk menciptakan iklim penulis (sastrawan) yang berlabel ulama.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Karena dalam konteks Islam, semua yang dilakukan seorang muslim sudah seharusnya merupakan manifestasi dari bagaimana aktifitas hidupnya tidak lekang dari ibadah kepada Tuhannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Inilah yang kemudian merasuk dalam kehidupan bersastranya setiap muslim. Menurut Shauqi Dhaif, sastra (adab) adalah karya yang dapat membentuk ke arah kesempurnaan kemanusiaan yang di dalamnya terkandung ciri estetika dan kebenaran.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Kebenaran yang dikemas dai sebenarnya selalu berwajah kembar dengan kebenaran yang disampaikan kaum sastrawan. Proses tampilan, teknis dan muatannya saja yang berbeda. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Inilah yang kemudian menuntut siapa saja, baik itu dai dan sasrawan, tidak perlu repot-repot menterjemahkan proses kreatif menyampaikan kebenaran secara teknis.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Membeda-bedakan antara ranah sastarawan dan dai inilah yang menuntut kita pada sebuah gerbang bernama perpecahan. Islam sebagai agama kebenaran selalu mengajarkan keuniversalan dalam hal pemaknaan aplikasi di kehidupan nyata.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Meski menurut Helvi dalam sebuah esainya, &lt;i&gt;Lagi, Soal Sastra Islam¸&lt;/i&gt; menganggap bahwa sastra Islam berbeda dengan sastra yang bersumberkan Islam. Jelas, dalam karyanya selalu saja selain tampilan dakwah yang diusung dalam tema tulisannya, jauh dari itu sastrawan tersebut harus Islam dan benar-benar memahami kontekstual Islam secara utuh.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Arahan dai dan sastrawan dalam tulisan ini memang dituju pada mereka yang masih sungkan meneruskan karyanya pada genre sastra Islam yang sejak masa Amir Hamzah telah dimulai. Sebagaimana Buya Hamka, seorang ulama dan sastrawan yang sekaligus membingkai nilai dakwah dalam tatanan yang seiring sejalan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Keberadaan Buya Hamka telah menjadikan wacana baru bagi kita bahwa dakwahnya seorang sastrawan adalah ruhnya sebagian para dai di dalamnya. Maka, bersyukurlah kita yang saat ini tengah menjalani proses keduanya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Karena sastra dan dakwah adalah serangkaian nilai-nilai luhur yang secara berbarengan menjadi sarana untuk perbaikan moral masyarakat ke depannya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span  lang="IN" style="font-family:Georgia;"&gt;Semoga !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-7906800544996643881?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/7906800544996643881/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/03/sastrawan-memosisikan-diri-sebagai-dai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/7906800544996643881'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/7906800544996643881'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/03/sastrawan-memosisikan-diri-sebagai-dai.html' title='Sastrawan Memosisikan Diri Sebagai Dai, Kenapa Tidak ?'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-6386582478547217587</id><published>2009-03-08T20:42:00.000-07:00</published><updated>2009-03-08T21:01:13.379-07:00</updated><title type='text'>Sungkem</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5CADMINI%7E1%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:Georgia; 	panose-1:2 4 5 2 5 4 5 2 3 3; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFooter, li.MsoFooter, div.MsoFooter 	{margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	tab-stops:center 3.0in right 6.0in; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;font style="font-style: italic;"&gt;Oleh : Sukma&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;font style="font-style: italic;"&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;font style="font-style: italic;"&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Kapan akan pulang, Mas ?” Nada suaraku sedikit mendesak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Belum tau, Nom ! Kemarin si Bos nawarin kerja tambahan pas mau lebaran nanti,”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Jadi, tidak sempat pulang ?!” Tanyaku makin menjurus&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Oh, jangan kuatir, aku tetap pulang bahkan sangat ingin,”&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Ada&lt;/font&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;font face="Georgia"&gt; yang mencekik di leher suaraku. Aku diam. Hening pembicaraan sekejap.&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Bagaimana kabar Nadin ? Masih suka menjerit-jerit dia ? Sudah pandai apa lagi dia ?..”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Masih terdengar suara tegas suamiku di ujung &lt;st1:city st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;sana&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:city&gt;. Ia seperti memutar isi cerita.&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Nom, kau masih di situ ?”&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“I-iya, Mas. Aku mendengar suaramu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Kau menangis ?”&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Mas Wira masih tanggap dengan urusan yang satu ini, soal tangisan aku memang tidak bisa sembunyikan darinya. Meski nyaris enam bulan sudah ia tidak lagi singgah &lt;font style=""&gt; &lt;/font&gt;ke alamat rumah. Namun tak alpa juga Mas Wira menerka seberapa deras air mataku mengalir. Yang kuingat, sebelum berangkat ke Batam lalu, disitu terakhir ia usap air mataku dengan telapak tangannya.&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Tersenyumlah, Nom ! Aku butuh senyummu sekarang. Aku pun sudah sangat rindu denganmu. Aku janji, aku akan lekas pulang. Nanti akan kubawakan manisan kesukaan untukmu, ya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Pembicaraan siang itu usai. Aku terus digerus sedih, rindu dan gelisah yang mendalam hingga membuatku tak tentram rasa. Disaat begini, air mata tentunya menjadi sahabat yang paling setia. Apalagi setelah Nadin, anak perempuanku yang pertama, mulai tidur. Lamat-lamat sepi yang tertabung dalam angan-anganku pasti mengail-ngail lagi. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Sehabis mengantarkan Nadin bertemu mimpinya, aku beranjak ke ruang tengah. Mengambil fotoku, Nadin dan Mas Wira yang tergeletak di atas lemari seukuran pinggang. Nyaris kalau sudah begini, aku seperti lupa dengan wajah suamiku. Wajah yang &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;lima&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; tahun silam menikahiku, berjanji untuk setia. Apalagi dulu ketika ayah mulai tidak menyukai Mas Wira saat ia mulai rajin berkunjung ke rumah keluargaku. Ayah sontak mencak-mencak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Maklum saja, aku memang anak perempuan satu-satunya. Entah mungkin karena itu, aku kerap ditawan oleh ayah. Hampir diterali peraturan yang amat ketat. Tidak boleh sembarang berkawan, apalagi dengan lelaki !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Lain ayah, lain pula ibu. Ibu sendiri sejak 20 tahun usiaku, ia malah sibuk mendekatkan aku dengan anak-anak Bude Ratmi, Pakde Jar, dan Mang Dur. Semuanya sibuk ibu data, mengajakku ke acara keluarga mereka, memenuhi undangan mereka. Dan herannya, ibu begitu mesem-mesem sumringah saat mengenalkanku dengan putra-putra mereka. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Hmm, Ratmi mana anakmu, si Jaka ? Ini Anom mau ketemu, katanya mau ngobrol-ngobrol. Biasalah, anak lajang !”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Ahai, ibu ! &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Aku bingung sendiri. &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Ada&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; yang lain dari gelagat ibu, padahal sejak di rumah, ibu tak pernah cerita apa-apa. Bahkan untuk kunjung-mengunjung begini. Duh, ibu ternyata punya seribu rencana. Sebagai anak perempuan, aku menyerah saja. Patuh. Takut dikira melawan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Padahal, anak Bude Ratmi, Pakde Jar, dan Mang Dur nyaris semuanya masih pada kuliah. Apalagi Jaka, SMA saja belum kelar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Begitupun soal Mas Wira, ayah dan ibu tetap tak berpihak. Memang kedatangan Mas Wira sering tak dianggap halal oleh kedua orangtuaku. Kerap mereka menganggap Mas Wira bukan orang berpendidikan dan ningrat seperti aku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Tapi bukan itu yang membuatku menabung suka dengan Mas Wira. Lain hal, aku suka dengan kewibawaannya, cara bicaranya yang bijaksana, serta keberaniannya pula. Meski berulang-kali tidak bersipaham dengan ayah kalau Mas Wira datang bertandang, ia tidak pernah surut untuk menjengukku dan mengatakan satu hal yang paling membuatku berputar-putar di hembus angin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Makin ayahmu melarang, justru itu yang kian membuatku suka datang kesini, Nom.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Juga saat aku dimarah ayah, Mas Wira malah menyatakan dirinya siap menikahiku. Ayah seperti mendengar halilintar yang mencakar telinganya, membakar dadanya dan menghanguskan seluruh darahnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Jangan kau kira saya menerima pintamu itu, hah ?! Sontoloyo, tidak kuusir saja kau semestinya sudah bersyukur. Dasar gemblong !!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Tapi, Pak. Saya sungguh-sungguh !!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Sungguh-sungguh apa ?! Mau membuat anakku sengsara, iya ?! Kerjamu saja luntang-lantung, ndak jelas begitu. Apa yang bisa kamu banggakan ?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Saat-saat begitu aku hanya bisa menangis. Menatap liar mata ayah seperti menatap mata iblis yang mengelegakkan bara nereka di dalamnya.&lt;font style=""&gt;  &lt;/font&gt;Sesekali mata Mas Wira juga memerah, tapi berbeda dengan tatapannya. Aku seperti begitu tentram melihat seraut wajahnya yang sayu ketika itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Saya punya semangat, Pak ! Semangat itu yang akan membuat saya tak henti mencintai putri bapak, Anom…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Semangat saja tidak cukup, tau !”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Tapi…”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Oh, Mas Wira !&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Ia membara membelaku. Aku makin kagum. Ini pula yang makin membedakan ia dengan lelaki-lelaki yang pernah ibu kenalkan padaku. Tidak ada yang seberani ini, setangguh ini dan setegar Mas Wira. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;font style=""&gt;            &lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;***&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Belum juga tamat mendung yang menggantung di mataku. Kadang petirnya memecahkan bulir-bulir air yang membebaninya. Kadang pun masih mengundang untuk mendung yang berikutnya. &lt;st1:place st="on"&gt;Alai&lt;/st1:place&gt;, ini semua karna Mas Wira !&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Foto itu masih di tanganku. Kubelai wajahnya yang persegi itu, senyum khasnya, barisan giginya, terang tatapan matanya. Aduh, indah nian kalau Mas Wira bisa pulang lebaran ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Maka, siapa lagi yang paling senang dibuatkan pecal pedas bercampur sate kalau sudah lebaran tiba, siapa lagi yang paling gemar mengemil peyek dan lumpia selain Mas Wira, siapa juga yang khatam merangkai ujung jilbabku hingga indah di dasar kepala saat berangkat solat Ied ke mesjid. Sungguh, cuma itu yang tidak sanggup aku mengenangnya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Hingga beberapa hari menjelang lebaran. Kabar Mas Wira tak juga kudengar sampai ke telinga. Aku pun tak tau harus menelpon kemana. Sempat beberapa kali aku menghubunginya, Mas Wira berpindah ke tempat kerja yang baru. Sudah sama bos lain, kata temannya. Tapi biasanya, setiap sepekan sekali ia pasti menghubungiku. Namun ini sudah empat pekan berlalu, Mas Wira tak kunjung memberi kabar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Aku kembali mengutik ucapan terakhir Mas Wira, ia mungkin tak sempat pulang lebaran ini. Tapi mungkinkah Mas Wira tak menyempatkan diri untuk pulang ? Benarkah ia tidak rindu dengan aku dan Nadin di hari penting begini ? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Meski beberapa kali kiriman uang dan paket lebaran tidak alpa Mas Wira mengirimnya tapi justru lain dari itu, aku sungguh butuh kehadirannya. Aku ingin kita merayakan lebaran bersama, berziarah ke makam ayah bersama Nadin, bertandang ke rumah ibu sambil menenteng ketupat dan panganan lainnya. Tapi kenapa Mas Wira tak juga menyempatkan pulang ? Apa Mas Wira sedang sakit ? Sedang kena musibah ? Tertangkap pihak polisi di pelabuhan seperti waktu silam ? Atau, ada perempuan lain yang kini menemaninya ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Ya, Tuhan ! Riak gelombang seperti apa yang menerjang pikiranku ini. Tiba-tiba saja seperti ada awan yang menimpaku, gelondongan kayu besar yang datang menggilasku. Tidak mungkin ! Mas Wira pasti baik-baik saja. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Segera kusingkap mukena yang tersangkut dipinggir pintu. Aku dan Nadin segera beranjak hendak menunaikan solat Ied tanpa Mas Wira. Beriring derai tangis yang berjatuhan di pipi, bersama pekik takbir, orang-orang sekeliling berhamburan hendak menuju fitri. Semua berbusana rapi, beriring berjalan satu keluarga. Aku mengenang Mas Wira yang tahun kemarin masih bersamaku pergi ke mesjid pagi-pagi begini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Begitupun sampai solat usai, aku tetap tak mendengar kabar dari Mas Wira. Setengah hari duduk di depan telepon sudah pun aku lakukan sekedar menunggu dering darinya. &lt;font style=""&gt; &lt;/font&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Nadin sudah berbaju baru, aku pun sama. Menunggu Mas Wira datang, memungut tangannya dan bersungkem panjang di punggung tangannya. Tapi Mas Wira kerap tak juga mengetuk pintu, memberi kejutan seperti yang sudah-sudah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Kalau belum sungkem dengan suami maka jangan dulu sungkem ke yang lain, ya Nom!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Itu pesan yang pernah diucap Mas Wira. Duhai Allah ! Aku begitu mengkhawatirkan kabar suamiku. Apa yang dilakukannya sekarang ? Mengapa ia juga tak rindu pulang ke rumah ? &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Kita kok tidak ke rumah nenek, Bu ?” Aku kembali menyeka air mata sambil mendengar Nadin bertanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Iya, kita tunggu ayah pulang dulu, ya.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Nadin mulai heran. Seperti ada yang menjerat pikirannya. Tidak biasanya wajah Nadin berubah begitu panik seperti sekarang. &lt;font style=""&gt; &lt;/font&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Jam berapa ayah pulang ?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Aku berpaling, mencoba menghindari matanya yang lembut itu. Mata yang penuh kepolosan dan mata, ai, itu jelas mata Mas Wira. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Sabarlah, pakai dulu jilbab barumu ! Kita tunggu saja, sebentar lagi ayah pulang.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Ayolah, Bu ! Aku mau ke rumah nenek,” rengeknya mulai membuatku gerah. Nadin mulai jingkrak-jingkrak. Jilbabnya dihempas, ia ngelesot berhamburan di lantai, rambutnya mulai kusut, wajahnya ditekuk, ada serat amarah yang membingkai dadanya, tidak lagi terlihat Nadin yang manis rupanya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Justru ini yang tempo hari ditanya Mas Wira. Prilaku nakalnya yang suka mengulah kalau tak berwujud pintanya, suka menjerit dan jingkrak-jingkrak. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Eh, jangan begitu. Kalau tau ayah, nanti Nadin kena marah !” Aku mengingatkannya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;“Tidak ! Ayo, ke rumah nenek !”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Alah, ini yang makin tak enak hati aku membujuknya. Ia kalau merajuk begini cuma&lt;font style=""&gt;  &lt;/font&gt;Mas Wira yang sanggup menundukkannya. Mendung di mataku kembali bergelantung. Seperti ada petir yang tak lama lagi akan mengundang hujan di mataku. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Mas Wira, datanglah ! Lihat, Nadin mengamuk lagi, hatiku bergetar.&lt;font style=""&gt;  &lt;/font&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;font style=""&gt;            &lt;/font&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;font style=""&gt;            &lt;/font&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/font&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;Medan&lt;/font&gt;&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;, 03 Oktober 2008&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;font style="font-style: italic;"&gt;Dimuat di harian ANALISA, pada Minggu, 8 Maret 2009&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;font face="Georgia"&gt;&lt;font style=""&gt;            &lt;/font&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/font&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-6386582478547217587?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/6386582478547217587/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/03/sungkem.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/6386582478547217587'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/6386582478547217587'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/03/sungkem.html' title='Sungkem'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-678387990148238575</id><published>2009-02-18T07:04:00.000-08:00</published><updated>2009-02-18T07:05:15.809-08:00</updated><title type='text'>Menimang Takbir</title><content type='html'>&lt;em&gt;Oleh : Sukma &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak, tak lagi aku kenal apa itu takbir ?&lt;br /&gt;Yang pernah menyelematkan aku&lt;br /&gt;dari rimbun suka cita&lt;br /&gt;Padahal bukan sekali dua kali aku berkunjung&lt;br /&gt;ke simpang maghrib hingga ke sudut subuh&lt;br /&gt;kelak kuingat bagaimana mengayuh sajadah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak, kenalkan ulang padaku apa itu takbir ?&lt;br /&gt;Lama sudah tak kulihat anak-anak berselempang sarung&lt;br /&gt;Berselendang mukena, membawa kitab suci hendak berangkat ngaji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak, bagaimana caranya menimang takbir ?&lt;br /&gt;Agar aku bisa bedakan, mana syukur mana kufur&lt;br /&gt;Supaya lihai menjejak tasbih sampai ke dasar rakaat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh, Mak !&lt;br /&gt;Lekaslah, ajari aku meletak takbir&lt;br /&gt;Aku sudah lupa, Mak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 04/08/08&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-678387990148238575?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/678387990148238575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/menimang-takbir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/678387990148238575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/678387990148238575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/menimang-takbir.html' title='Menimang Takbir'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-3866072396860242350</id><published>2009-02-18T07:02:00.000-08:00</published><updated>2009-02-18T07:03:01.439-08:00</updated><title type='text'>Anggrek</title><content type='html'>&lt;em&gt;Oleh : Sukma &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sudah lelah aku berdiri&lt;br /&gt;selama tujuh senja&lt;br /&gt;tidak lagi rekah anggrek itu&lt;br /&gt;sesaat kau mengajarinya&lt;br /&gt;sebulan lalu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“mungkin kurang siram atau&lt;br /&gt;mungkin tidak kena mentari,” begitu katamu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi,&lt;br /&gt;kupikir bukan itu&lt;br /&gt;karena rekah anggrekku&lt;br /&gt;sudah berpindah pada rekah senyummu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 18/2/2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-3866072396860242350?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/3866072396860242350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/anggrek.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/3866072396860242350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/3866072396860242350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/anggrek.html' title='Anggrek'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-2462163427239117619</id><published>2009-02-16T20:22:00.000-08:00</published><updated>2009-02-16T21:11:29.284-08:00</updated><title type='text'>Anak Tangga</title><content type='html'>&lt;em&gt;Oleh : Sukma&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;menuruni hatimu&lt;br /&gt;tak semudah menuruni anak tangga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sering aku terkilir&lt;br /&gt;sering aku tergelincir&lt;br /&gt;namun aku,&lt;br /&gt;tak kan memilih&lt;br /&gt;untuk segera berubah pikir&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;karena itu&lt;br /&gt;semakin anak-anak hatimu kuturuni&lt;br /&gt;semakin kutemui&lt;br /&gt;sekumpulan kupu-kupu beterbangan&lt;br /&gt;satu persatu&lt;br /&gt;bermain dan berlarian di gubuk hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;maka,&lt;br /&gt;anak hatimu&lt;br /&gt;ibarat anak tangga&lt;br /&gt;yang tak lelah aku menuruninya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 09/02/2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-2462163427239117619?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/2462163427239117619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/anak-tangga.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/2462163427239117619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/2462163427239117619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/anak-tangga.html' title='Anak Tangga'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-8010361233823429023</id><published>2009-02-05T02:25:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T02:29:40.700-08:00</updated><title type='text'>Sketsa Langit-langit</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oleh :Sukma&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Nanti sore, maukah kau menemaniku ?&lt;br /&gt;Duduk&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;di beranda senja&lt;br /&gt;Kita menanti si jingga tersenyum&lt;br /&gt;Redup dalam kenangan angan-angan kita&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;              &lt;p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;br /&gt;Nanti sore, maukah kau menemaniku ?&lt;br /&gt;Sambil memetik mawar kesukaanmu&lt;br /&gt;Ada sepenggal lagu yang dinyanyikan camar-camar beterbangan&lt;br /&gt;Di situ aku mencurahkan isi hati kalau aku sedang jatuh hati&lt;br /&gt;Lagi-lagi kau akan termenung menatap tempias awan pada serambi langit&lt;br /&gt;    Aku diam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Sementara di sana sore tetap akan jatuh&lt;br /&gt;Menghilang dalam sunyi malam  &lt;span style=""&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Garamond&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;22/10/07&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: 150%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;span style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-8010361233823429023?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/8010361233823429023/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/sketsa-langit-langit.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/8010361233823429023'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/8010361233823429023'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/sketsa-langit-langit.html' title='Sketsa Langit-langit'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-8000093452926231888</id><published>2009-02-05T02:20:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T02:24:46.919-08:00</updated><title type='text'>Ayah, Jangan Kasari Adikku</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Oleh : Sukma&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Yah,&lt;br /&gt;Jangan pukul adikku !&lt;br /&gt;Adikku tak pandai menerka pukulan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Jangan tendang adikku !&lt;br /&gt;Dia pun tidak mahir mengeja tendangan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;      &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Lalu, Yah..&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Jangan marahi adikku !&lt;br /&gt;Karena dia nyaris sunyi dari senyum&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;    &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Jangan, jangan kasari adikku !&lt;br /&gt;Karena adikku masih perempuan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Medan, 07/08/08&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-8000093452926231888?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/8000093452926231888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/ayah-jangan-kasari-adikku.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/8000093452926231888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/8000093452926231888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/ayah-jangan-kasari-adikku.html' title='Ayah, Jangan Kasari Adikku'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-5585189587665771871</id><published>2009-02-05T02:14:00.000-08:00</published><updated>2009-02-05T02:17:36.406-08:00</updated><title type='text'>Kupu-kupu Tak Berkepak</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Oleh : Sukma &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kita adalah sepasang kupu-kupu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Yang terus terbang, kemudian hinggap &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Terbang lagi dan hinggap lagi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kau dan aku ialah sepasang kupu-kupu&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kita sering menjelma menjadi mawar,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;melati, anggrek sampai ke bunga hati &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Aku ingat,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ketika kau tengah lelah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Wajahmu serasa linglung&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Napasmu naik-turun&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kemudian kuambil reranting patah&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;lalu, kududukkan kau di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;sana&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Kau ingat yang terjadi ?&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Tubuhmu tetap memaksa terbang &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;diantara sela-sela waktu &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Berkepak-kepak&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Menari-nari&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;terus terbang, terbang lagi&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;hinggap lagi, lagi hinggap&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Padahal kulihat&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;sayapmu waktu itu telah patah sebelah &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Medan&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/st1:City&gt;&lt;/st1:place&gt;&lt;i style=""&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;, 28/11/2008&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-5585189587665771871?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/5585189587665771871/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/kupu-kupu-tak-berkepak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/5585189587665771871'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/5585189587665771871'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/kupu-kupu-tak-berkepak.html' title='Kupu-kupu Tak Berkepak'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-222007406912145804</id><published>2009-02-03T07:18:00.001-08:00</published><updated>2009-02-03T07:18:38.989-08:00</updated><title type='text'>Gubuk Bapak</title><content type='html'>&lt;em&gt;Oleh : Sukma&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dulunya bapak orang yang taat. Ia rajin datang ke wirid-wirid kaum lelaki. Bapak dikenal orang yang murah senyum. Karena seringnya itu, tidak sekali dua kali teman-temannya pula bertandang ke rumah kami. Mak juga begitu. Ia merasa senang sekiranya bapak mulai bisa bergaul lagi. Cerita silam soal bapak memang sempat tidak mengenakkan. Bapak dianggap orang-orang sudah tak waras lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hampir tiga bulan bapak menghilang. Sepak terjangnya ia simpan rapat-rapat. Bapak tidak lagi sudi mengikut kajian fiqh atau tarikh di areal mesjid. Padahal emak tak jarang mendapati bapak hanya duduk-duduk di belakang rumah bertemankan sebotol lampu minyak di hadapannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, di belakang rumah ada gubuk setengah reok. Dulu seingatku memang aku, bang Burhan dan bapak membangun gubuk itu bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di sini, kalau sore hari kau bisa santai-santai. Dan di gubuk ini kau juga bisa mengaji.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Burhan hanya mengembang senyum melihat bapak berucap begitu. Seraya diayunkan parang ke batang bambu pas di depannya kini, ia terus saja memerhatikan belahan demi belahan yang tergolek di samping kanan dan kirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kalau malam, pasti nyamuknya banyak,ya kan ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat bertanya begitu, emak masih setia menyuapi makan siangku. Kalau tidak begitu maka mungkin di usia yang sama, aku tidak akan mungkin menelan nasi. Berlarian ke sana kemari, mengangkat batang bambu yang sudah dibelah bang Burhan kemudian meletakkanya di sisi bapak. Selanjutnya, mak akan terus mengejarku sambil menjumput nasi bercampur lauk kemudian mendaratkannya tepat di mulutku. Hal itu berlanjut hingga aku duduk di bangku SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang paling kusenangi dari gubuk bapak waktu itu tidak lain yakni duduk-duduk sore. Angin sore yang sejuk akan sering mengundang hawa kantuk yang sangat hebat. Apalagi selepas makan siang. Untuk itu, beranjak besar tubuhku, mak sering menaruh lauk, nasi, dan air putih di gubuk itu. Tahulah aku, kalau sudah begitu pasti nafsu makanku langsung bergeliat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mak hanya tersenyum kalau sudah aksi makanku bertambah semarak. Ia tidak peduli telah berapa piring nasi itu bertukar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang penting kau mau makan, Min !” Kata emak melepas senyum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun dengan bapak. Ketika petang datang, bersama sebatang tembakau, bapak asyik mengunyah goreng pisang dan secangkir kopi panas di gubuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun seiring waktu bapak sering berubah tingkah polanya. Diam merupakan teman bapak yang paling setia. Mak pun resah ketika mendapati bapak sering dipukul sunyi. Alih-alih, sandaran gubuk itu yang kerap dijadikan bapak menabung sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seorang pun paham gerangan apa yang membawa bapak pada ulahnya begitu. Seperti angin yang dirasa bapak sesaat duduk-duduk menghabiskan sore di gubuk itu. Sepi, tiada suara namun rasa sejuk kian saja memeluk tubuh damai bapak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak itu ada yang sepintas tak lazim dari cara memandang bapak kini. Ia yang dikenal orang-orang murah senyum tak lagi berani memamerkan barisan giginya yang rapat itu. Sejak beberapa orang datang ke gubuk buatan kami beberapa waktu lampau, tutur bapak mulai lain-lain. Padahal orang yang datang itu, bisa dibilang karib dekat bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sering terlihat sama kalau datang ke wiridan kaum lelaki. Namun, seminggu itu pula, obrolan mereka terlihat misterius. Di gubuk itu, akhirnya bapak banyak menghabiskan sisa malam bersama botol kecil lampu minyaknya. Kadang mereka berdua, kadang terlihat berlima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang kemudian ditakutkan emak. Dari balik jendela kamar, aku, bang Burhan dan emak sering mengintip aksi mereka mengunyah dingin malam. Kalau mereka berlima, dua diantaranya selalu terlihat terjaga. Bapak yang termasuk orang baru di kalangan mereka sering memasang tampang tunduk dan terpenjam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau yang dua diantara mereka terlihat awas, sementara itu bapak dan yang lainnya akan menggeleng-geleng, menganguguk-angguk dalam ritual yang khusyuk. Makin malam, ritual itu makin meriah. Tapi anehnya, mereka tidak terlihat lapar atau mengantuk. Sementara aku dan bang Burhan yang semula tidak tahan menahan kantuk, segera saja mengulum mimpi di atas kasur. Dan emak tetap saja memaksakan diri untuk terus memerhatikan ritual itu sampai selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada yang aneh kulihat di gubuk itu semalaman, Pak ?”&lt;br /&gt;Setelah direnung-renung, dipilih pula tanya halus dari ucap emak barusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, tidak ada ! Bapak hanya ngobrol soal ladang saja dengan mereka.” Mata bapak diliputi kebohongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jujur itu lebih baik, Pak. Ada anak-anak disini. Kalau sekedar ngobrol biasa, kenapa sampai menjelang subuh ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan bang Burhan lekas beranjak mendekat ke sisi emak. Bapak meneguk kopi yang mulai dingin sejak disuguhkan emak beberapa menit lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, bapak tidak mau bicara itu. Tidak ada apa-apa. Ayo, kalian kenapa belum juga berangkat ?” Kata bapak sambil melepas pandang ke arahku dan bang Burhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tidak sekedar disitu saja. Makin malam bertambah, makin berulah pula tingkah bapak. Bapak mulai payah ke areal mesjid. Bapak mulai jarang pula hadir di wirid-wirid malam jum`at.  Ia lebih sering mengunci diri dari aneh ritualnya kini. Itulah yang makin menambah berang emak. Sering diurung emak hawa membara itu kalau ritual aneh-aneh bapak hinggap pula ke dalam rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mak harus sabar. Jangan sekarang mak labrak bapak, nanti dia marah. Besok pagi saja ya, Mak !” Ucap bang Burhan memberi saran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau tidak ditahan-tahan mak akan langsung menghardik kesemua teman bapak yang datang itu. Sebab mereka lain-lain ulah bapak. Bukan sekedar jarang mengaji, jarang wiridan, terakhir bapak jarang pula bersentuhan dengan sajadah. Aduh, siapa yang tak emosi melihat itu. Aku pun mulai sedikit gerah dengan semua aksi bapak kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu sore, sengaja kuajak bapak bersenda gurau di dalam gubuk. Membawakannya sepiring gorengan dan secangkir kopi hangat. Lalu aku mengadu pada bapak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mau bapak menemaniku mengaji disini ?” Tanyaku cepat. Lantas bapak mengernyitkan dahi. Wajahnya merah. Ia mulai bimbang. Maka setelah itu, diamnya bapak makin bertambah pula. Ia lebih sering bersunyi diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ketika kawanannya itu datang malam-malam. Bapak terlihat melarang dengan aksi diamnya. Sejak itu pula, bilal mesjid silih berganti datang menjenguk kabar bapak. Beberapa mereka bertanya perihal bapak yang mulai jarang hadir ke mesjid apalagi wirid-wirid yang digelar. Mereka pikir bapak sakit hingga terlihat beberapa dari mereka turut pula membawa aneka buah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Untunglah, sejak Haji Purna —bilal mesjid itu— datang ke pinggang rumah, bapak mulai rajin lagi menuai senyum. Bapak diajak pula mengaji fiqh atau tarikh. Sebab itu bapak tidak pula lekas menolak. Sepertinya hawa sadar mulai datang lagi ke hati bapak. Sering rajin pula bapak hadir di wirid-wirid. Namun, sesaat aku terkenang kejadian tempo lalu, ketika bapak tidak lagi beranjak solat, tidak lagi beranjak mengaji. Bapak mulai tampak ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun setelah semua itu berlalu, bapak berangsur-angsur pulih pula. Sepinya mulai bertepi. Akan tetapi, lain pula sekarang. Bapak lebih banyak tertawa sendiri. Yah, sesekali juga bicara sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, bapak !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 2 Februari 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-222007406912145804?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/222007406912145804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/gubuk-bapak_03.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/222007406912145804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/222007406912145804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/gubuk-bapak_03.html' title='Gubuk Bapak'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-3895430491658256346</id><published>2009-02-03T02:16:00.000-08:00</published><updated>2009-02-03T02:22:57.615-08:00</updated><title type='text'>Bayang-bayang Malam</title><content type='html'>&lt;em&gt;Oleh : Sukma &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, kalau Anda melihat seorang gadis cantik. Sedang terduduk sendirian di bawah pohon asem di tengah malam yang gulita, dengan balutan pakaian yang indah di tubuhnya tiba-tiba ia melempar senyum ke arah Anda. Maka apa yang akan Anda lakukan ?&lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;"Ya, aku godain dong,” kata Herman teman sekelasku&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Eh, jangan ! Lihat dulu deket-deket. Sapa tau dia hantu. Werrr...Kan serem !!” Itu tambah Dandi, bocah penakut yang duduk sebangku dengan Herman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kamu sih memang penakut. Kalo aku, kasih coklat aja. Lalu tanya ke dia kenapa sendirian. Dan ajak dia pulang. Besoknya baru aku tembak. Dorrr...!! Kamu mau jadi pacar saya ? Begitu, Man !” Kini suara Nanda, si lelaki parlente yang paling keren gayanya diantara kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua pendapat itu berhasil aku dengarkan satu persatu. Ada yang amat semangat seperti Nanda dan Herman, juga tak kalah ciut seperti celoteh Dandi. Tapi semua itu tetap tak kugubris. Mereka memang selalu tak serius kalau bicara soal cewek. Otaknya selalu ngeres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah-sudah, kalau kalian mau, nanti malam datang ke rumahku. Kita akan ajak kencan itu cewek kemana kita mau. Tapi ingat, jangan macem-macem. Kita masih sekolah sebentar lagi ujian nasional. Setuju ?” Kataku dengan suara memberi tantangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke, siapa takut !” Jawab Herman&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Iya, aku juga tidak takut,” begitu juga dengan Nanda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mata kami menatap Dandi serentak, bocah yang dikenal paling pengecut itu diantara kami. Seolah memberi isyarat agar ia lekas memberi jawaban. Lalu dengan mata tertunduk Dandi menggeleng pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hhuuu...Kamu payah, Dan !” Kata Nanda dengan nada memburu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya, kalau satu ikut semua harus ikut. Kalau tidak, nanti aku disangka malah mengada-ada sama kalian. Bagaimana, Dan ? Kamu ikut kan?” Kataku sedikit mendesak&lt;br /&gt;Ia terdiam. Sesekali celingukan ke kiri dan ke kanan. Menatap mata kami satu persatu dengan  mantap seolah memberi sinyal agar kali ini ia diberi dispensasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, Aku mau. Asal... aku di rumah saja, ya ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak masalah !! Kalau begitu kita sepakat. Jam sebelas tepat aku tunggu di depan rumah,” aku mengakhiri perbicaraan siang itu dengan kawan-kawan di sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Antara mimpi dan tidak, tadi malam aku melihat seorang gadis cantik tengah duduk terdiam di bawah pohon asem tepat di ujung gang. Malam itu, aku melihatnya secara tak sengaja. Aku ingat betul bahwa saat itu aku baru saja pulang dari rumah Wak Nur untuk mengambil teko besar milik ibu, yang sempat tertinggal saat arisan minggu lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun tak tau mengapa ibu menyuruhku malam-malam begitu, yang kutau besoknya memang teko itu harus dibawa. Katanya, untuk dipinjam oleh anak Ibu Dar, tetangga sebelah rumah yang hendak syukuran di sekolahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sial, di jalan aku bertemu dengan gadis cantik nan rupawan itu. Dengan gaun tipis yang melekat di tubuhnya itu, kian sempurna kutatap seluruh liku-liku bodinya. Mungkin karena aku tak berani menegurnya, hingga perasaan itu yang membuatku terhukum sial. Aku sangat yakin, setiap lelaki yang memandangnya akan lekas jatuh cinta. Wajahnya rupawan bak putri raja. Juga dengan senyumnya, sungguh memikat hati. Sempat malam itu ia melempar senyum padaku. Entah kenapa malam itu pula aku tak menggubrisnya, aku langsung mengayuh sepeda dan segera tiba di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahnya cantik, kulitnya putih, dan posturnya yang semampai kian membuatku menyangka, dia tipikal perempuan ideal. Aku jadi tak habis pikir apa sebab ia begitu tiba-tiba saja menyapaku dengan senyumnya yang khas. Padahal kata orang-orang yang tinggal di dekat pohon besar itu, mereka tidak pernah sekalipun menjumpai sesosok manusia kalau malam-malam begitu, apalagi seorang perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan ! Jangan bicara soal itu, Anak Muda !” kata Pak Ngadimun, seorang lelaki tua yang tinggal di dekat pohon asem itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa, Pak ? Tadi malam saya baru saja berjumpa dengan gadis cantik itu. Saya sempat bingung, setahu saya tidak pernah ada perempuan secantik dia di kampung kita. Apalagi keluyuran malam-malam begitu.” Kataku mantap&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, aku tak mau membicarakan soal itu lagi. Aku banyak kerjaan, kau pergi saja. Ntah-ntah, kau sedang ngelantur,” tambah Pak Ngadimun dengan wajah sedikit melongos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbincangan sore itu membikinku kian semangat untuk menyelidiki siapa perempuan itu sebenarnya. Padahal, bukan cuma aku saja yang pernah lewat di bawah pohon asem itu malam-malam, tapi banyak pula anak muda kampung yang juga keluyuran di tengah malam. Namun mereka tidak pernah sedetik pun mendapati gadis cantik itu terduduk di sana. Dengan gaun indah, wajahnya bersih, dan rambutnya yang terurai. Plus melempar senyum ke arahku. Aduh, aku jadi makin pusing saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepalaku makin nyut-nyut, terus ada pertanyaan yang berjejalan ingin segera dijawab. Ada apa dengan pohon asem itu ? Siapa perempuan cantik itu ? Lantas, mengapa hanya aku yang jadi sasaran ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Her, bagaimana kalau kita batalkan saja janji yang tadi pagi?” Kataku tidak semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, ada-ada saja kau, Bud ! Mana mungkin kita batalkan, kan kau yang sudah buat janji sendiri. Atau, jangan-jangan kau pulak yang jadi takut sama cewek itu, iya ?” Herman menyeringai.&lt;br /&gt;Lantaran bingung, Aku segera mendatangi Herman untuk minta pendapat soal perempuan cantik tadi malam itu. Bukan sebab aku takut, tapi karena memang aku tidak biasa melihat perempuan cantik. Aku paling tak tahan lama-lama melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa basah celanaku nanti,” aku menjawab jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Nah ini, kau cari pekara namanya. Aku takut, kau sengaja mengarang ?” serang Herman mendadak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menggaruk kepala. Bukan karena gatal tapi makin tak tentu otakku berpikir. Herman tidak setuju dengan ideku untuk membatalkan hal itu. Begitu juga dengan orang-orang seisi rumah. Adik, abang dan kedua orangtuaku menganggap bahwa itu cuma penglihatanku saja.&lt;br /&gt;Memang sejak aku kecil, ibu pernah bilang bahwa aku sangat pendiam dengan anak perempuan, termasuk dengan Warsinah, adikku sendiri. Tidak tau aku apa sebabnya, hingga mau tamat SMA begini aku juga tak tau kenapa hal itu terjadi. Yang kurasakan cuma biasa-biasa saja. Soal cantik atau tidak aku memang secara laki-laki bisa menilainya dengan normal. Tapi soal apakah aku minat atau tidak, jelas saja tidak masuk dalam pikiranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang satu ini, aku benar-benar seperti dirasuki hawa gaib dari perempuan itu. Meski terbilang baru sekali bertemu, tiba-tiba saja aku amat tertarik mengenalnya. Itu sebab aku mengajak beberapa teman, termasuklah Dandi, temanku yang paling penakut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, hingga kini aku malah putar arah. Tak lagi berniat ingin menjumpainya apalagi menyelidiki soal itu. Tapi sekarang yang benar-benar membuatku telah gila adalah teman-temanku itu. Sungguh, ceritaku tadi pagi sudah membikin mereka sedikit edan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kok kalian yang jadi bernafsu sekali ingin ketemu dengan cewek itu. Aku malah jadi curiga sama kalian, jangan-jangan...” kataku putus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bukan begitu, Bud ! Kami hanya pingin tau saja. Kan kami sering juga lewat di dekat pohon itu. Tapi toh, tidak pernah melihat ada siapa-siapa di bawah pohon asemnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya tidak ada cerita, kau harus tepati janji ! Kalau kau tak mau, kau harus temani kami. Supaya kami bisa melihatnya juga. Siapa tau, kalau ada kau dia mau menampakkan diri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, saya sepakat itu !” Kini Dandi malah jadi berani.&lt;br /&gt;Semua mata menatap mantap ke arah Dandi. Seolah tak menyangka kalau Dandi, anak lelaki yang penakut itu tiba-tiba saja berubah berani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat mereka begitu semangat, segera muncul semangatku balik. Tidak ada rasa takut, tidak juga ada bimbang. Yang tinggal cuma rasa was-was. Tidak tahulah aku apa alasannya. Mungkin sudah tak sabar ingin kembali melihat wajahnya, menikmati senyumnya yang indah dan memandang rambutnya terurai disisir angin malam. Ah, aku jadi menghayal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan pula, kalau Anda melihat seorang gadis cantik. Sedang terduduk sendirian di bawah pohon asem di tengah malam yang gulita, dengan balutan pakaian yang indah di tubuhnya tiba-tiba ia melempar senyum ke arah Anda. Maka apa yang akan Anda lakukan ?&lt;br /&gt;Yah, setiap lelaki pasti akan tergila-gila padanya. Seperti malam ini yang kulihat di mata Dandi, Herman, dan Nanda. Mereka sudah sangat gila !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja cara mereka berdandan malam ini, aku cuma geleng-gelang saja. Mereka berbusana seperti para penjaga malam. Lengkap dengan senter dan pentungan. Sedikit sentuhan topi koplo di kepala, juga dengan kain sarung melingkat di leher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Untuk apa bawa pentungan, Dan ?” Aku penasaran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buat jaga-jaga, siapa tau itu hantu. Hi…Hi..Hi…” Balas Dandi enteng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ssstt…Jangan berpikir yang tidak-tidak ! Nanti benar-benar hantu baru nyahok…!” Herman menjawab kemudian.     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa hitung-hitungan lagi, segera aku dan yang lainnya bergegas berangkat. Hawa dingin pelan-pelan mulai menyergap tubuhku dan tubuh kami semua. Sepertinya hujan sebentar lagi akan turun, kulihat angin kencang sudah berarak hebat. Daun-daun pohon asem itu tampak berguguran menerpa tubuh-tubuh gontai kami. Kami bolak-balik melewati pohon asem itu, tapi tak ada sosok apapun yang terlihat. Apalagi wanita cantik. Sama sekali tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun tiba-tiba saja, seorang lelaki tua datang menghampiri kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngapai kalian di sini?” Kudengar suaranya berat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kami mau jumpa dengan gadis itu, Pak,” kata Herman sambil membetulkan letak sarungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebaiknya, kusarankan kalian pulang saja sebelum terjadi hal-hal yang tidak baik.”&lt;br /&gt;Aku dan ketiga temanku menatap tajam ke arah Pak Ngadimun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Memangnya ada apa, Pak ?” Nanda yang sedari tadi diam, kini angkat bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, kalian lekas pulang saja. Ini sudah malam, nanti....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gerrreebakkk....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum pun Pak Ngadimun usai bicara, sebatang kayu besar jatuh tepat di belakang kami. Aku dan yang lain kaget bukan kepalang. Sementara petir mulai berhamburan, teriakan dan cahayanya  berkelebat di atas langit. Angin terus saja kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Saya pulang duluan, hujan sepertinya sebentar lagi turun.” Pak Ngadimun segera beranjak pergi. Tanpa basa-basi, kami biarkan saja ia pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, aku dan teman-teman tetap tak surut menanti gadis cantik yang kulihat malam kemarin muncul. Jam sudah bergerak tepat pukul 00.00. Sebenarnya aku pun sudah ingin sekali pulang, tapi kalau aku yang mengajak, nanti disangka aku yang pengecut. Biar saja mereka yang mengajak pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hujan rintik-rintik mulai turun, dingin terus saja membalut tubuh kami. Tak juga perempuan itu muncul. Ah, kini aku mulai jenuh. Dengan nada pelan, aku seperti mencoba memanggilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayolah, keluar gadis cantik ! Dimana kau ? Tunjukkan wajah indahmu itu, aku sudah tak sabar melihat senyum indah darimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, tidak satupun dari kawanku mengajak pulang. Mereka tetap ngotot bertahan. Entah apa yang sekarang mereka pikirkan. Meski kulihat kaki Dandi mulai gemetaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus memanggil. Kelak gadis itu akan keluar. Sebab kalau tidak, kawan-kawan akan menganggap ceritaku kemarin hanya rekayasa belaka. Padahal sebenarnya aku pun tidak tau,  apakah gadis itu ada atau tidak? Atau benar kata ibu, itu cuma penglihatanku saja. Tapi tidak, mengapa pula Pak Ngadimun seperti menyembunyikan sesuatu dariku tentang gadis itu dan tentang pohon asem ini ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana, Bud ? Ah, aku sudah ngantuk, nih.”  Akhirnya Nanda mulai bertanya. Aku terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, jangan-jangan benar kataku, kau bohong !” Balas Herman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, aku masih saja diam. Kulihat Dandi mulai menatap wajahku seperti ada yang hendak ditanyanya pula. Aku lekas berpaling dari tatapannya. Tanpa henti mulutku tetap komat-kamit.&lt;br /&gt;Masih dengan nada pelan aku terus memanggil-manggil perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayolah, tunjukkan rupamu, Gadis Cantik ! Keluarlah !”&lt;br /&gt;Dan tiba-tiba saja, aku melihat awan gelap itu serasa menimpaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 4 Maret 2008&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Cerpen ini pernah dimuat di harian ANALISA&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rabu, minggu ke-2 bulan puasa 2008&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-3895430491658256346?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/3895430491658256346/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/bayang-bayang-malam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/3895430491658256346'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/3895430491658256346'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/bayang-bayang-malam.html' title='Bayang-bayang Malam'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-4293488093745574669</id><published>2009-02-02T00:36:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T00:40:29.823-08:00</updated><title type='text'>Kenapa Orang Cina Bisa Kaya ?</title><content type='html'>&lt;em&gt;Oleh : Sukma&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            “Di dunia ini tiada yang lebih kaya selain daripada orang cina !” Begitu Ibnu Batutah pernah menuturkan. Sepertinya kita memang harus percaya dengan perkataan Ibnu Batutah barusan. Kenapa ? Lihat saja, Indonesia yang mayoritas masyarakatnya pribumi asli tidak mampu menunjukkan taringnya dalam hal kegiatan ekonomi. Kebanyakan kita cenderung menjadi “orang kedua” yang mampunya hanya pekerja bukan pemilik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Berbeda dengan masyakat etnis Tionghoa yang bermukim di Indonesia. Mereka yang semula hanya perantau, sekarang telah mampu memegang peranan di bumi nusantara ini terutama dalam bidang ekonomi. Nuansa bisnis yang mereka dominasi kebanyakan memiliki ciri khas yang sama dan gaya yang sama pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Tidak hanya dalam hal produksi, pengadaan bahan baku, hingga sistem marketing yang sengaja mereka ciptakan telah menyeret mereka dalam satu gerbang yang sejenis pula yakni kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Untuk itu, buku karya Thomas Liem Tjoe yang hadir kali ini dengan judul Rahasia Sukses Bisnis Etnis Tionghoa di Indonesia sepertinya telah memberikan bocoran bagi kita untuk (setidaknya) belajar banyak hal dari cara orang cina meraih sukses dengan cara yang mereka miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Dalam buku ini banyak hal yang diungkap, mulai dari sejarah bagaimana orang cina sendiri masuk ke Indonesia (pada bab II) hingga trik-trik rahasia yang mereka punya untuk menjalankan roda bisnisnya (bab VI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Selain persoalan trik yang dipaparkan dalam buku ini, Liem Tjoe juga menjelaskan perihal karakter dan profil yang dipunyai orang cina dalam bisnis yang mereka gerakkan. Diantara profil dan karakter itu, orang cina memiliki semacam filosofi merasa tidak memiliki tanah air, cepat mengadaptasi bahasa dan cenderung mengikuti standar barat. Senada dengan ucapan Renald Kasali, Ph. D bahwa kesuksesan orang cina lebih disebabkan karena mereka tidak malas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Filosofi ini yang kemudian diturunkan secara monarchi pada anak keturunan mereka (hlm. 43). Hingga wajar kita lihat, bisnis orang cina cenderung dikelola oleh anggota keluarga inti secara eksklusif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Perasaan tidak memiliki tanah air dan sistem bisnis keluarga inilah yang sepertinya tidak dimiliki etnis lain di dunia ini (hlm. 45). Dari situ, orang cina lebih menghidupkan jaringan yang membuat bisnis mereka kian menyala. Nasib sesama anak perantau ini yang menjadi dasar berpijak mereka untuk terus saling membantu. Disaat bisnis yang satu ambruk, maka bisnis jaringan yang mereka punya akan cepat-cepat menopang bisnis yang ambruk tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Selain persoalan mental yang mereka miliki, orang cina kerap pula memiliki arah dan tujuan yang jelas dalam alur perjalanan bisnis mereka. Hingga ketika kegagalan menerpa mereka bukan disebabkan karena tidak tersedianya modal, salah perhitungan, timbulnya kompetitor lain tapi lebih karena tidak jelasnya arah tujuan dalam berbisnis, begitu mereka pernah menganalisis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Persoalan lain yang mendominasi karir mereka adalah sistemik elemen alam yang dipercaya membawa hoki akan hidup dan cita-cita mereka (pada bab V).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Kehokian itu lebih dititikberatkan pada simbol-simbol atau tanda-tanda yang mereka gunakan melalui alat kalender Tiongkok berupa shio. Antara percaya atau tidak, orang cina memang menaruh perhatian besar pada hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Namun jauh dari itu, elemen alam yang mereka pakai tidak lain mengajarkan mereka untuk saling cinta kasih, sopan-santun, disiplin dan kejujuran yang diwujudkan dalam bisnis mereka (hlm.57).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Begitupun buku ini banyak membeberkan rahasia sukses orang cina di Indonesia, akan tetapi, buku ini terasa kurang ketika penulis tidak memberi contoh orang cina Indonesia yang sukses dalam bisnisnya yang kemudian mampu kita dijadikan figur dalam bisnis yang tengah kita garap saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Jauh dari itu, semua buku ini terasa klop ketika bab terakhir mengungkap beberapa trik-trik sederhana yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan bisnis kita sesuai dengan 16 prinsip berbisnis Tao Chu Kung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;            Maka kiranya selain penting untuk dibaca, buku ini penting pula dipelajari serta dipahami bagi siapa saja yang ingin sesukses dan sekaya orang cina. Kalau orang cina saja bisa kaya, lantas mengapa kita tidak ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 06 Nopember 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resensi Buku ini telah Dimuat di Harian ANALISA&lt;br /&gt;Pada Rabu, 31 Desember 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-4293488093745574669?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/4293488093745574669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/kenapa-orang-cina-bisa-kaya.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/4293488093745574669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/4293488093745574669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/kenapa-orang-cina-bisa-kaya.html' title='Kenapa Orang Cina Bisa Kaya ?'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-4600593313751390574</id><published>2009-02-02T00:31:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T00:34:53.715-08:00</updated><title type='text'>Nek Maryam dan Narti</title><content type='html'>&lt;em&gt;Oleh : Sukma&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang akan meletak pilu sesaat memandang tubuh Nek Maryam, begitu biasa perempuan tua itu disapa, harus menyeret kaki kanannya yang pincang hingga bermeter-meter jauhnya. Bajunya lusuh, hitam dan tak jelas warna rupanya. Nek Maryam hidup bersanding sepi, di rumahnya yang lengang hanya ada Narti, cucunya yang baru berusia lima tahun. Setiap akhir pekan, terkadang Narti sering pula diajak Nek Maryam jalan-jalan mengeliling pajak. Dan itu yang paling membikin Narti senang tinggal bersama Nek Maryam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beli apa minggu ini kalau aku ikut ke pajak, Nek ?” Tanya Narti antusias&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maumu ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Beli boneka, boleh ?” Usulnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, itu terlalu mahal !”&lt;br /&gt;    &lt;br /&gt;Muka Narti sekejap berubah. Ditekuk dan melilitkan selembar kecewa di dalamnya. Murung pula dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, tak mau Narti ikut ke pajak !!” Tuturnya merajuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Macam orang kaya saja kau, Nar. Yang lain lah, tak ada uang nenek untuk beli boneka. Permen, roti, coklat atau ...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bo..ne..ka. Titik !!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pula yang acap kali menambah gairah Nek Maryam datang ke simpang-simpang, membawa gayung, melilitkan seikat perban di kaki kanan yang bercampur obat merah, sering mengurungkan hatinya untuk tak lekas berhenti bekerja. Macamlah ulah Narti kalau pintanya itu tak berujung nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah dulu ketika Narti ingin dibelikan baju lebaran berwarna sepadan, atasan merah, roknya merah, selendangnya juga ikutan merah. Alahai, Nek Maryam kalang-kabut menyihir tenaganya untuk kerap mewujudkan inginnya itu. Yang ngerinya, Narti akan pasang aksi tak sudi makan, tak mau mandi atau pula tak pulang beberapa hari pernah jua ia lakukan supaya Nek Maryam mengabulkan pintanya seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, apa yang bisa Nek Maryam buat kalau bukan kerja setengah mati. Nek Maryam waktunya cuma habis di bawah matahari, berharap kasihan orang banyak yang seliweran di simpang-simpang. Melemparkan semacam recehan yang kadang tak seberapa. Apalagi untuk makan saja Nek Maryam tak jarang setengah-setengah. Namun untuk urusan Narti, Nek Maryam akan setia mengabulkannya. Meski entah darimana caranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu siang Nek Maryam nyaris di hantam truk. Sebabnya tidak lain, Nek Maryam lupa kalau kala itu, lampu jalan tengah berubah hijau. Panik nian ia, bersebab pinta Narti terus memartil kepalanya. Tubuhnya tergopoh-gopoh, suara-suara penuh histeris meneriakinya, cericit ban dan sengau klakson bertubi-tubi menghujam ke arahnya. Tapi apa hendak di kata, lari Nek Maryam jauh lebih lambat ketimbang truk tersebut. Dan sudah pasti...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brakkk....!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Truk menghantam sebuah kedai pangkas yang ada di bibir jalan. Roboh sebagian isi kedai itu. Ringsek pula moncong depan truk. Syukurnya, kedai itu sudah lama tidak berpenghuni. Bukan sekedar itu, Nek Maryam pun selamat pula !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu semua tidak lain, agar lekas berwujud pinta Narti yang sudah-sudah.&lt;br /&gt;Yah, siapa lah yang mau menanggung beban derita hidup Nek Maryam. Kepling dan lurah saja tidak lagi bersemangat membantu bekal hidup Nek Maryam. Bisa dihitung pula berapa kali jatah raskin ia dapat, minyak goreng murah dibelinya, apalagi cek asam urat di puskesmas kelurahan terbilang pula nyaris tidak pernah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya Narti yang kerap diurusnya. Itu pun sejak pincang sebelah kaki kanan Nek Maryam, tak punya nyali Narti meneruskan kelas SD-nya. Syukur-syukur Narti sehat, sudah hebat kali bagi Nek Maryam menjaga Narti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah makan kau, Nar !’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudah, Nek.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dimana ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Di rumah Ruminah, pas azan tadi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Diajaknya kau ke sana atau kau yang minta ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Narti diam. Rambutnya yang ikal terus digulung-gulungnya tanpa henti. Nek Maryam marah besar kalau Narti tau ia makan di rumah Ruminah, anak kepling itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, bohong kau !!” Nek Maryam mulai pasang tampang curiga. Matanya hendak keluar, giginya gemeretak, wajahnya ikutan pula memerah. Mmhh, kalau begini Narti seolah tak bisa berpaling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pas main boneka-bonekaan. Aku cuma bilang pada Rumi, kalau aku lapar. Lalu, ibunya Ruminah mendengar dan mengajakku sekalian makan bersama dengan mereka. Itu aja kok.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau tu, ya, sudah berapa kali nenek ingatkan, jangan makan di rumah Ruminah, hah ?!”&lt;br /&gt;Narti diam. Wajahnya sunyi. Masih tertunduk. Dalam hatinya bergemuruh. Padahal, ia tak tau-menahu soal kenapa Nek Maryam melarangnya makan di rumah Ruminah. Setaunya, Nek Maryam sempat bertengkar beberapa bulan silam dengan orangtua Ruminah. Entahlah soal apa. Narti pun tak paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingatnya, Nek Maryam pernah memaki-maki ayah Ruminah sesiang bolong lalu. Nek Maryam melemparkan botol minyak lampu, karung beras dan kaleng tempat minyak makan. Mungkin sebab itu, Nek Maryam tak lagi sudi mengadu ke rumah kepling kurang ajar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kurang ajar ! Itu bapaknya si Ruminah kurang ajar, tau kau ?!!” Masih dengan tatapan nanar, Nek Maryam bersumpah-serapah ke wajah Narti. “Yang kau makan itu jatah kita, jatah orang miskin. Biar tau kau, ya, sejak dia jadi kepling tidak ada lagi jatah beras miskin, minyak lampu dan minyak makan murah untuk kita.” Narti diam. Dia tidak mengerti apa itu beras miskin, apa itu minyak murah. Yang ada dalam pikirnya sekarang, ia sudah kenyang. Tinggal menunggu selesai saja repetan neneknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jatah kita semua diambilnya !!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudahlah, Narti berharap neneknya itu lekas mengakhiri maki-makinya sekarang. Ia capek, ia pingin tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Esoknya, bisik-bisik tetangga tentang Nek Maryam dan Narti makin deras mengalir ke telinga orang-orang. Desas-desus tak sedap hinggap di pelapah hati. Bahkan santer terdengar, celoteh orang-orang menghasut Nek Maryam dan Narti harus segera angkat kaki dari tempat mereka sekarang. Itulah, kalau orang sudah tidak suka. Macam ragamnya agar kita menjauh. Seperti&lt;br /&gt;Nek Maryam kali ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa-apaan kalian, ini rumah almarhum anakku dan sekarang ini rumahku, tidak ada hak kalian mengusirku, mengerti ?!!” Kata-kata itu ia lontarkan sepulang dari meminta-minta di tepian jalan, beberapa gang dari tempat tinggalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jelaskan, apa alasan kalian mengusirku, hah ?!”&lt;br /&gt;Orang-orang diam. Beberapa dari mereka, yang sebagian besar ibu-ibu, mulai tidak banyak cakap. Hanya berbisik-bisik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, pergi kalian. Jangan datangi rumahku lagi. Sudah tak membantu, memfitnah pulak kalian. Ciihh !!” Katanya balas mengejek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gonjang-ganjing perihal ketidakamanan kampung lamat-lamat makin dahsyat terdengar. Semua gunjingan itu mengarah ke Nek Maryam dan Narti. Banyak tetangga-tetangga yang kehilangan baju aneka bentuk, mainan anak-anak hingga sampai pula pada peralatan dapur. Kebanyakan dari yang hilang itu persis dimiliki oleh Narti dan Nek Maryam sekarang. Orang-orang menaruh curiga. Mana mungkin Nek Maryam melakukan ini semua ? Tapi, kenapa barang-barang itu ada di rumah Nek Maryam ? Sebagian pula bahkan tampak dipakainya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aih, orang-orang ingin melabraknya tapi tidak kuat cukup buktinya. Perihal sakit kaki kanannya lagi, orang-orang pun mulai uring-uringan. Perbannya, obat merahnya, pincangnya, serasa dibuat-buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga Narti. Beberapa mainan seperti boneka, alat hitung, dan gambar warna-warni sepertinya mulai tampak dimainkan Narti. Pantaslah, sejak Narti memiliki itu. Seperti lambat langkahnya untuk main pula bersama Ruminah, Dorli, Parga atau Surji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iyalah, nenekku kan sekarang sudah baik. Dia rajin membelikanku mainan.” Ujar Narti penuh semangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duit darimana ? Kapan dibeli ? Dimana pula membelinya ? Kok mirip dengan mainanku ?” Tanya itu keluar dari bibir teman-teman Narti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mana kutau ?!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih seperti biasa, Nek Maryam terus beraktifitas. Kecurigaan orang-orang kian memuncak. Sudah tiada ampun, barang-barang yang hilang sudah masuk pada taraf benda-benda mahal. Siang ini, Nek Maryam berencana akan dijegal orang-orang kampung agar terjawab pertanyaan mereka perihal Nek Maryam yang melakukan ini semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetap di simpang yang sama, Nek Maryam meminta-minta dengan tampang memelas. Kakinya berjalan pincang seolah asli. Wajahnya berakting sedih bak artis sinetron di teve-teve. Tidak jarang, orang-orang yang lewat melempar receh pula ke sisi kanan dan kiri.&lt;br /&gt;Dan benar, seharian orang-orang yang menguntit macam gerak Nek Maryam mulai jengah. Mereka sudah pasrah, seolah memang bukan Nek Maryam pelakunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bagaimana, Yan ? Kita sudah seharian menunggu. Hasilnya nihil.” Kata Mang Pur, tetangga dua rumah dari Nek Maryam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya, aku juga udah capek.” Itu suara si Zul&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggulah sebentar, nanti pun kita pulang tetap tak bawa hasil kan ? Tunggu saja! ”&lt;br /&gt;Semua hening. Tampak beberapa pemuda lain sudah mulai beranjak pulang.&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, Nek Maryam beranjak juga dari simpang itu dan menuju ke sebuah warung nasi. Sengaja dibuka perbannya dan dirogohnya sesuatu dari saku pakaiannya. Sebuah handphone bertipe sederhana lihai dimainkan Nek Maryam sambil menunggu pesanan makan siangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal tiga hari yang lalu, orang-orang dibuat sibuk lantaran telpon selular kepling juga tak luput dicuri orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 07 Januari 2009&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Tulisan ini pernah dimuat di Harian GLOBAL &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pada Sabtu, 31 Januari 2009&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-4600593313751390574?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/4600593313751390574/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/nek-maryam-dan-narti_02.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/4600593313751390574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/4600593313751390574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/nek-maryam-dan-narti_02.html' title='Nek Maryam dan Narti'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-2218704685489416412</id><published>2009-02-01T23:59:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T00:29:33.282-08:00</updated><title type='text'>Bermain-main dengan Hipnosis</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SYauvnH7OWI/AAAAAAAAACg/mdD-zhQeUgE/s1600-h/hypnosis.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298114144627276130" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 138px; CURSOR: hand; HEIGHT: 200px" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SYauvnH7OWI/AAAAAAAAACg/mdD-zhQeUgE/s200/hypnosis.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;em&gt;Oleh : Sukma *&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Judul Buku : The Real Art of Hipnosis&lt;br /&gt;Pengarang : Hisyam A. Fachri&lt;br /&gt;Penerbit : Gagas Media&lt;br /&gt;Tahun Terbit : Cetakan 1, 2008&lt;br /&gt;Ketebalan : + 236 hlm&lt;br /&gt;Kategori :Non-Fiksi (Psikologi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Rilekskan diri Anda ! Bagus sekali, sekarang perhatikan titik ini, terus perhatikan dengan perlahan, sekarang rasakan mata Anda semakin berat, Anda begitu mengantuk, Anda ingin tidur, ingin sekali. Lalu makin tertidur, tidur yang dalam, dalam sekali dan tidur yang sangat nyenyak...dan tertidurlah !”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan mantra, bukan sihir! Itulah yang terjadi dengan hipnosis. Fenomena hipnosis belakangan ini sudah berubah menjadi tren yang kian diminati. Bukan hanya dari kalangan para pakar akan tetapi para profesional, ibu rumah tangga hingga para supervisor dan manajer perusahaan besar di dunia pun tak luput memakainya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak langsung, keadaan hipnosis sering pula kita alami. Semisal menonton sinetron hingga membuat kita terhanyut di dalam ceritanya, berdoa dan berzikir kepada tuhan dengan begitu khusyuknya atau tatkala sedang bermain playstation hingga Anda lupa waktu.&lt;br /&gt;Keadaan inilah yang dalam hipnosis disebut sebagai kondisi trance. Keadaan dimana kita fokus terhadap sesuatu dan ini keadaan yang cukup normal kita alami. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;The Art of Hipnosis&lt;/em&gt;, sebuah buku karangan Hisyam A. Fachri ini memberi penjelasan yang cukup kental perihal dunia hipnosis. Secara tidak sadar, kita akan digiringnya pada sebuah tidur panjang yang menenangkan. Hipnosis yang kita kenal hari ini bukanlah semacam sihir atau mantra yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang punya ritual khusus semacam perdukunan. Namun, hipnosis adalah sebuah keilmiahan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Walaupun menurut Ormond Mc. Gill, yang dijuluki Dekan Hipnosis Amerika, mengatakan “Tidak mudah memberi pengertian tentang hipnosis. Hipnosis tak ubahnya seperti listrik, sedikit orang yang bisa menjelaskannya dengan mudah. Tetapi yang jelas listriknya memiliki DAYA yang dapat dimanfaatkan.”&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dari pernyataan tersebut kita bisa memosisikan hipnosis sebagai sesuatu yang bukan mistis atau melibatkan sesuatu yang ghaib. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Keilmiahan hipnosis pun masih terus diperdebatkan sehingga cara kerjanya menuntut beberapa ilmuwan berspekulasi kalau hypnotherapy menstimulasi otak untuk melepaskan neurotransmiter, zat kimia yang terdapat dalam otak. Zat itu adalah encephalin dan endhorphin yang berfungsi untuk meningkatkan mood sehingga dapat mengubah penerimaan individu terhadap sakit atau gejala fisik lainnya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dan menurut Prof. John Gruzelier, seorang pakar Psikologi di Caring Cross Medical School, London, hipnosis berguna untuk menginduksi (menurunkan daya kerja) otak. Hal itu dilakukan untuk memprovokasi otak kita agar non-aktif dan memberikan kesempatan otak kanan untuk bekerja secara keseluruhan. Hal itu bertujuan untuk mengambil kontrol atas otak fokus pada suatu hal secara monoton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Sugesti dalam Hipnosis&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Konsep hipnosis sebenarnya adalah konsep yang sangat sederhana. Lagi-lagi, tanpa kita sadari konsep hipnosis sendiri sering kita lakukan. Seperti contoh ketika seorang ibu yang tengah menidurkan anaknya sambil ia menyanyikan lagu-lagu yang syarat dengan pesan-pesan moral. Kemudian pula, ketika Anda tengah memberikan semangat kepada diri Anda sendiri bahwa Anda adalah orang yang sukses dan berhasil dalam hidup ini. Sesungguhnya, inilah yang disebut sebagai konsep dasar hipnosis. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Letaknya ada pada penanaman sugesti yang kita sampaikan lewat ucapan secara verbal. Walaupun secara umum hipnosis sering pula bernada negatif. Kita atau lingkungan yang sering menanamkan nilai-nilai—dalam hipnosis disebut script— negatif ke dalam diri kita yang sesungguhnya kita tengah menghipnosis diri kita kepada keputusan yang negatif. Namun sebaliknya, kalau kita senantiasa meyakinkan diri kita dan lingkungan di sekitar kita bahwa kita adalah orang yang sukses dan berhasil maka script yang tertanam dalam diri akan terus bernuansa positif pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Antara Hipnosis Barat dan Timur &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring perkembangan dan sejarah hipnosis berlangsung, sebenarnya hipnosis sendiri memiliki keunikan dan karakter yang berbeda-beda. Meski belakangan, hipnosis yang dikemas secara ilmiah baru dimulai dari dunia barat seperti Prancis. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Hipnosis dalam sejarahnya sudah dimulai sejak 1734 oleh Frans Anton Mezmer. Namun kita sendiri bangsa Indonesia telah jauh-jauh lampau telah pula menjalani proses hipnosis secara tradisional. Tentu (biasanya) melalui ritual-ritual yang umum dilakukan oleh para pelaku hipnosis.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Kita sebut saja orang jawa, yang sejak sedia kala memiliki tradisi-tradisi spiritual yang telah menyita perhatian besar masyarakt jawa secara umum. Dan hipnosis sendiri adalah seni untuk memengaruhi sugesti klien. Bangsa Indonesia sendiri memiliki sugesti yang cukup tinggi ketimbang bangsa Barat yang lebih mendominasi logika dan rasio. Proses hipnosis dapat berlangsung sepanjang seorang terapis dapat mengetahui titik sugestinya. Salah satunya, keyakinan spiritual yang dimilikinya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Seorang klien akan sangat mudah masuk dalam posisi trance dan hanyut dalam posisi yang kita inginkan manakala inti sugesti kita letakkan terkait wilayah rasa dan spiritual yang kental dengan sosial budaya mereka. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Ritual mantra yang digunakan oleh hipnosis timur haruslah disesuaikan dengan sisi spiritual seseorang. Orang yang dekat dengan dunia Dinamisme-Animisme, sering kali mengolah sisi batinnya dengan ritual yang aneh-aneh.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, mantra dan ritual tersebut hanya sebagai sarana untuk mengolah batinnya. Bukan mantra dan ritual itu yang memberikan kekuatan, melainkan niat mereka yang memberikan efek sugesti dan “energi” bagi pelaku hipnosis tersebut. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Sementara hipnosis barat tidak mengenal ritual dan mantra. Hipnosis barat mencoba membuka tabir apa saja yang sebenarnya terjadi ketika seseorang terhipnosis dan bagaimana mengkondisikan seseorang dalam kondisi hypnotic. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar itulah, hipnosis barat mengembangkan hipnosis dengan berbagai teknik, diantaranya fiksasi mata, relaksasi, membingungkan dan menyesatkan pikiran. Dengan pola ini, hipnosis dapat terjadi melalui proses penurunan gelombang otak manusia (induksi) dari betha (kondisi sadar) menjadi alpha-theta (di bawah alam sadar). Dalam kondisi otak alpha-theta seperti itulah kondisi individu lebih sugestif untuk dipengaruhi. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Pada praktiknya, hipnosis barat lebih menekankan pada teknik verbal dalam menyugesti kliennya sedangkan hipnosis timur menekankan pada tiga aspek yaitu tatapan mata, gelombang suara, energi yang keluar dari jiwanya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Karena hipnosis barat cenderung menekankan teknik verbal umumnya teknik ini dilakukan dengan menginduksi klien terlebih dahulu dalam hal penurunan gelombang otaknya. Hingga terkadang si klien sering tertidur dalam kondisi ini. Pada waktu tertidur meskipun setidaknya sadar, disaat begitulah pelaku hipnotis menanamkan script sesuai dengan yang dikendaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hypnotheraphy sebagai Solusi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sigmund Freud dan banyak pakar psikogi lain menyatakan bahwa pikiran manusia terdiri dari dua hal yaitu pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Pikiran bawah sadar yang semula sudah ter-install kian seperti emosi, kepercayaan, dan kebiasaan terkadang sering tidak sejalan dengan pikiran sadar. Ternyata, 88 % pikiran bawah sadar cenderung memengaruhi sikap dan perilaku manusia ketimbang pikiran sadarnya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Dalam status kegunaannya, hipnosis tetaplah seperti pisau. Mampu digunakan untuk kejahatan namun tetap berfungsi untuk kebaikan. Sugesti yang ditanam kepada klien dapat diubah dalam proses yang lebih variatif. Inilah yang dikembangkan oleh metode hipnosis barat diantaranya hypnotherapy untuk fobia, hypnoselling, hypnobirthing, hypno for quit smoking, hypnomotivasi massal dan masih banyak lainnya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;br /&gt;Namun secara sederhana, sebenarnya kita sendiri mampu melakukan hipnosis untuk hal-hal yang positif terhadap diri dan lingkungan di sekitar kita. Untuk itu, ucapan verbal yang kita punyai akan sangat membantu menanamkan scipt bagi klien yang ada, termasuk diri kita. Maka dari itu, hati-hati dengan ucapan Anda ! Karena script itu akan mengendap dalam alam bawah sadar kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Medan, 29 Januari 2009&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-2218704685489416412?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/2218704685489416412/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/bermain-main-dengan-hipnosis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/2218704685489416412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/2218704685489416412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/02/bermain-main-dengan-hipnosis.html' title='Bermain-main dengan Hipnosis'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SYauvnH7OWI/AAAAAAAAACg/mdD-zhQeUgE/s72-c/hypnosis.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-127508674305385395</id><published>2009-01-25T07:47:00.000-08:00</published><updated>2009-01-25T07:58:29.777-08:00</updated><title type='text'>Kaus Kaki Tanpa Lubang </title><content type='html'>&lt;div&gt;Oleh : Sukma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin ia memikir tentang mimpinya itu, kejadian yang lalu, semakin pula tidak bisa lelap tidurnya. Surawa, lelaki kurus bertubuh jangkung, wajahnya petak, rambutnya jigrak terus mantap menata diri untuk tidak mahir beranjak tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa suster dan perawat sudah letih mengawasinya. Obat penenang sudah pula ditelan Surawa. Semua itu dibuat tiada lain hanya satu, supaya ia bisa tidur ! Itu ungkap seorang suster.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seorangpun sanak-saudara yang datang menjenguk Surawa tatkala sakitnya itu datang menerpa. Mak Rih, ibunya Surawa, tidak pula berani menampakkan batang hidung meski melihatnya sekejap saja. Melambaikan tangan, melepaskan senyum atau pula menanyakan kabar sehat Surawa mustahil diwujudkan emaknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah setahun Surawa mengidap penyakit yang dideritanya sekarang. Tapi cahaya kesembuhan belum pula merangkak naik dari kilau matanya. Mendung mata Surawa seperti petakan-petakan sawah yang lelap direndam hujan semalaman. Dingin. Layu dan rapuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau jadi raja. Raja yang hebat, sesuka hati memerintah siapa saja,” ceracau Surawa makin beda-beda tiap harinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, satu hal yang paling khas dari celotehnya itu kerap berisi pertunjukkan, adegan kerajaan atau pula sayembara peperangan untuk mendapatkan tahta mahkota sebagai pengganti tunggal tampuk pendamping ratu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sediakala memang sulit menerka letak dimana kesembuhan Surawa berasal. Matanya seperti menerbitkan kaca-kaca tajam beraroma tikaman. Apalagi tutur sapanya, Surawa akan ramah membentang senyuman. Kewibawaannya kalau disanjung beberapa suster dan dokter yang memeriksa sakit batinnya memang tidak bisa ditawar, pasti segera muncul. Surawa lekas menunjukkan taring kedigjayaan yang memantul dari pundaknya yang dinaikkan, dadanya yang dibusungkan serta ucapannya yang dibesarkan laksana monster yang tengah tertawa lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para suster telah mafhum akan hal itu. Tetapi beberapa pengunjung lain yang menjenguk pasien lain setidaknya menyimpan takut sesaat Surawa bertingkah ulahnya seketika. Hanya saja, beberapa dari pengunjung tidak pula menaruh curiga lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu memang ciri khas Surawa. Kalau tidak begitu bukan dia namanya,” seorang ibu memberi komentar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kasihan, ya. Masih muda kok tidak terawat begitu. Padahal cukup tampan, kan?” Ibu yang lain menambahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surawa sesekali mendengar ucap-ucap begitu dari sesiapa yang menuturkannya. Alhasil, apa yang sampai di daun telinganya membikin hati Surawa gelap rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bicara apa kalian bisik-bisik, hah ?!” mata Surawa disaat begini pastilah membesar. Bukan hanya besar namun memerah pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu-ibu yang asyik becakap itu malah memanggul takut seketika. Kalau sudah begini pastilah mereka mengatur jarak dari Surawa. Mundur selangkah atau berteriak minta tolong. Tapi diantara ibu-ibu tadi ada yang berkeliling pandang. Berharap ada suster yang singgah dan mencegah aksi gila Surawa kalau-kalau naik pitamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa ? Takut ?!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu-ibu itu makin meringis. Masih dengan mata berkeliling, mereka menangkap seorang suster melangkah ke bangsal tempat Surawa dan ibu-ibu tadi mengungkap cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian tidak sopan. Bicara seenaknya saja pada raja. Ayo, sekarang bersujud di kakiku dan minta maaf. Cepat lakukan !” Kata Surawa berteriak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daripada runyam urusan, ibu-ibu tadi mengambil langkah menurut saja. Dibungkukkan badan keduanya tepat mengarah ke ujung kaki Surawa lantas mencoba bersuara untuk melepas maaf dan tidak melakukan hal itu lagi kala raja Surawa tengah ada di dekat mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurnya, seorang suster yang semula hendak menjemput Surawa masuk kembali ke bangsal utama menyaksikan adegan itu segera. Dihentaknya Surawa keras, ditanya pula apa soal tingkah ibu-ibu yang berstatus tamu itu diperintahnya bersujud di ujung kakinya. Maka selanjutnya, dengan beberapa paksaan, beberapa perawat lelaki turut pula hadir memboyong tubuh berat Surawa masuk ke bangsal utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tunggu, Suster, mereka ini menghina saya sebagai raja. Mereka harus dihukum. Harus dihukum !!” Seraya mengamuk, Surawa berteriak-teriak hendak menuntun keadilan atas kerajaannya yang diusik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang pernah diceritakan Mak Rih, ibu Surawa itu. Surawa gelap mata tatkala tiga bulan lampau, ia sempat menghabisi nyawa bapak kandungnya. Berawal dari mimpi Surawa yang macam-macam. Kerap terwujud beralamat sakit sampai di rawat pula dirinya kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, memang Surawa tidak nyenyak tidurnya. Banyak hal yang tentu dilakukan Surawa ketika hawa kantuk belum menggodanya. Diantaranya membaca kisah-kisah keraton jawa Mataram. Tidak tau apa sebab Surawa tidak bisa lelap tidurnya. Mungkin karena Surawa anak yang tak pernah menyelipkan cita-cita di dalam mimpi-mimpinya. Justru karena itu Surawa lebih sering dihantam resah, amarah dan kecamuk bapaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari Surawa hanya dikepung sunyi, luntang-lantung saja. Dari pos ronda, merokok, main gaplek, terkekeh-kekeh, lalu pulang hanya untuk makan malam atau makan siang saja. Itu yang mengundang bapaknya naik darah lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minimal, maulah Surawa membantu mencangkul ladang mereka. Mengangkat air dari sungai untuk persedian makan dan mencuci. Atau pula sesekali menyiangi rumput untuk makan dua ekor kambing mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi alih-alih, Surawa memang tidak punya nyali melakukan itu. Serasa tak modern pikirnya, anak muda sepertinya melakukan hal-hal yang dimaui bapaknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, bapak pikir aku ini apa ?! Cukup bapak saja yang melakukan itu. Heh, aku tidak mau meneruskannya. Aku capek, Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Capek kenapa, Wa ?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, iya. Capek aku jadi orang susah terus. Entah kapan bisa makan enak. Punya harta banyak, punya kekuasaan. Mana bisa kalau cuma berladang terus toh, Pak.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oalah, Wa ! Pikiranmu itu lho. Mau gampangnya saja. Kamu saja mencangkul tidak mau, apa ya bisa jadi orang hebat kalau mengangkat air saja ndak mau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, sudahlah, Pak. Pusing aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikir Surawa, enak kali kalau bisa seperti para raja-raja yang bisanya hanya memerintah. Suruh ini, suruh itu. Makan ini tinggal bilang. Mau permaisuri cantik tinggal pilih. Itulah yang membangun angannya untuk malas bekerja. Surawa hanya punya mimpi, tapi tidak punya aksi. Laksana raja Sanjaya yang dalam Carita Pahrayangan didapatnya dari mulut orang-orang kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa buku sempat pula menjadi acuan Surawa untuk mengekalkan angannya menjadi seorang raja seperti Sanjaya, seorang raja dari kerajaan Medang-Mataram. Sanjaya memegang tampuk kepemimpinan setelah sebelumnya dipegang seorang raja bernama Sanna. &lt;a title="Sanjaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sanjaya"&gt;Sanjaya&lt;/a&gt; yang mengeluarkan &lt;a title="Prasasti Canggal" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Canggal"&gt;prasasti Canggal&lt;/a&gt;, namun tidak menyebut dengan jelas apa nama kerajaannya. Ia hanya memberitakan adanya raja lain yang memerintah di &lt;a title="Pulau Jawa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Jawa"&gt;pulau Jawa&lt;/a&gt; sebelum dirinya, bernama &lt;a title="Sanna (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sanna&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1"&gt;Sanna&lt;/a&gt;. Sepeninggal Sanna, kerajaan menjadi kacau. Sanjaya kemudian tampil menjadi raja, atas dukungan ibunya, yaitu Sannaha saudara perempuan Sanna.&lt;br /&gt;Nama Sanna tidak terdapat dalam daftar para raja model prasasti Mantyasih. Bisa jadi ia memang bukan raja Kerajaan Medang. Kemungkinan besar riwayat Sanjaya mirip dengan &lt;a title="Raden Wijaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Wijaya"&gt;Raden Wijaya&lt;/a&gt;, yang mengaku sebagai penerus tahta &lt;a title="Kertanagara" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kertanagara"&gt;Kertanagara&lt;/a&gt; raja &lt;a title="Singhasari" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Singhasari"&gt;Singhasari&lt;/a&gt;, namun memerintah sebuah kerajaan baru dan berbeda.&lt;br /&gt;Dalam cerita-cerita yang didapat Surawa inilah yang menghantarkan ia pada sebuah mimpi panjang tanpa tepi. Mimpi awalnya, Surawa didatangi banyak bintang-gemintang yang indah bukan main. Bintang itu bertujuh, saling berputar-putar di atas kepalanya. Kemudian sebuahnya berbentuk seperti mahkota raja yang memendarkan cahaya paling indah ketimbang enam bintang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, bintang bermahkota itu beradu bicara dengan Surawa. Mengatakan sesuatu yang membikin hati Surawa berubah pelangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hei, Surawa ! Tahukah kau, sesungguhnya raja Medang setelah Sanna itu adalah kau. Bukan Sanjaya. Aku tahu kau sangat ingin menjadi raja, bukan ? Sekarang saat yang tepat untuk mengabulkan itu, Surawa.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surawa masih mengerjap bolak-balik arah matanya. Merasa bahwa yang disampaikan bintang bermahkota itu adalah lanjutan dari kisah Pahrayangan yang dibacanya beberapa waktu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kaulah raja itu, Surawa. Bukan sanjaya ! Yang ada hanya dirimu yakni raja Surawa,”&lt;br /&gt;Setelahnya, Surawa sadar. Gelap pandang matanya. Namun hatinya berlinang cahaya. Surawa bangkit dan seolah yang dialaminya itu bukanlah mimpi. Begitupun keesokan harinya, Surawa dihadiri lagi bintang-gemintang seperti yang sudah-sudah. Hatinya makin tak tentram saja. Yang paling membikin Surawa heran, pesan terakhir bintang bermahkota itu kerap aneh-aneh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika ingin menggantikan Sanna sebagai raja. Maka ada satu syaratnya, Surawa. Kau harus membunuh ayahmu yang pengecut itu. Karena ayahmu itu yang menghalangi mimpimu menjadi raja. Karena ayahmu pula, kau sering diperlakukan tidak adil. Maka, bunuhlah ayahmu, Surawa. Bunuhlah !!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak tau Surawa perihal benar-salah mimpi itu. Surawa benar-benar sudah ditikam angan yang membikinnya gelap mata. Apalagi teringat Surawa pada aneka makian yang sering diterimanya tatkala pulang ke bilik rumah. Makin tak ayal setelahnya, Surawa terus menabung dendam pada sang bapak dalam-dalam. Diambilnya langkah mantap ke ruang belakang, diselipkan pula sebilah sabit yang menempel di dinding rumah ke dalam saku bajunya. Kini, Surawa siap memenggal leher bapaknya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi ? Terang saja, Surawa melakukan itu dengan penuh seksama. Tanpa rasa tega, tanpa ucapan basmalah, lepas sudah kepala bapaknya itu dibuat Surawa bahkan menggelinding pula hingga ke kolong kasur. Maknya menjerit sangat histeris. Mengguncang tubuh jangkung Surawa agar sadar dari prilakunya barusan. Pintu-pintu tetangga digedor maknya. Semua heran, panik minta ampun. Dikejar juga maknya itu dengan posisi sabit masih di dalam genggaman. Namun, maknya masih berhasil menyelinap ke rumah seorang tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai kejadian itu, Surawa dipasung kaki-tangannya oleh orang-orang kampung. Ia dianggap terguncang mental. Sering Surawa senyum-senyum sendiri. Lagaknya bertingkah seperti raja. Aneka bintang-gemintang yang datang lebih dianggapnya sebagai para dewa yang menitiskan tahta kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu Surawa makin gagah saja bawaanya. Di dalam sebuah bangsal rumah sakit, Surawa tak henti menggagungkan diri. Seorang pasien dalam bangsal disuruh memijit kakinya, seorang yang lain memberikan air minum untuknya. Begitu Surawa memasang aksi sesaat para suster tidak segera memeriksa bangsal-bangsal mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi kalau malam sudah meregang. Surawa akan setia menunggu bintang-gemintang itu datang. Menghadiahkannya sepotong mahkota, lalu berharap dijingkat sebuah tahta untuknya menjadi pengganti Sanna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku lah raja Surawa itu. Aku lah pengganti Sanna. Tidak ada yang bisa menggantikan tahta itu walaupun seorang Sanjaya. Aku kini, raja Surawa !”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heh, jangan ribut. Ayo, lekas tidur !”  Begitu ucap suster penjaga bangsal mengingatkan Surawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat beberapa pasien sebangsal dengan Surawa, semua sudah rapi menutup selimut hendak menjemput mimpi. Sementara itu, Surawa tetap kewalahan, masih tak pandai dirinya memakai kaus kaki yang sebenarnya tidak berlubang lagi di kakinya kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 25 Januari 2009&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-127508674305385395?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/127508674305385395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/01/kaus-kaki-tanpa-lubang.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/127508674305385395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/127508674305385395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/01/kaus-kaki-tanpa-lubang.html' title='Kaus Kaki Tanpa Lubang '/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-6826960826618547300</id><published>2009-01-25T04:49:00.000-08:00</published><updated>2009-01-25T07:35:10.258-08:00</updated><title type='text'>Weni</title><content type='html'>&lt;em&gt;Oleh : Sukma&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kutau nama gadis itu adalah Weni. Usianya lebih muda setahun dariku. Itupun kutau saat tadi pagi ada kumandang pengumuman dari toa mesjid bahwa gadis itu sudah beralamat mayat. Dipanggil Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang, sudah tau kak Weni meninggal ?” Tanya adikku, Fira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku manggut. Pun sebenarnya kabar itu yang membuatku terbangun subuh tadi. Tahulah aku, kalau subuh itu kumandang azan sangat berisik. Mengusik telingaku yang asyik dengan balutan mimpi. Apalagi tak satu mesjid yang bersuara. Hampir belasan, suara itu menggema, saling bersahutan berputar-putar di atap kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tak jarang aku sendiri kaget mendengarnya. Dan sekejap lalu, aku akan tertidur lagi. Entah kenapa dengan pagi ini, kabar tentang Weni meninggal membuatku tak lekas kembali tidur. Menarik selimut lantas berulang menyambung mimpi. Kemudian subuh akan terselesaikan kalau emak sudah bolak-balik menggebrak pintu kamar. Sebagai tanda bahwa terang sudah datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Abang tidak melayat dulu ?”Tanya Fira kemudian&lt;br /&gt;Aku diam, masih mantap anganku mengingat tempo hari aku menyiram Weni dengan air. Membuatnya basar sekujur tubuh lalu dengan seketika dia tak marah bahkan terkekeh dengan mata sayunya itu. Bukan maksudku sengaja serius melecehnya, ketika segelas air kubuang dari ambang pintu dengan sekedarnya saja lalu dengan tubuh bongsor dan berat, Weni lewat tanpa pamit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terkejut, kalau sudah begitu aku akan sangat takut. Betapa tidak, seperti yang lalu-lalu ketika siapapun mencoba melecehkan Weni maka dengan langkah sigap Mang Warno, pamannya itu akan langsung membidik mata kita dengan seayun bogem mentah dari arah belakang Weni. Ya, seayun bogem mentah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bang...! Kok ditanya malah ngelamun. Abang melayat tidak ?!” Suara Fira makin keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya, aku melayat,” jawabku padat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fira memang begitu. Sebetulnya kutau dia yang sangat ingin pergi melayat, biar ada kawannya kalau ia berhasil mengajakku pergi takziah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus menguras tabungan angan-anganku yang kusimpan tentang Weni. Gadis bermata sayu itu tak heran bila sering dikata-katai, diejek dan juga jadi bahan tertawaan anak-anak kecil di sekeliling rumahnya. Sebabnya, tidak lain karena Weni perempuan jorok dan tak lihai merawat diri. Bukan tak jarang ia menyimpan tahi mata di sudut-sudut matanya yang beku itu. Bicaranya menganga dan sesekali ditambah dengan cengenges tak karuan. Juga soal, tindak lakunya. Tentu Weni bukanlah perempuan normal yang bisa diajak bermain. Terus dengan jalannya yang sempoyongan itu anak-anak akan sering menyebutnya; Leni gendeng !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi suaranya yang serak dan berat. Ditambah lidah kelunya tak cecah mengucap huruf R dan L. Itulah Weni, gadis yang satu tahun lebih muda dariku. Untung saja ia masih punya seorang ibu yang setia merawatnya hingga kini. Masih tak heran bila gadis itu mesti disuapi bila hendak makan, sesekali sering pula ngompol kalau tidur malam. Walau sudah berulang kali sanak keluarga menghampiri para dukun, dokter, psikiater atau apalah namanya agar sembuh jiwa Weni kerap terlaksana. Bahkan tak cuma itu, ia sering pula ditanyai “nomor” untuk kali-kali angka pada buku sakti para penjudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang tembus, ada pula yang tidak. Lalu besoknya bagi yang tembus akan segera menyalami Weni dengan segulung uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Buat jajan ya, Wen.” Begitu kata mereka yang kena nomor bidikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya malang yang tak pernah diundang kini kunjung datang. Dua minggu setelah ibunya mendekap maut, Weni seperti tak punya lagi kata ceria di wajahnya. Sering ia melamun sendiri, ia tak suka lagi makan tanpa ada ibu yang menemani. Sering kak Juwita, kakak kandung Weni mencoba mengadu ke para famili hendak bercerita kabar Weni yang tak sudi lagi makan sendiri, tidur sendiri juga mandi sendiri. Ia akan mau, kalau almarhumah ibu yang menemani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Weni harus makan, Dek. Kalau tidak nanti Weni bisa sakit,” bujuk kak Juwita saat aku tak sengaja lewat di depan rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata sayunya seperti digantungi ribuan beban yang tersangkut pada bulu-bulu matanya. Berat dan beku. Ia menatap bumi seolah ingin menikam-nikam tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat juga aku teringat ketika bulek Yem, ibu kandung Weni itu dimakamkan di pemakaman warga di ujung kampung. Semua pelayat termasuk aku mengisak tangis tak kunjung usai. Melihat Weni, si gadis gendeng itu sesekali berteriak ingin melihat hendak dibawa kemana sang ibu pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lazimnya orang normal, Weni tak sudi melihat sang ibu dibawa entah kemana. Rasa khawatir dan takut bergelayut dalam benaknya. Tentu, ia merasa orang-orang telah berniat menculik ibu darinya. Hingga saat itu tiba, tetap saja Weni taklah paham apa itu mati ? Dan apa itu pemakaman ? Kulihat ia menangis sangat hebat. Tidak seperti biasa, saat ia harus menangis waktu muncul hasratnya ingin dibelikan boneka barbie berwarna merah hati saat musim lebaran tiba. Aih, tiba-tiba saja aku bergidik melihat tangisnya yang kian menjadi itu. Sungguh, adegan itu membuat para pelayat tak sanggup mencegah aksi gendeng Weni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangan bawa ibuku...! Jangan !” Teriakan itu bukan lagi teriakan yang main-main. Pun ketika ia diejek, dihina, dikata-katai tak pernah amarahnya sedahsyat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang umurku genap 22 tahun, berarti Weni sudah 21 tahun kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cepat, Bang. Nanti Abang terlambat ke kerjaan,” suara Fira masih menggangu anganku. Kulihat kini ia sudah rapi, berdandan hendak menjenguk jenazah Weni. Serasa aku masih tak lepas mengupas kembali anganku tentang gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga tidak sampai situ, dengan berat langkah wak Dullah, bilal jenazah di kampung itu mengizinkan pula Weni turut hadir dalam acara yang sebenarnya menurut agama tak boleh anak perempuan dan ibu-ibu ikut menanam jenazah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biarkan saja dia ikut tapi kalau jenazah sudah ditanam.” Kata wak Dullah memberi saran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya bisa melihat. Sebagai tetangga aku memang tak banyak tau soal keluarga Weni. Yang kutau, ibunya meninggal memang sudah banyak penyakit yang hinggap ke alamat badan. Tidak tau apa sebabnya, padahal umur ibunya tak kalah jauh dengan umur ibuku. Sama-sama sudah tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itulah maut, Dar. Hidup dan mati tak tau kita kapan akan datang. Makanya, kau jangan sombong ! Bisa-bisa kau yang lebih dulu mati ketimbang emak.” Itu kata emak saat aku bilang padanya bahwa umur mereka saling tak jauh beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, emak ! Kok jadi nakut-nakuti, horor, ah !” Balasku sambil seloroh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menggelar tikar di tepi makam, wak Dullah pun turut memulai doa sebagai penghantar kepergian ibu Weni menghadap ilahi. Weni hanya tercengang, matanya basah. Aku melihat mendung yang dalam pada wajahnya. Mendung yang selama ini tak pernah aku dapati meski ia diejek, dihina, dan dikata-katai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi ibu ditanam disini, pintu masuknya darimana, Kak ?” Tanya Weni pada kak Juwita, kakak kandungnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Juwita hanya diam. Tangisnya yang tak henti membuatnya tampak tak bisa menjawab, cuma sesekali ia mengusap kepala Weni pelan-pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitupun seminggu setelah kematian sang ibu. Weni jadi jarang makan, tak suka jalan-jalan juga lebih suka sendirian. Lengkap sudah penyakit melekat pada tubuhnya, begitu kira-kira dokter berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tidak ada ibu, Weni gak mau ngapa-ngapain,” ketus Weni kalau ditanya soal diamnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, aku sudah hadir di tengah-tengah para pelayat lainnya. Segera dalam hati aku tak lagi berniat masuk kerja. Kasihan, pikirku. Weni dan keluarganya terbilang tetangga baik, dan rumah mereka cukup dekat dengan rumahku. Aku melihat Fira masuk ke gerombolan para pelayat wanita. Menghampiri sejenak ke dekat kak Juwita. Kulihat kak Juwita tak henti menangis. Matanya sembab, ia seperti terjerambab dalam lubang dosa, lantaran tak pandai merawat Weni yang tak sempurna jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti jauh dari harapan mereka sekeluarga, kata para pelayat, Weni itu kelorong. Orang-orang jawa biasa membilang itu, seperti tersiksa batin akibat kehilangan orang yang dicintai. Lantas, dengan segera orang yang dikenai kelorong akan lekas ikut beralamat duka seperti orang yang dipikirkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat aku tak percaya soal itu, pikirku itu hanya kata orang-orang kampung yang tidak punya alasan kuat untuk memberi jawaban atas kematian Weni yang terbilang cepat. Ya, cuma empat bulan berselang. Weni pun menjemput sang ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu juga dengan ayah dan adik-adik Weni lainnya. Meski selama hidup selalu meresahkan dan merepotkan. Namun dengan kepergian ini, Weni seolah jujur bahwa memang ia tak ada guna hidup di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat sepertinya sebentar lagi jenazah Weni akan dibawa ke pemakaman. Hanya beberapa orang saja yang turut dalam acara itu. Ada kak Juwita, ayah dan adik Weni juga tak ketinggalan wak Dullah turut bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, di pemakaman ini ibu Weni dikebumikan. Tak lama berselang tubuh berat Weni sebentar lagi akan diletak pula, bersebelahan dengan pusara sang ibu. Para tetangga pun sempat menaruh tangis yang mengucur saat jenazah Weni ditimbun ke dalam liang. Namun dari arah belakang, entah siapa itu, ada yang bilang disaat Weni jatuh sakit ia ternyata sudah pandai menghapal fatihah. Entah siapa yang mengajarinya. Padahal, Weni yang kutau tak pernah mengecap bangku sekolah walau di sekolah luar biasa sekalipun. Namun yang mengherankan, Weni bilang kepada kak Juwita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibu yang ngajari Weni hapal fatihah, Kak.” Dengan bacaan yang gagap, gadis yang usianya setahun lebih muda dariku itu seolah memberi jawaban yang tak masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bingung, menggeleng kepala dalam dada. Sungguh, tiba-tiba aku lihat tanah Weni dan ibunya saling beradu. Bergelombang dan bergetar. Ada suara yang berdetak-detak dalam makam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Serrr !!!” Dan aku seketika merinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 20 Februari 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dimuat dirubri REBANA-Minggu Harian Analisa&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pada tanggal 9 Maret 2008&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-6826960826618547300?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/6826960826618547300/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/01/weni.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/6826960826618547300'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/6826960826618547300'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/01/weni.html' title='Weni'/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6757067173332083354.post-4565131560925448934</id><published>2009-01-22T07:52:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T07:54:25.134-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;strong&gt;Cerita Kancing Baju&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;&lt;em&gt;Oleh : Sukma &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada kancing bajuku di bajumu&lt;br /&gt;Yang pernah mengikat rindu kita jadi satu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ada kancing bajuku di bajumu&lt;br /&gt;Hingga warnanya kini berubah abu-abu&lt;br /&gt;Kadang merah jambu&lt;br /&gt;Kadang pula kuning kelabu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada kancing bajuku di bajumu&lt;br /&gt;Tapi, kemarin…&lt;br /&gt;tak kulihat lagi rindu itu terkancing di bajumu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Medan, 14/08/08&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6757067173332083354-4565131560925448934?l=surau-aksara-madani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/feeds/4565131560925448934/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/01/cerita-kancing-baju-oleh-sukma-ada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/4565131560925448934'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6757067173332083354/posts/default/4565131560925448934'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://surau-aksara-madani.blogspot.com/2009/01/cerita-kancing-baju-oleh-sukma-ada.html' title=''/><author><name>Surau Aksara</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03057635795075525316</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_oZVbMF9WyRE/SZo4oyQ8SoI/AAAAAAAAACw/ouY24dftETo/S220/Sukma+Foto+Style.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
